BANYUMAS – Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, K.H. Zuhrul Anam Hisyam, menegaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama peradaban (dinul hadarah) dan kemajuan (dinut tamadun). Hal tersebut disampaikan beliau dalam sambutannya pada acara Seminar dan Sharing Session bersama penulis novel Hati Suhita, Ning Hilma Anis, di Auditorium Ma’had Aly Andalusia. Dalam sambutannya, kiai yang akrab disapa Gus Anam ini menyoroti pentingnya literasi, membaca dan menulis, sebagai kunci utama kebangkitan umat manusia.
Gus Anam mengawali sambutannya dengan mengutip pandangan intelektual dari salah satu ulama besar Mesir, Prof. Dr. Hamdi Zaqzuq, mengenai wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. Beliau menekankan bahwa perintah Iqra (bacalah) dan penyebutan Al-Qalam (pena) dalam Surah Al-‘Alaq bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tombak utama kemajuan.
“Ayat pertama yang turun kepada umat ini adalah ayat kemajuan. Di tengah komunitas bangsa yang saat itu ummi (tidak memiliki tradisi literasi), Allah langsung menyebut dua hal yang merupakan miftahul hadarah atau kunci peradaban, yaitu al-qira’ah (membaca) dan al-kitabah (menulis),” ujar Gus Anam di hadapan ratusan santri yang hadir.
Beliau menambahkan bahwa melalui kekuatan literasi inilah, dalam waktu singkat (22 tahun, 2 bulan, 22 hari), bangsa Arab mampu bertransformasi menjadi khairu ummatin ukhrijat linnas (umat terbaik) yang memimpin peradaban dunia.
Kehadiran Ning Hilma Anis, penulis yang sukses membawa karya sastra pesantren ke kancah nasional, dipandang Gus Anam sebagai momentum penting untuk memantik potensi santri Andalusia. Beliau berharap para santri tidak hanya menjadi penikmat bacaan, tetapi juga mampu memproduksi karya tulis yang bermutu.
“Kehadiran beliau (Ning Hilma Anis) adalah untuk memantik, mendorong, dan menyemangati para santri agar mengasah kemampuan sehingga menjadi pribadi yang berkemajuan. Tidak hanya membaca, tapi juga mampu menulis,” tegasnya.
Gus Anam juga sempat bernostalgia dengan menyebutkan kegemarannya membaca berbagai literatur, mulai dari novel klasik karya Buya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, hingga karya Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk. Menurutnya, membaca novel dapat memberikan wawasan dan manfaat yang luas jika dilakukan dengan semangat Iqra.
Pesan untuk Generasi Mendatang
Menutup sambutannya, Gus Anam menekankan bahwa pesantren harus menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya generasi yang mandiri dan berwawasan luas. Beliau berharap dari rahim Pesantren Andalusia akan muncul penulis-penulis andal dan tokoh-tokoh inspiratif yang mampu memberikan kemaslahatan bagi umat Islam di Indonesia.
Acara yang berlangsung khidmat ini kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan sesi berbagi pengalaman oleh Ning Hilma Anis mengenai peran perempuan tangguh di era modern dalam menjaga budaya dan mewujudkan mimpi melalui jalur pengabdian dan literasi.
Penulis: labibul af’al
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan