Banyumas, 24 April 2026 Seminar bertajuk “Perempuan Tangguh di Era Modern: Menjaga Budaya, Menguatkan Peran, dan Mewujudkan Mimpi dalam Pengabdian” sukses digelar di Auditorium Ma’had Aly Andalusia Banyumas, Jumat (24/4), pukul 09.00 WIB sampai selesai. Kegiatan ini menghadirkan novelis Hati Suhita, Ning Khilma Anis, sebagai narasumber utama dengan Khuriatul Firdaus sebagai moderator.
Acara ini dihadiri oleh K.H. Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam), Ibu Nyai Hj. Rodliyyah Ghorro’ Maimoen Zubair serta keluarga ndalem, dan seluruh santri Andalusia yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.
Acara dibuka dengan sambutan dari K.H. Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) mengenai ayat pertama Al-Qur’an sering dikaitkan dengan konsep literasi dalam Islam. Beliau mengingatkan kembali pesan wahyu pertama dalam Islam,Iqra’. berati (bacalah) dan _‘Allama bil Qalam Mengajar dengan pena (menulis). sebagai dasar pembentukan ilmu dan kemajuan manusia.Beliau berpesan: “Peradaban dibangun dengan membaca dan menulis. Jika tidak membaca, kita tidak punya isi; jika tidak menulis, kita akan dilupakan sejarah.
Dalam pemaparannya,Ning Khilma Anis menegaskan bahwa menulis tidak sekadar aktivitas merangkai kata, tetapi juga menjadi sarana menjaga kesehatan mental serta meninggalkan jejak kehidupan. Beliau turut mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai pentingnya berkarya sebagai warisan hidup.
Lebih lanjut, ia mengajak peserta memahami peran perempuan melalui perspektif budaya dan spiritualitas Jawa. Perempuan digambarkan sebagai soko guru, yakni pilar utama dalam keluarga. Sementara istilah konco wingking dimaknai sebagai peran strategis di balik layar, layaknya sutradara dalam kehidupan keluarga. Adapun konsep wani tapo mencerminkan ketangguhan perempuan dalam kesabaran dan pengabdian spiritual.
Ning Khilma juga memaparkan tiga potensi utama yang perlu dimiliki perempuan, yakni wadah(kapasitas diri),wayah(manajemen waktu), dan jatah (kesadaran akan rezeki). Ketiganya dinilai menjadi kunci dalam membangun kualitas diri yang seimbang di era modern.
Selain itu, ia menekankan pentingnya karakter kesantrian sebagai benteng moral. Santri diibaratkan sebagai sumur sinobo, sumber ilmu yang memberi manfaat bagi lingkungan, serta diingatkan agar tidak terjebak menjadi sumur gemuling, yaitu kondisi kehilangan arah akibat derasnya arus informasi.
Nilai kemandirian turut ditekankan melalui ajaran Gusjigang (bagus, ngaji, dagang), yang menyoroti keseimbangan antara akhlak, ilmu, dan kemandirian ekonomi. Prinsip hidup seperti mikul duwur mendem jero, ngalah(nga-Allah) , dan klungsu-klungsu waton udu merupakan pedoman luhur dalam menjaga hubungan sosial (etika pergaulan) dan hubungan spiritual.
Lebih jauh, Ning Khilma menjelaskan karakter perempuan ideal melalui tiga pilar utama: tutur(ucapan yang baik), uwur(gemar memberi), dan sembur (kekuatan doa). Perempuan kembali ditegaskan sebagai sosok wani tapo, yakni pribadi yang mampu menahan diri, bersabar, dan kuat secara spiritual.
Seminar berlangsung dengan antusiasme tinggi, terutama dari kalangan perempuan muda yang aktif mengikuti diskusi hingga sesi tanya jawab. Pada penutup acara, Khilma Anis mengajak perempuan untuk berani bermimpi dan mengembangkan potensi diri.
“Jangan ragu untuk terbang, karena sayap itu milikmu, dan langit bukan milik siapapun,” ujarnya Ning Khilma.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bahwa perempuan masa kini dituntut untuk tangguh dan mandiri, baik secara ekonomi maupun pemikiran, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai spiritualitas.
Oleh: Wardah Auliaunnisa
DOKUMENTASI






Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan