Banyumas, 19 Februari 2026 -Ramadhan 1447 Hijriah diawali dengan kajian kitab Madarikul Maram Fi Masalikis Shiyam bersama Syekh Mahmud Ali Yasin di Pondok Attaujieh 2 Andalusia. Kitab ini membahas seluk-beluk ibadah puasa, mulai dari dimensi fikih hingga makna spiritual yang membentuk kepribadian seorang hamba. Dalam pengantarnya, Syekh Mahmud menekankan pentingnya membaca muqaddimah sebelum memasuki pembahasan inti, karena di dalamnya terkandung fondasi pemahaman tentang puasa sebagai sarana pendidikan jiwa, penyucian akal, dan peningkatan ruhani melalui ketaatan penuh kepada Allah Ta’ala.
Syekh Mahmud Ali yasin Memulai kajian kitab Madarikul Maram Fi Masalikis shiyam setelah menunaikan tarawih. Kajian ini di laksanakan di aula putri Pondok Attaujieh 2 Andalusia . Syekh Mahmud memulai kajian dengan berkata:
قبل قراءة الكتاب , لا بد ان نقرأ من مقدمة الكتاب
“sebelum memulai membaca kitab sebaiknya kita mendahului nya dengan muqoddimah (pendahuluan) kitab”
Muqoddimah tersebut berisi pendahuluan dari Syekh Nadzir Muhammad ‘iyad yaitu di antara kewajiban syariat yang paling utama adalah puasa Ramadan; ibadah yang menjadi latihan bagi jiwa, perbaikan bagi tabiat, pendidikan bagi raga, penyucian bagi akal, dan peningkatan bagi ruh. Hal itu dilakukan melalui komitmen terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Maka seorang hamba tidak mendekati suatu perbuatan kecuali pada waktunya, dan tidak menjalankan suatu amalan kecuali sesuai ajaran-ajaran-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka ia tidak menyantap makanan dan hal-hal serupa yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Maka dengan rasa haus dan lapar tersebut, tersingkaplah tabir hati sehingga ia dapat melihat petunjuk (hidayah) dan terjauhkan dari keburukan.
Syekh mahmud menyampaikan kepada para mahasantri sebuah hadist qudsi yang menyebutkan betapa tinggi derajat puasa :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Sebelum menutup kajian . Syekh Mahmud menjelaskan bahwa amal ibadah yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala terbagi menjadi dua jenis yaitu Mali (harta) dan Badani (fisik/tubuh), dan berkata :
إن عبدة المالي أفضل من عبادة البدني لأنه متعد
“Sesungguhnya ibadah harta (mali) lebih utama daripada ibadah fisik (badani) karena sifatnya yang muta’addi (manfaatnya meluas/merembet ke orang lain).”
Kajian perdana ini menjadi awal yang kuat dalam menapaki perjalanan Ramadhan. Melalui penjelasan tentang keutamaan puasa, hadis qudsi mengenai kemuliaannya, serta pembahasan tentang ibadah mali dan badani, para mahasantri diarahkan untuk memahami bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan diri, melainkan momentum transformasi diri. Dengan ilmu sebagai landasan, diharapkan ibadah yang dijalankan selama bulan suci ini semakin berkualitas, bernilai ikhlas, dan membawa keberkahan yang meluas bagi diri sendiri maupun sesama.
Penulis : Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan