Bukan Soal ‘Cucu Siapa’, Tapi Jejak Siapa yang Kau Ikuti
Dalam kultur masyarakat kita, nama besar keluarga sering kali dianggap sebagai jaminan mutu bagi seseorang. Ada semacam asumsi tak tertulis bahwa jika ayahnya alim, maka anaknya pasti mewarisi ilmu yang sama. Namun, di dalam forum-forum pengajian khusunya forum dalam pesantren yaitu, pengajian kitab dengan metode bandogan dan sorogan, KH Zuhrul Anam Hisyam dengan tegas meruntuhkan zona nyaman tersebut. Beliau sering kali menyuguhkan tamparan intelektual yang membangunkan para pencari ilmu dari tidurnya.
Ilmu Bukan Warisan Biologis
Salah satu pernyataan Abah Anam yang paling ikonik dan sering menjadi perbincangan adalah:
لا علاقة بين العلم و النسب“Tidak ada keterkaitan antara ilmu dan nasab.”
Kalimat ini singkat, namun berbobot. Abah Anam ingin menegaskan bahwa ilmu bukanlah aset biologis yang tersimpan dalam heliks DNA. Ilmu memiliki hukumnya sendiri. Ia adalah entitas yang mandiri; ia tidak bisa diwariskan layaknya tanah atau takhta. Seseorang yang memiliki nasab mulia namun enggan berproses, ibarat memiliki bejana emas namun tak pernah diisi air, berkilau di luar, namun kosong di dalam.
Nasab sebagai Tanggung Jawab, Bukan Mahkota
Ketegasan Abah Anam berlanjut pada maqolah berikutnya yang menjadi tamparan yang membekas:
النسب مسؤولية لا تفاخرNasab adalah tanggung jawab, bukan kebanggaan.
Di sini, beliau menggeser fungsi nasab dari sebuah perhiasan sosial menjadi beban moral. Bagi seorang santri yang memiliki garis keturunan mulia, nasab seharusnya menjadi cambuk untuk bekerja sepuluh kali lebih keras. Mengandalkan nama besar orang tua tanpa kapasitas ilmu yang mumpuni adalah bentuk kegagalan dalam menjaga marwah leluhur. Nasab adalah “utang sejarah” yang harus dibayar lunas dengan kualitas diri, bukan dijadikan alat untuk menyombongkan diri (tafaakhur).
Hukum Alam dalam Menuntut Ilmu
Abah Anam juga sering menekankan sebuah aksioma tetap dalam dunia pendidikan:
العلم بالجد و الإجتهاد لا بالآب والأجدادIlmu itu diraih dengan perjuangan dan kesungguhan, bukan karena ayah dan kakeknya.
Beliau sering berpesan kepada para santri, “Kalian bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan diberikan ilmu oleh Allah. Tidak pandang bulu.” Janji Allah ini bersifat universal. Pintu ilmu terbuka lebar bagi siapa saja, baik anak petani maupun putra kyai. Di hadapan kitab dan pena, semua orang berdiri di garis start yang sama: yaitu ketekunan.
Cermin Sejarah: Yaqut al-Arsy dan Sindiran yang Mencerahkan
Untuk membuktikan hal ini, Abah Anam sering menceritakan kisah Yaqut al-Arsy, murid dari Imam Abul Abbas al-Mursi (pewaris Tarekat Syadziliyah). Yaqut hanyalah seorang mantan budak belian, namun karena kesungguhannya, ia diangkat menjadi khalifah sekaligus menantu gurunya.
Suatu hari, seorang cucu Nabi yang merasa cemburu bertanya kepada Yaqut, “Siapa kakekmu? Wajahmu pun tak setampan aku. Mengapa orang-orang lebih menghormatimu daripada aku yang jelas-jelas cucu Rasulullah?”
Jawaban Yaqut al-Arsy sangat mencerahkan: “Mungkin saja orang-orang hormat kepada saya karena saya mengikuti perilaku kakek Anda (Rasulullah). Sementara mereka kurang hormat kepada Anda, mungkin karena mereka menyangka Anda sedang mengikuti perilaku kakek saya (budak) bukannya kakek Anda sendiri.”
Penutup: Kembali ke Titik Nol
Kisah tersebut adalah penutup yang sempurna bagi pesan-pesan Abah Anam. Kemuliaan sejati tidak terletak pada silsilah yang kita bawa, melainkan pada perilaku dan ilmu yang kita perjuangkan.
Dunia keilmuan adalah dunia yang jujur. Ia tidak memandang warna darah, melainkan ketebalan niat dan cucuran keringat. Maka, bagi siapa pun yang sedang menuntut ilmu, janganlah terbuai oleh nama besar keluarga, dan jangan pula berkecil hati jika bukan siapa-siapa. Sebab, ilmu adalah hadiah bagi mereka yang paling gigih bersujud di depan kitab, bukan bagi mereka yang hanya terpaku pada daftar silsilah.
Penulis : Sayyid Abdulloh Al-Kaff
Editor : Rojih Hibatulloh









Tinggalkan Balasan