Raden Adjeng Kartini adalah sosok emansipasi yang mencetuskan lahirnya kesetaraan gender dan kesamaan kelas sosial dalam masyarakat Indonesia. Ia dilahirkan dalam keluarga bangsawan jawa di Hindia Belanda. Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda bernama Europheesche Lagere School (ELS) sampai berumur 12 tahun, ia ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut. Akan tetapi, perempuan jawa pada saat itu dilarang mengenyam pendidikan tinggi dikerenakan adat istiadat pingitan. Ia terpakasa berada di rumahnya saja.
Kartini bisa berbahasa Belanda, di rumah dia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya Rosa Abendanon. Dari proses korespondensi tersebut, lahir keinginan di hatinya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada dalam status sosial yang rendah.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar suratnya berisi keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Ia ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.
“Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Begitulah ucapan RA Kartini dalam memperjuangkan pendidikan perempuan, seperti yang dikutip dari ‘Celoteh RA Kartini: 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi’ oleh Ahmad Nurcholish (2018).
Kartinipun mengumpulkan para perempuan dan memulai sebuah sekolah kecil dan mengajar mereka membaca, menulis, dan berhitung. Juga mengajarkan keterampilan kerajinan tangan, menjahit, dan memasak.
Bahkan setelah kematiannya, dikutip dari situs Kemenkeu, sekolah Kartini akhirnya bisa berdiri berkat bantuan orang Belanda bernama Conrad Theodore van Deventer, tokoh politik etis yang terkesan dengan tulisan-tulisan Kartini. Perjuangan Kartini juga sejalan dengan cita-cita Devanter yaitu mengangkat derajat bangsa pribumi secara rohani dan ekonomis serta memperjuangkan emansipasi mereka. Pada tahun 1912, dibentuklah komite yang bertugas merumuskan pendidikan perempuan Jawa. Komite ini dijalankan dengan orang-orang yang dekat dan menyukai visi-visi Kartini, di antaranya yaitu Jacques Henrij Abendanon dan Deventer.
Di tahun itu juga diresmikan Yayasan Kartini dengan Conrad Theodore van Deventer sebagai ketua pertama. Keuangan Yayasan ini berasal dari penjualan kumpulan surat-surat Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh JH Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht. Setelah Kartini wafat, Mr. JH Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan RA Kartini pada teman-temannya di Eropa.
Kartini ingin agar perempuan memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai gerakan yang lebih luas.
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka, dan saya ada, turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan bumi putra merdeka dan berdiri sendiri.”
Demikianlah yang dibawa R.A. Kartini, cahaya dalam kegelapan yang menerangi kaum perempuan Indonesia, sehingga perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan kaum pria.
Sebagai perempuan masa kini, sudah seyogyanya bagi kita turut serta meneruskan perjuangan R.A. Kartini, dengan tidak takut bermimpi, tidak menyerah, dan tidak ragu untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.”
Menjadi perempuan yang inspiratif, yang berani bermimpi, bekerja keras, dan memberikan kontribusi positif bagi sesama.
Lalu, bagaimana caranya menjadi Kartini masa kini?
Menjadi Kartini masa kini berarti mengadopsi semangat perjuangan R.A. Kartini dalam konteks modern. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia, dan berikut adalah beberapa cara untuk menjadi Kartini masa kini:
1. Pendidikan: Meneruskan perjuangan Kartini dengan mengejar pendidikan setinggi mungkin. Pendidikan adalah kunci untuk memberdayakan diri sendiri dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
2. Kemandirian: Menjadi mandiri, baik secara finansial maupun dalam pengambilan keputusan. Kartini masa kini harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan membuat keputusan yang terbaik bagi dirinya.
3. Berani bersuara: Tidak takut menyuarakan pendapat, terutama dalam hal kesetaraan gender, keadilan sosial, dan isu-isu penting lainnya.
4. Menghargai Budaya: Menghargai dan melestarikan budaya lokal, sambil tetap terbuka terhadap perkembangan zaman dan perubahan global.
5. Menyebarkan Inspirasi: Menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk terus maju dan berkembang, membantu mereka menyadari potensi diri mereka.
6. Kesetaraan Gender: Memperjuangkan kesetaraan gender dalam segala aspek kehidupan, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas.
7. Inovasi dan Kreativitas: Mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam bidang apapun yang ditekuni, dan berusaha membawa perubahan positif.
Dengan mengadopsi nilai-nilai ini, seorang perempuan dapat menjadi Kartini masa kini yang tidak hanya menghormati warisan Kartini, tetapi juga membawa perubahan yang relevan di dunia modern.
Kartini adalah simbol keberanian, kecerdasan, dan dedikasi terhadap pendidikan serta kesetaraan gender. Kita semua, sebagai perempuan masa kini, tentu mampu menjadi seperti Kartini, Menjadi seperti Kartini bukan berarti harus persis seperti beliau, tetapi lebih kepada mengadopsi semangat dan nilai-nilai yang ia perjuangkan dalam kehidupan. Dengan berkomitmen pada nilai-nilai ini, kita bisa menciptakan dampak yang signifikan dalam lingkungan dan menjadi figur yang menginspirasi, seperti Kartini.
Penulis : Khuriyah, Malyterasi Putri










Tinggalkan Balasan