Kalimat basmalah (Bismillahir Rahmanir Rahim) adalah bentuk sumpah
dari Tuhan kita yang diturunkan di setiap awal surah. Allah bersumpah kepada hamba-hamba-Nya bahwa apa yang Aku tetapkan untuk kalian di dalam surah ini adalah kebenaran. Dan “Bismillahir Rahmanir Rahim” termasuk wahyu yang Allah turunkan dalam Kitab kita (Al-Qur’an) dan dikhususkan bagi umat ini setelah sebelumnya pernah diberikan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. (Tafsir Al-Qurthubiy)
Pembahasan tentang basmalah itu banyak sekali, bahkan disebutkan pada kitab Tafsir Qurthubiy ada 27 masalah/pembahasan tentang basmalah. Maka kita akan membahas apa makna yang terkandung dalam basamalah? dan bagaimana penjelasaan dari segi kebahasaan(linguistik) pada basmalah?
Makna tersembunyi dalam Ayat pertama Al-Fatihah (Basmalah)
QS. Al-Fatihah: Ayat 1 (Juz 1)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Maka makna yang tersembunyi nya adalah: “Dengan nama Allah yang pengasih lagi maha penyayang. Aku memulai pekerjaan ku. “
Menakdirkan (mengira-ngirakan) kata kerja (‘Amil) yaitu kata “ابْتَدِئُ/ aku memulai pekerjaan ku” di akhir kalimat itu lebih utama daripada mendahulukannya; agar memberikan makna pembatasan (eksklusivitas) serta menunjukkan urgensi terhadap hal yang didahulukan (yakni nama Allah). Karena mendahulukan nama allah daripada kata lain itu lebih utama .
Adapun kata kerja didahulukan dalam QS. Al-‘Alaq: Ayat 1 (Juz 30)
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
Hal itu bertujuan untuk memberikan penekanan pada aktivitas membaca Al-Qur’an itu sendiri, karena ia merupakan surah yang pertama kali turun.
Pengulangan sifat Allah pada QS. Al-Fatihah Ayat 1 dan 3
Sifat Allah الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) disebutkan 2 kali pada ayat pertama dan ketiga surat Al-Fatihah.
Allah mengulanginya kembali karena rahmat adalah pemberian nikmat kepada yang membutuhkan (al-muhtaj). Pada ayat pertama (Basmalah), Allah menyebutkan Dzat Pemberi Nikmat (al-Mun’im) tanpa menyebutkan pihak yang diberi nikmat. Kemudian Allah mengulanginya (di ayat ke 3) bersamaan dengan penyebutan mereka di ayat kedua “رَبِّ الْعَالَمِينَ” (Tuhan semesta alam) dan seterusnya.
Bentuk kata (Sighah) Ar-Rahman (الرَّحْمَنِ) lebih mendalam maknanya (hiperbola/ablagh) daripada ar-Rahim; karena lafaz Ar-Rahman menunjukkan makna kuantitas (banyak), keluasan, dan kepenuhan.
Sebagaimana contoh: شَبْعَانُ /Syab’an (sangat kenyang), وَمَلْآنُ/Mal’an (sangat penuh), dan غَضْبَانُ Ghadhban (sangat marah) bagi orang yang telah terpenuhi rasa kenyang, kepuasan minum, dan amarahnya. Berbeda dengan Ar-Rahim yang tidak memberikan makna hiperbola/mubalaghah (dalam hal kepenuhan) tersebut.
Maka makna Ar-Rahman (الرَّحْمَنِ) adalah “Yang Luas Rahmat-Nya”. Ada pula yang berpendapat: Ar-Rahman adalah sifat yang berkaitan dengan Dzat Allah, sedangkan Ar-Rahim (الرَّحِيمِ) adalah sifat yang berkaitan dengan perbuatan-Nya terhadap hamba.
Seperti yang disebutkan QS. At-Taubah: Ayat 117
اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌۙ
Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.
(Fathu Ar-Rohman bi kasyfi maa yaltabisu fil Qur’an, Hal. 10)
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan