Yusya’ bin nun ,dalam bahasa ibrani Yosua ( יְהוֹשֻׁעַ ), dan dalam bahasa yunani Yehoshuaʿ ( Ἰησοῦς Iesous) bahasa Arab: یوشع Yūsyaʿ; bahasa Inggris: Joshua,
adalah Nabi dari Bani Israil (sekarang bangsa israel) yang menggantikan Nabi Musa sebagai Nabi. Ia adalah sosok yang membawa bangsa Israel masuk serta merebut tanah Kanaan (Baitul maqdis) setelah mereka mengembara selama 40 tahun
Nabi Yusya’ disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 2 kali:
• Surah Al-Kahf: 60-65: Diisyaratkan sebagai pemuda (fata) yang menyertai Nabi Musa.
• Surah Al-Ma’idah: 23: Diisyaratkan sebagai salah satu dari dua orang yang bertakwa yang diperintahkan Allah untuk memasuki tanah Palestina bersama pengikut Nabi Musa.
Adapun cerita Nabi Yusya’ terdapat pada QS. Al-Ma’idah: Ayat 23 (Juz 6)
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang takut, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitul maqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”
”Dua orang laki-laki di antara mereka yang takut (akan hukuman akibat melanggar perintah Allah)” keduanya adalah Yusya’ (Yosua) dan Kaleb dari golongan para pengawas syariat (An-Nuqaba’) yang diutus Musa untuk menyelidiki kondisi kaum raksasa (Al-Jabbarin).
Allah telah memberikan nikmat kepada keduanya berupa perlindungan (‘Ishmah), sehingga keduanya merahasiakan keadaan kaum raksasa tersebut kecuali kepada Nabi Musa saja. Berbeda dengan para pemuka lainnya yang justru membocorkan informasi itu sehingga mereka menjadi pengecut.
Yusya’ dan Kaleb berkata: “Serbulah mereka melalui pintu itu!”—yakni pintu gerbang kota—”dan janganlah kalian takut kepada mereka, karena sesungguhnya mereka hanyalah tubuh-tubuh (besar) tanpa nyali/hati (yang berani).”
“Maka apabila kalian memasuki gerbang itu, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang menang”. Keduanya mengucapkan hal tersebut karena rasa yakin yang mendalam akan pertolongan Allah dan pemenuhan janji-Nya.
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Hasyiyah Ashowi, 2/217)
Pengangkatan kenabian Yusya’ bin Nun sebagai pengganti Nabi Musa AS
Diriwayatkan bahwasanya Allah mengangkat Yusya’ bin Nun sebagai Nabi setelah wafatnya Musa. Ia mengabarkan kepada Bani Israil bahwa Allah telah memerintahkan mereka untuk memerangi kaum raksasa (al-Jabbarin), maka mereka pun membenarkannya dan membaiatnya.
Maka Nabi Yusya’ berangkat membawa Bani Israil menuju Ariha/Yerikho (kota kuno tertua di dunia yang terus dihuni, terletak di Tepi Barat, Palestina, dekat Sungai Yordan) dengan membawa Tabut al-Mitsaq (Tabut Perjanjian). Ia mengepung kota Ariha selama enam bulan, dan mereka berhasil menaklukkannya pada bulan ketujuh.
Mereka memasukinya lalu memerangi kaum raksasa dan mengalahkan mereka. Mereka menyerbu dan membunuhi kaum tersebut. Bahkan satu kelompok dari Bani Israil harus berkumpul (bekerja sama) hanya untuk menebas satu leher dari orang-orang raksasa itu.
Peperangan itu terjadi pada hari Jumat. Saat masih ada sisa-sisa musuh yang belum dikalahkan, matahari hampir terbenam dan waktu akan memasuki malam Sabtu. Maka Nabi Yusya’ berdoa:
اللَّهُمَّ ارْدُدِ الشَّمْسَ عَلَيَّ
“Ya Allah, tahanlah matahari untukku.”
Dan ia berkata kepada matahari:
إِنَّكِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ، وَأَنَا فِي طَاعَةِ اللَّهِ.
“Sesungguhnya engkau berada dalam ketaatan kepada Allah, dan aku pun berada dalam ketaatan kepada Allah.”
Ia memohon agar matahari berhenti beredar dan bulan tetap pada tempatnya hingga ia bisa membalas musuh-musuh Allah sebelum masuknya hari Sabtu (hari dilarangnya berperang). Maka matahari pun tertahan baginya, dan waktu siang bertambah selama satu jam hingga ia berhasil membinasakan mereka semua.
Kemudian ia mengejar raja-raja Syam dan berhasil menaklukkan tiga puluh satu raja hingga ia menguasai seluruh negeri Syam. Maka seluruh negeri Syam menjadi milik Bani Israil, dan Nabi Yusya’ menempatkan para wakilnya di berbagai penjuru wilayah tersebut.
Kemudian Yusha’ wafat dan dimakamkan di Gunung Ibrahim. Usianya mencapai 126 tahun, dan ia memimpin urusan Bani Israil selama 27 tahun setelah wafatnya Musa. (Tafsir Al-Bughowi, 3/41)
Riwayat tentang Nabi Yusya’
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadist dalam kitab Musnad-nya :
إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ عَلَى بَشَرٍ، إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ
“Sesungguhnya matahari tidak pernah ditahan (peredarannya) untuk seorang manusia pun, kecuali untuk Yusya’ (bin Nun) pada malam-malam saat ia berjalan menuju Baitul Maqdis.”
Maksudnya adalah matahari tidak ditahan untuk manusia sebelum Yusya’. Karena jika tidak dimaknai demikian, maka akan bertentangan dengan fakta bahwa matahari pun pernah ditahan untuk Nabi Muhammad ﷺ sebanyak dua kali:
(Pertama) pada saat Perang Khandaq, ketika Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya tersibukkan (oleh perang) dari menunaikan salat Asar hingga matahari terbenam, lalu Allah mengembalikan matahari untuk beliau hingga beliau bisa melaksanakan salat Asar.
(Kedua) pada pagi hari setelah malam Isra’, saat beliau sedang menunggu kedatangan kafilah dagang (sebagai bukti bagi kaum Quraisy).
Ditambahkan juga dalam sebuah riwayat: Matahari pernah ditahan sekali untuk Ali bin Abi Thalib, ketika Nabi ﷺ sedang tidur di pangkuannya sementara Ali belum salat Asar, dan Nabi tidak terbangun hingga matahari terbenam. Maka Nabi ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنَّ عَلِيًّا فِي طَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُولِكَ، فَارْدُدْ عَلَيْهِ الشَّمْسَ حَتَّى يُصَلِّيَ الْعَصْرَ.
“Ya Allah, sesungguhnya Ali sedang dalam ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu, maka kembalikanlah matahari untuknya hingga ia bisa salat Asar.”
Sumber riwayat diatas
Hadis mengenai ditahannya matahari untuk Nabi Yusya’ adalah berita yang sahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad (2/325).
Adapun mengenai ditahannya matahari untuk Nabi ﷺ, hal itu disebutkan oleh Yunus bin Bukair dalam Ziyadat-nya atas kitab Maghazi karya Ibnu Ishaq, serta diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam kitab al-Awsath.
Dan mengenai ditahannya matahari untuk Ali (bin Abi Thalib), diriwayatkan oleh ath-Thahawi, ath-Thabrani dalam al-Kabir, serta al-Hakim dan al-Baihaqi dalam kitab Dalail al-Nubuwwah.
Akan tetapi, Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Ibnu al-Jauzi telah keliru dengan memasukkan hadis tersebut ke dalam kitab al-Maudhu’at (kumpulan hadis palsu), demikian pula Ibnu Taimiyah dalam kitabnya ar-Radd ‘ala al-Rawafidh (Minhajus Sunnah) dalam klaimnya bahwa hadis tersebut adalah palsu.” Wallahu A’lam.
Lihatlah referensinya dalam kitab Fathul Bari (Jilid 6, hal. 221-222).
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan