Dahulu kala … Para setan tidak terhalangi untuk memasuki langit. Mereka leluasa memasuki langit serta membawa kabar/berita langit untuk diberikan kepada dukun (kahin).
Maka ketika Nabi Isa dilahirkan, mereka dilarang memasuki tiga lapisan langit. Dan ketika junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan, mereka dilarang dari seluruh lapisan langit, dan ketika Muhammad ﷺ diutus (menjadi Rasul), meteor-meteor (syuhub) mulai dilemparkan kepada mereka; terkadang meleset dan terkadang mengenai sasaran. Lalu ketika Muhammad ﷺ Isra’ Mi’raj, meteor-meteor tersebut tidak pernah meleset selamanya. (Hasyiyah Ashowi, 4/502)
Penjelasan ini terdapat pada QS. Al-Hijr: Ayat 17-18 (Juz 14)
وَحَفِظْنٰهَا مِنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۙ * اِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ مُّبِيْنٌ
Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk, kecuali (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) maka dia dikejar oleh bintang-bintang (berapi) yang terang.
Yang dimaksud dengan “penjagaan dari setan” adalah penjagaan agar mereka tidak dapat menetap (berdiam diri) serta tidak memiliki kekuasaan (kendali) atas langit. (At-tahri Wat Tanwir, 14/27 )
Pada ayat (إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ) ini adalah Istitsna’ Munqathi’ (pengecualian terputus); karena hal sebelum pengecualian adalah perihal masuknya mereka ke langit, sedangkan setelah pengecualian adalah perihal mereka mencuri dengar dari luar langit
Maknanya adalah para setan itu saling menunggangi satu sama lain (membentuk barisan) karena ingin mencuri dengar, lalu meteor-meteor pun telah bersiap mengintai mereka. (Hasyiyah Ashowi, 4/503)
Sebagaimana dijelaskan secara gamblang dalam Surah Al-Jinn melalui firman-Nya:
وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ..
Dan sesungguhnya kami dahulu mengambil tempat duduk di langit itu untuk mendengar-dengarkan..
Apakah benar yang menghantam setan itu meteor?
Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan tentang penggalan ayat:
فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ مُّبِيْنٌ
maka dia (setan pencuri dengar) dikejar oleh bintang-bintang (berapi) yang terang.
Kata الشِّهَابُ / meteor itu adalah كَوكَبٌ مُضِيءٌ (Bintang yang bercahaya), dan di jelaskan kembali oleh Imam Ashowi: Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Syihab (meteor) adalah nyala api yang terlepas dari bintang-bintang, dan pendapat inilah yang benar. (Hasyiyah Ashowi, 4/503)
Apa tujuan para Setan tersebut larang masuk langit?
Tujuan dari penghalangan setan-setan tersebut adalah mencegah mereka mengetahui apa yang Allah kehendaki untuk tidak mereka ketahui, baik itu urusan penciptaan (takwin) maupun urusan lainnya.
Maka ketika Allah hendak menjaga kemurnian wahyu, Allah melarang mereka secara total; Allah menjadikan meteor memiliki kekuatan untuk menembus gelombang-gelombang yang diterima oleh setan-setan pencuri pendengaran, serta mengoyak tingkatan-tingkatan suara tersebut.
Imam Ibnu Asyur pun menjelaskan :`Istiraq as-sam’i (اسْتَرَقَ السَّمْعَ) bermakna mencuri pendengaran. Wazan (pola kata) Ifti’al (Istaraqa) dibentuk untuk menunjukkan adanya unsur usaha yang keras/beban (takllif), dan makna sebenarnya dari “mencuri pendengaran” adalah mendengarkan secara sembunyi-sembunyi dari pembicara. Seolah-olah pendengar tersebut sedang mencuri pembicaraan dari pembicara yang sebenarnya ingin ia sembunyikan darinya. (At-tahri Wat Tanwir, 14/28)
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan