Sering kali kita ditinggal orang yang kita cintai… orang tua, teman, saudara, bahkan sosok guru yang sudah menjadi suri tauladan kita. ketika perasaan ini tidak bisa digambarkan dengan kata,dan ketika kerinduan ini tidak bisa terbendung…
Kita bertanya-tanya bagaimana kabar mereka disana Apa yang mereka lakukan disana? Dan apakah mereka merindukan kita juga?
Mereka adalah orang yang meninggal/terbunuh dijalan Allah. Mereka mendapatkan kehidupan yang kekal dan ganjaran atas apa yang mereka perbuat di dunia.
kehidupan tersebut bukanlah kehidupan fisik maupun material, melainkan kehidupan spiritual (ruhiyyah). Namun, kehidupan ini melebihi sekadar kehidupan roh pada umumnya. Karena setiap roh pada dasarnya memiliki “kehidupan”, yaitu tidak akan musnah (idmihlal) dan kesiapan untuk diberi wujud fisik kembali saat hari kebangkitan, disertai perasaan tertentu bahwa ia akan menuju kenikmatan atau kesengsaraan.
Adapun kehidupan mereka yang gugur di jalan Allah adalah kehidupan yang mencakup persepsi kenikmatan akan kelezatan surga, alam-alam tinggi, serta tersingkapnya hakikat-hakikat (inkisyafat) secara sempurna. (At-Tahrir Wat Tanwir, 1/53)
Larangan menyebut bahwa mereka telah mati
Mereka bahkan disebutkan oleh Allah Ta’ala pada QS. Al-Baqarah: Ayat 154
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Namun, (sebenarnya mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
Maknanya adalah: Diharamkan mengucapkan hal tersebut bagi seorang syahid; karena itu bukanlah kematian yang sebenarnya (haqiqah). Melainkan itu hanyalah sebuah perpindahan dari kediaman yang keruh (dar al-kadar) menuju kediaman yang jernih (dar al-shafa’), serta dari kediaman kesedihan menuju kebahagiaan.
Adapaun kehidupan mereka adalah kehidupan kehidupan akhirat yang meliputi jasad dan roh, yang tidak sama seperti kehidupan penduduk dunia. Kehidupan ini tidak dapat disaksikan kecuali oleh ahli akhirat atau orang-orang yang dikhususkan oleh Allah untuk mengetahuinya. Dan inilah pendapat yang kuat (tahqiq).
Berbeda dengan mereka yang berpendapat bahwa para syuhada hanya hidup rohnya saja. Sebab, pendapat itu dapat disanggah dengan fakta bahwa setiap manusia itu hidup rohnya (setelah mati), baik ia muslim maupun kafir; dikarenakan roh tidaklah musnah.
Jika hanya roh yang hidup, maka tidak ada keistimewaan bagi mereka yang mati di jalan allah atas yang lainnya. Padahal kehidupan ini adalah nyata (haqiqiyyah), dan keluarnya roh syahid hanyalah perpindahan dari satu negeri ke negeri lainnya. (Hasyiyah Ashowi, 1/268)
Hikmah di balik hal tersebut adalah bahwa sampainya kelezatan (fisik) ke dalam roh bergantung pada perantara indra-indra jasmani. Maka ketika roh terpisah dari jasad dunia, ia diberi ganti berupa “jasad” yang sesuai dengan surga agar menjadi sarana untuk merasakan kenikmatannya. (At-Tahrir Wat Tanwir, 1/54 )
Siapa saja yang masuk dalam golongan tersebut?
Orang-orang yang mati dijalan allah dinamankan Syahid. dinamakan demikian karena Allah dan Rasul-Nya telah bersaksi (syahada) baginya untuk masuk surga, sehingga ia adalah Syahid dalam arti “yang disaksikannya surga” (masyhud lahu).
Ada pula yang berpendapat karena rohnya menyaksikan (tasyhadu) surga sebelum yang lain, sehingga ia adalah Syahid dalam arti “yang menyaksikan surga” (syahid).
Syekh Ibrahim Al-Baijuri menjelaskan bahwasanya Syahid itu terbagi menjadi tiga:
1. Syahid Dunia dan Akhirat: yaitu orang yang berperang demi meninggikan kalimat Allah
2. Syahid Dunia saja: yaitu orang yang berperang demi harta rampasan misalnya;
maka keduanya tidak dimandikan, dan tidak disalatkan (langsung dikubur).
3. Syahid akhirat saja: maka ia diperlakukan seperti jenazah biasa; tetap dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dimakamkan.
Macamnya banyak, di antaranya: wanita yang wafat saat melahirkan, orang yang mati tenggelam,orang yang tertimpa reruntuhan,orang terbakar, orang yangwafat di perantauan, orang yang dibunuh secara zalim, serta yang mati karena penyakit perut atau di masa wabah, meskipun ia wafat karena sebab lain namun ia tetap bersabar dan mengharap pahala (muhtasib), atau ia wafat setelah wabah berakhir namun ia telah bersabar di masa wabah tersebut.
Orang yang wafat dalam keadaan menuntut ilmu, meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya, dan orang yang wafat karena cinta/rindu (‘isyq), meskipun terhadap orang yang tidak boleh disetubuhi (seperti pemuda tampan/amrad), dengan syarat ia tetap menjaga kesucian diri (iffah) bahkan dari memandang (yang haram), sekiranya jika iaberduaan dengan kekasihnya, ia tidak akan melanggar hukum syariat. Serta dengan syarat ia menyembunyikan cintanya tersebut (kitman), bahkan dari orang yang dicintainya sekalipun.
Adapun hadis:
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُم أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka beritahukanlah padanya”
Maka hadis itu bermakna kasih sayang persaudaraan (karena Allah), bukan makna cinta asmara (‘isyq). (Hasyiyah Al-Baijuri, 1/363-364)
Hikmah tidak dimandikannya para syuhada adalah agar bekas darah mereka tetap ada sebagai saksi bagi mereka pada hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
زَمِّلُوهُمْ بِثِيَابِهِمْ، اللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ، وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ
“selimutilah mereka dengan pakaian (perang) mereka; warnanya adalah warna darah, namun aromanya adalah aroma minyak misik.”
Adapun dimandikannya para Nabi (setelah wafat), maka itu bersifat ta’abbudi (ibadah yang hikmahnya hanya Allah yang tahu) atau bertujuan untuk pensyariatan (tasyri’ / memberi contoh bagi umat). dan bumi tidak akan memakan (menghancurkan) jasad para syuhada. (Hasyiyah Ashowi, 1/268)
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan