Sudah puluhan tahun bangsa Israel menjajah Palestina. Bahkan Pemerintah Israel telah menyetujui serangkaian inisiatif bulan ini yang didukung oleh para menteri sayap kanan, termasuk meluncurkan proses untuk mendaftarkan tanah di Tepi Barat Palestina sebagai “milik negara”, dan mengizinkan warga Israel untuk membeli tanah di sana secara langsung.
Sifat kedzoliman mereka bukan dari puluhan tahun terakhir ini. Akan tetapi bisa di lihat dari ratusan bahkan ribuan tahun lalu sudah membuat kerusakan di bumi ini.
salah satu dari kedzoliman mereka adalah membunuh para nabi
Seperti yang di kisah kan dalam Al qur’an:
QS. Al-Isra’: Ayat 4 (Juz 15)
وَقَضَيْنَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا
Kami wahyukan kepada Bani Israil di dalam Kitab (Taurat) itu, “Kamu benar-benar akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan benar-benar akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”
Para Ulama tafsir berpendapat bahwa kerusakan pertama adalah pembunuhan Nabi Zakaria, sedangkan kerusakan kedua adalah pembunuhan putranya, Nabi Yahya.
Sementara itu, Ulama yang lain berpendapat bahwa kerusakan pertama adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum Taurat serta pembunuhan Nabi Sya’ya (Yesaya)—dan ada yang mengatakan Nabi Irmiya (Yeremia),
dan kerusakan kedua adalah pembunuhan terhadap Nabi Zakaria dan Nabi Yahya secara bersamaan, serta upaya (niat) mereka untuk membunuh Nabi Isa.
( Hasyiyah Ashowi 4/20)
Tatimmah (tambahan atau pelengkap untuk ayat ini) yang berisi ringkasan kisah dari Muhammad bin Ishaq (pakar sejarah Islam awal). Bagian ini mendetailkan peristiwa sebelum era Zakaria dan Yahya, yaitu pada masa Nabi Sya’ya (Yesaya).
Kisah Raja Shiddiqah dan Nabi Sya’ya (Yesaya)
Muhammad bin Ishaq berkata: Dahulu Bani Israil sering melakukan bid’ah (perkara baru yang buruk) dan dosa, namun Allah senantiasa memaafkan dan berbuat baik kepada mereka
Hukuman pertama yang menimpa mereka terjadi pada masa seorang raja bernama Shiddiqah (dalam literatur Barat dikenal sebagai Hizkia). Biasanya, setiap kali seorang raja bertahta, Allah mengutus seorang Nabi bersamanya untuk membimbingnya. Maka Allah mengutus Nabi Sya’ya bin Amshiya AS bersamanya.
Di akhir masa jabatan Shiddiqah, kemaksiatan mereka semakin parah. Lalu Allah menggerakkan Sanjariib, raja Babilonia (dalam sejarah aslinya ia adalah Raja Asyur), untuk menyerang mereka dengan membawa 600.000 panji pasukan hingga ia mengepung Baitul Maqdis.
Saat itu Raja Shiddiqah sedang sakit parah karena luka borok di kakinya. Nabi Sya’ya datang dan berkata: “Wahai Raja Bani Israil, Sanjariib dan pasukannya telah mengepungmu.” Raja bertanya: “Wahai Nabi Allah, apakah ada wahyu tentang apa yang terjadi?” Nabi menjawab: “Belum ada wahyu untuk itu.”
Tak lama kemudian, Allah mewahyukan kepada Nabi Sya’ya: “Datangilah raja itu, perintahkan ia membuat wasiat dan menunjuk pengganti dari keluarganya, karena ia akan mati.” Nabi Sya’ya pun menyampaikan hal itu.
Mendengar itu, sang Raja langsung menghadap kiblat, mendirikan shalat, dan merintih memohon kepada Allah dengan hati yang sangat ikhlas (memohon umur agar bisa menyelesaikan urusan umatnya).
Allah pun mengabulkan doa sang Raja. Allah mewahyukan kepada Nabi Sya’ya: “Beritahu Shiddiqah bahwa Tuhannya telah mengabulkan doanya, menangguhkan ajalnya selama 15 tahun lagi, dan akan menyelamatkannya dari musuhnya.”
Begitu mendengar hal itu, hilangnya rasa sedih sang raja; ia langsung tersungkur sujud syukur kepada Allah dengan penuh ketundukan.
Allah mewahyukan kepada Nabi Sya’ya: “Katakan kepada raja agar ia mengambil air buah tin (ekstrak/getah tin), lalu mengoleskannya pada luka boroknya, maka ia akan sembuh.” Nabi Sya’ya menyampaikan pesan itu, raja melakukannya, dan ia pun sembuh.
Raja berkata kepada Nabi Sya’ya: “Mohonlah kepada Tuhanmu agar memberi kami sebuah tanda tentang apa yang akan Dia lakukan terhadap musuh kita ini.”
Allah berfirman kepada Sya’ya: “Besok pagi, mereka semua akan menjadi mayat, kecuali Sanjariib dan lima orang juru tulisnya.”
Keesokan harinya, mereka mendapati kenyataan persis seperti yang di firman kan allah. Raja keluar memeriksa tumpukan mayat untuk mencari Sanjariib, namun tidak menemukannya. Raja mengirim utusan untuk mengejarnya, lalu mereka berhasil menangkap Sanjariib bersama lima orang pengikutnya. Salah satu dari lima orang itu adalah Bukhtunnashar (yang kelak akan menjadi raja Babilonia).
Dialog Raja dengan Sanjariib
Raja bertanya kepada Sanjariib: “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang Tuhan kami lakukan terhadap kalian, saat kami dan kalian sama-sama sedang lengah?”
Sanjariib menjawab: “Sungguh, berita tentang Tuhan kalian dan pertolongan-Nya bagi kalian sudah sampai kepadaku sebelum aku berangkat dari negeriku. Namun aku tidak mematuhi pemberi nasihat, dan kurangnya akal sehatku telah menjatuhkanku ke dalam kesengsaraan ini.”
Raja berkata: “Sesungguhnya Tuhan kami tidak membiarkanmu dan orang-orangmu hidup karena kemuliaanmu di sisi-Nya… melainkan Dia membiarkan kalian hidup agar kalian bertambah sengsara di dunia dan disiksa di akhirat, serta agar kalian bisa mengabarkan kepada orang-orang di belakang kalian tentang apa yang telah kalian saksikan dari perbuatan Tuhan kami terhadap kalian.”
Kemudian sang Raja (Shiddiqah) memperlama siksaan terhadap mereka (para tawanan). Sanjariib berkata: “Kematian itu lebih baik daripada apa yang kau lakukan ini.”
Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Sya’ya agar melepaskan Sanjariib dan pengikutnya supaya mereka bisa memberi peringatan kepada orang-orang di belakang mereka (di negerinya).
Sanjariib pun pulang ke Babilonia dan menceritakan apa yang terjadi. Kaumnya berkata: “Kami sudah melarangmu tapi kau tidak patuh. Mereka adalah umat yang tidak akan bisa dikalahkan oleh siapa pun selama Tuhan mereka bersama mereka.”
Naiknya Bukhtunnashar dan Perpecahan Bani Israil
Tujuh tahun kemudian Sanjariib meninggal, dan posisinya sebagai raja digantikan oleh Bukhtunnashar. Ia mengikuti jejak pendahulunya namun tetap menjaga jarak dari Bani Israil (belum menyerang).
Sampai akhirnya raja Bani Israil meninggal, dan mereka mulai berebut kekuasaan hingga saling bunuh satu sama lain. Nabi Sya’ya melarang perbuatan itu, namun mereka tidak mau mendengarkan.
Allah mewahyukan kepada Sya’ya: “Berdirilah di tengah kaummu, Aku akan menurunkan wahyu melalui lisanmu.” Allah pun membuat lisannya berucap wahyu:
يَا سَمَاءُ اسْتَمِعِي، وَيَا أَرْضُ أَنْصِتِي؛ فَإِنَّ اللَّهَ يُرِيدُ أَنْ يَقْضِيَ شَأْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Wahai langit dengarkanlah, wahai bumi simaklah! Sesungguhnya Allah hendak menetapkan urusan bagi Bani Israil yang telah Dia besarkan dengan nikmat-Nya dan Dia pilih untuk diri-Nya…”
يَتَقَرَّبُونَ إِلَيَّ بِذَبْحِ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ، وَلَيْسَ يَنَالُنِي اللَّحْمُ وَلَا آكُلُهُ… وَأَيْدِيهِمْ مَخْضُوبَةٌ مِنْهَا (الأنفس)، وَثِيَابُهُمْ مُتَزَمِّلَةٌ بِدِمَائِهَا
“Mereka mendekatkan diri kepada-Ku dengan menyembelih sapi dan kambing, padahal daging itu tidak sampai kepada-Ku dan Aku tidak memakannya. Mereka mengaku mendekatkan diri kepada-Ku namun tangan mereka berlumuran darah nyawa-nyawa yang Aku haramkan (pembunuhan), dan pakaian mereka berlumuran darahnya.”
يُشِيدُونَ لِي بِالْبُيُوتِ مَسَاجِدَ وَيُطَهِّرُونَ أَجْوَافَهَا، وَيُنَجِّسُونَ قُلُوبَهُمْ وَأَجْسَامَهُمْ وَيُدَنِّسُونَهَا
“Mereka membangun gedung-gedung masjid untuk-Ku dan membersihkan isinya, namun mereka menajiskan serta mengotori hati dan tubuh mereka sendiri.”
وَيُزَوِّقُونَ لِي الْمَسَاجِدَ وَيُزَيِّنُونَهَا، وَيُخَرِّبُونَ عُقُولَهُمْ وَأَخْلَاقَهُمْ وَيُفْسِدُونَهَا
“Mereka menghias masjid untuk-Ku dan mempercantiknya, namun mereka merusak akal serta akhlak mereka sendiri dan menghancurkannya.”
فَأَيُّ حَاجَةٍ لِي إِلَى تَشْيِيدِ الْبُيُوتِ وَلَسْتُ أَسْكُنُهَا؟!
“Maka apa perlunya Aku pada pembangunan gedung-gedung padahal Aku tidak tinggal di dalamnya?!”
وَأَيُّ حَاجَةٍ لِي إِلَى تَزْيِينِ الْمَسَاجِدِ وَلَسْتُ أَدْخُلُهَا؟!
“Dan apa perlunya Aku pada hiasan masjid-masjid padahal Aku tidak memasukinya?!”
إِنَّمَا أَمَرْتُ بِوَضْعِهَا لِأُذْكَرَ وَأُسَبَّحَ
“Sesungguhnya Aku hanyalah memerintahkan pembangunannya agar Nama-Ku disebut dan Aku disucikan (disembah) di sana.”
Maka Bani israil berkata : Kami telah merintih seperti rintihan burung merpati, dan kami telah menangis seperti raungan serigala, namun dalam semua itu doa kami tetap tidak dikabulkan.
Pertanyaan Allah kepada Bani Israil dan pemberitahuan akan datang nya Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam
قَالَ اللَّهُ : سَلْهُمْ مَا الَّذِي يَمْنَعُنِي أَنْ أَسْتَجِيبَ لَهُمْ؟
“Tanyakanlah kepada mereka, apa yang menghalangi-Ku untuk mengabulkan doa mereka?”
أَلَسْتُ أَسْمَعَ السَّامِعِينَ، وَأَبْصَرَ النَّاظِرِينَ، وَأَقْرَبَ الْمُجِيبِينَ، وَأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ؟
“Bukankah Aku adalah Yang Maha Mendengar di antara para pendengar, Maha Melihat di antara para pelihat, Maha Dekat di antara para pengabul doa, dan Maha Penyayang di antara para penyayang?”
فَكَيْفَ أَرْفَعُ صِيَامَهُمْ وَهُمْ يَلْبَسُونَهُ بِقَوْلِ الزُّورِ، وَيَتَقَوَّوْنَ عَلَيْهِ بِطُعْمَةِ الْحَرَامِ؟!
“Maka bagaimana mungkin Aku mengangkat (menerima) puasa mereka, sementara mereka menyelimutinya dengan perkataan dusta, dan mereka berbuka/bertenaga dengan makanan yang haram?!”
أَمْ كَيْفَ أُنَوِّرُ صَلَاتَهُمْ وَقُلُوبُهُمْ صَاغِيَةٌ إِلَى مَنْ يُحَارِبُنِي وَيُحَادُّنِي وَيَنْتَهِكُ مَحَارِمِي؟!
“Atau bagaimana mungkin Aku menyinari shalat mereka, sedangkan hati mereka condong kepada orang yang memerangi-Ku, menentang-Ku, dan melanggar aturan-Ku?!”
أَمْ كَيْفَ تَزْكُو عِنْدِي صَدَقَاتُهُمْ وَهُمْ يَتَصَدَّقُونَ بِأَمْوَالِ غَيْرِهِمْ؟!
“Atau bagaimana mungkin sedekah mereka suci di sisi-Ku, sedangkan mereka bersedekah dengan harta orang lain (hasil zalim)?!”
إِنَّمَا آجُرُ عَلَيْهَا أَهْلَهَا الْمَغْصُوبِينَ
“Sesungguhnya Aku hanyalah memberikan pahalanya kepada pemilik asli harta tersebut yang telah dirampas (oleh mereka).”
أَمْ كَيْفَ أَسْتَجِيبُ دُعَاءَهُمْ وَإِنَّمَا هُوَ قَوْلٌ بِأَلْسِنَتِهِمْ وَالْفِعْلُ مِنْ ذَلِكَ بَعِيدٌ؟!
“Atau bagaimana mungkin Aku mengabulkan doa mereka, sedangkan itu hanyalah ucapan di lisan mereka saja, sementara perbuatannya sangat jauh dari ucapan itu?!”
وَإِنِّي قَضَيْتُ يَوْمَ خَلَقْتُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ أَجْعَلَ النُّبُوَّةَ فِي الْأُجَرَاء “، وَأَنْ أَجْعَلَ الْمُلْكَ فِي
الرُّعَاءِ
“Dan sesungguhnya Aku telah menetapkan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi; bahwa Aku akan menjadikan kenabian pada para pekerja/buruh, dan menjadikan kekuasaan pada para penggembala.”
وَالْعِزَّ فِي الْأَذِلَّاءِ، وَالْقُوَّةَ فِي الضُّعَفَاءِ، وَالْغِنَى فِي الْفُقَرَاءِ، وَالْعِلْمَ فِي الْجَهَلَةِ، وَالْحِلْمَ فِي الْأُمِّيِّينَ
“Dan (Aku jadikan) kemuliaan pada orang-orang yang rendah (terhina), kekuatan pada orang-orang yang lemah, kekayaan pada orang-orang fakir, ilmu pada mereka yang sebelumnya bodoh, dan kebijaksanaan pada kaum yang buta huruf (Ummiyin).”
فَسَلْهُمْ مَتَى هَذَا ، وَمَنْ الْقَائِمُ بِهَا؟ مَنْ أَعْوَانُ هَذَا الْأَمْرِ وَأَنْصَارُهُ إِنْ كَانُوا يَعْلَمُونَ؟
“Maka tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil): Kapan hal ini terjadi, dan siapa yang akan menegakkannya? Siapakah pembantu dan penolong urusan ini jika mereka memang mengetahui?”
فَإِنِّي بَاعِثٌ لِذَلِكَ نَبِيًّا أُمِّيًّا لَيْسَ أَعْجَمِيًّا مِنْ عُمْيَانٍ ضَالِّينَ
“Sebab Aku akan mengutus untuk urusan itu seorang Nabi yang Ummi (buta huruf), bukan orang asing (Ajam), yang berasal dari tengah kaum yang sebelumnya buta dan sesat.”
لَيْسَ بِمُظٍّ وَلَا غَلِيظٍ، وَلَا صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا مُتَزَيِّنٍ بِالْفُحْشِ، وَلَا قَوَّالٍ لِلْخَنَا
“Ia bukan orang yang kasar, bukan pula orang yang keras hati, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak menghiasi diri dengan kekejian, dan tidak pula berucap kotor.”
أُسَدِّدُهُ لِكُلِّ جَمِيلٍ، وَأَهَبُ لَهُ كُلَّ خُلُقٍ كَرِيمٍ
“Aku akan membimbingnya kepada setiap keindahan, dan Aku anugerahkan kepadanya setiap akhlak yang mulia.”
أَجْعَلُ السَّكِينَةَ لِبَاسَهُ، وَالْبِرَّ شِعَارَهُ، وَالتَّقْوَى ضَمِيرَهُ، وَالْحِكْمَةَ مَعْقُولَهُ
“Aku jadikan ketenangan sebagai pakaiannya, kebajikan sebagai syiarnya, takwa sebagai isi hatinya, dan hikmah sebagai akal pikirannya.”
وَالصِّدْقَ وَالْوَفَاءَ طَبِيعَتَهُ وَالْعَفْوَ وَالْمَعْرُوفَ خُلُقَهُ، وَالْعَدْلَ سِيرَتَهُ، وَالْحَقَّ شَرِيعَتَهُ
“Kejujuran dan kesetiaan adalah tabiatnya, maaf dan kebaikan adalah akhlaknya, keadilan adalah jalan hidupnya, dan kebenaran adalah syariatnya.”
وَالْهُدَى إِمَامَهُ، وَالْإِسْلَامَ مِلَّتَهُ، وَأَحْمَدُ اسْمُهُ
“Petunjuk (hidayah) adalah pemimpinnya, Islam adalah agamanya, dan Ahmad (Nabi Muhammad ﷺ ) adalah namanya.”
أَهْدِي بِهِ بَعْدَ الضَّلَالَةِ، وَأُعَلِّمُ بِهِ بَعْدَ الْجَهَالَةِ، وَأَرْفَعُ بِهِ بَعْدَ الْخَمَالَةِ
“Aku memberi petunjuk melaluinya setelah kesesatan, Aku mengajar melaluinya setelah kebodohan, dan Aku angkat (derajat kaum) melaluinya setelah keterpurukan.”
وَأُغْنِي بِهِ بَعْدَ الْعَيْلَةِ، وَأَجْمَعُ بِهِ بَعْدَ الْفُرْقَةِ، وَأُؤَلِّفُ بَيْن قُلُوبٍ مُخْتَلِفَةٍ
“Aku berikan kekayaan melaluinya setelah kemiskinan, Aku kumpulkan (persatukan) melaluinya setelah perpecahan, dan Aku tautkan di antara hati yang berselisih.”
وَأَجْعَلُ أُمَّتَهُ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ، يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan Aku jadikan umatnya sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; mereka menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
يُصَلُّونَ لِي قِيَامًا وَقُعُودًا وَرُكَّعًا وَسُجُودًا، يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِي صُفُوفًا وَرُحُوفًا
“Mereka shalat untuk-Ku dalam keadaan berdiri, duduk, ruku’, dan sujud; mereka berperang di jalan-Ku dalam barisan yang rapat dan serbuan yang kuat.”
قُرْبَانُهُمْ دِمَاؤُهُمْ، وَأَنَاجِيلُهُمْ فِي صُدُورِهِمْ، رُهْبَانٌ بِاللَّيْلِ، لُيُوثٌ بِالنَّهَارِ
“Kurban mereka adalah darah mereka (syahid), kitab suci mereka (Al-Qur’an) ada di dalam dada mereka; mereka adalah rahib (ahli ibadah) di malam hari dan singa di siang hari.”
Syahidnya Nabi Sya’ya
Maka setelah Sya’ya selesai menyampaikan perkataannya, mereka (Bani Israil) menyerbunya untuk membunuhnya, lalu ia pun lari melarikan diri dari mereka.
Lalu ia menjumpai sebuah pohon yang terbelah untuknya, maka ia masuk ke dalamnya; namun mereka meletakkan gergaji di tengah pohon itu dan menggergajinya hingga mereka memotong pohon itu sekaligus memotong tubuhnya di tengah-tengah.
Kemudian Allah menggantikan raja mereka dengan seorang raja bernama Nashiah bin Amush, dan mengutus kepada mereka Irmiya (Yeremia) bin Hilqiya sebagai nabi.
(hasyiyah Ashowi ‘Ala Tafsir jalalain , 4/25)
Sumber rujukan :
1. Hasyiyah Ashowi ‘Ala tafsir jalalain , 4 / 23-25 (cetakan dar tahqiq al kitab)
Penulis : Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan