Setelah Nabi Sya’ya (yesaya) selesai menyampaikan wahyu dari Allah, Bani Israil langsung menyerbunya, dan kemudian ia kabur dari kejaran mereka
Lalu ia menjumpai sebuah pohon yang terbelah untuknya, maka ia masuk ke dalamnya; namun mereka meletakkan gergaji di tengah pohon itu dan menggergajinya hingga mereka memotong pohon itu sekaligus memotong tubuhnya di tengah-tengah.
Kemudian Allah menggantikan raja mereka dengan seorang raja bernama Nashiah bin Amush, dan mengutus kepada mereka Irmiya (Yeremia) bin Hilqiya sebagai nabi.
Firman Allah kepada Bani Israil
Allah berfirman :
“Dan sesungguhnya Aku (Allah) telah bersumpah demi kemuliaan-Ku; niscaya akan Aku timpakan kepada mereka fitnah (ujian/bencana) yang membuat orang santun sekalipun menjadi kebingungan, dan niscaya akan Aku kuasakan atas mereka seorang penguasa diktator yang kejam yang Aku pakaikan padanya kewibawaan dan Aku cabut rasa kasih sayang dari dadanya”
Maka Allah menguasakan Bukhtanasar (Nebukadnezar II penguasa Kekaisaran Babilonia Baru dalam Dinasti Kasdim yang berkuasa ~605 SM-562 SM) atas mereka. Ia keluar dengan membawa enam ratus ribu panji (pasukan) dan memasuki Baitul Maqdis bersama bala tentaranya. Ia membantai Bani Israil hingga membinasakan mereka, serta menghancurkan Baitul Maqdis yang merupakan salah satu rumah (ibadah) yang paling agung.
Baitul Maqdis tersebut dibangun oleh Allah untuk Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salam. Jin ditundukkan untuknya sehingga mereka mendatangkan emas, perak, dan logam-logam kepadanya. Mereka juga mendatangkan permata, yaqut (rubi), dan zamrud, lalu membangunnya dengan jenis-jenis (perhiasan) tersebut.
Kemudian (Bukhtanasar) mengangkut logam-logam dan harta benda tersebut di atas seratus tujuh puluh ribu kereta, lalu menyimpannya di Babilonia. Dan mereka menetap di sana dengan mempekerjakan Bani Israil dalam kehinaan dan siksaan selama seratus tahun.”
Maka peristiwa ini merujuk pada firman Allah Ta’ala :
فَإِذَا جَاءَ وَعَدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ
“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar…” (QS. Al-Isra: 5)
(Yang dimaksud hamba-hamba tersebut adalah) Bukhtanasar (Nebukadnezar) dan bala tentaranya.
Pemerintahan Bukhtanasar (Nebukadnezar II)
Bukhtanasar (Nebukadnezar) berkuasa di kerajaannya selama waktu yang dikehendaki Allah. Lalu ia melihat sebuah mimpi yang menakjubkan; ia melihat sesuatu yang menimpanya namun ia lupa apa yang dilihatnya itu.
Maka ia memanggil Daniel, Hananya, Azarya, dan Misyael—mereka adalah keturunan para nabi dan menanyakan tentang mimpi itu kepada mereka. Mereka berkata: “Beritahukanlah (isi mimpi itu) kepada kami, niscaya kami akan beritahukan takwilnya (maknanya) kepadamu.”
Ia menjawab: “Aku tidak mengingatnya. Jika kalian tidak memberitahukan kepadaku isi mimpi itu beserta takwilnya, niscaya akan aku cabut bahu-bahu kalian (hukuman mati).”
Maka mereka keluar dari hadapannya lalu berdoa kepada Allah, dan Allah pun memberitahukan kepada mereka apa yang ditanyakan raja. Mereka datang menemui raja dan berkata:
”Engkau melihat sebuah patung yang kedua telapak kaki dan betisnya dari tembikar (tanah liat), kedua lutut dan pahanya dari tembaga, perutnya dari perak, dadanya dari emas, serta kepala dan lehernya dari besi.”
Raja berkata: ”Kalian benar.”
Mereka melanjutkan: ”Saat engkau sedang melihatnya dan merasa kagum, Allah mengirimkan sebongkah batu besar ke patung itu lalu menghancurkannya, itulah yang membuatmu lupa.”
Mereka melanjutkan: ”Saat engkau sedang melihatnya dan merasa kagum, Allah mengirimkan sebongkah batu besar ke patung itu lalu menghancurkannya, itulah yang membuatmu lupa.”
Raja berkata: ”Kalian benar, lalu apa takwilnya?”
Mereka menjawab: ”Sesungguhnya engkau diperlihatkan tentang raja-raja dari para raja; sebagian mereka ada yang kerajaannya lebih lembut, sebagian ada yang lebih indah, dan sebagian ada yang lebih kuat. Tembikar adalah yang paling lemah, lalu di atasnya tembaga yang lebih kuat darinya, lalu di atas tembaga ada perak yang lebih indah dari itu, dan emas lebih indah dari perak. Kemudian besi adalah kerajaanmu, ia lebih kuat dari yang sebelumnya. Adapun batu besar yang engkau lihat dikirim Allah dari langit lalu menghancurkannya, itu adalah seorang Nabi yang akan Allah utus, ia akan menghancurkan itu semua dan urusan (kekuasaan) akan berpindah kepadanya.”
Maka ketika Bukhtanasar bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk bumi, ia menyangka bahwa hal itu karena daya dan kekuatannya sendiri, lalu ia berkata kepada para sahabatnya: ‘Sungguh aku telah menguasai bumi.’”
(Hasyiyah Ashowi , 4/26)
Kesombongan Bukhtanasar (Nebukadnezar) dan kematian nya
(Bukhtanasar berkata kepada para pengikutnya):“Maka beritahukanlah kepadaku, bagaimana caranya agar aku bisa naik ke langit yang tinggi, lalu aku membunuh siapa pun yang ada di dalamnya dan menjadikannya sebagai kerajaanku.”
Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengirimkan seekor nyamuk kepadanya. Nyamuk itu masuk melalui lubang hidungnya hingga menggigit bagian selaput otaknya (أم دماغ).
Maka ia tidak pernah merasa tenang dan tidak bisa diam (karena rasa sakit yang luar biasa) hingga akhirnya ia mati.
Setelah ia mati, mereka membelah kepalanya, dan mereka mendapati nyamuk tersebut masih menggigit (melekat) pada selaput otaknya.
Kembali nya Bani Israil ke Negeri Syam dan Kedzoliman mereka
Setelah kematin Bukhtanasar berangkatlah sisa-sisa dari Bani Israil menuju Syam. Mereka pun bertambah banyak hingga keadaan mereka menjadi sangat baik, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Padahal saat itu kitab Taurat telah terbakar habis (saat penyerangan Bukhtanasar). Dan Nabi Uzair termasuk di antara para tawanan yang dibawa ke Babilonia.
Maka ketika ia kembali ke Syam, ia terus-menerus menangis siang dan malam, serta mengasingkan diri dari manusia. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah malaikat dalam wujud seorang lelaki dan bertanya: “Wahai Uzair, apa yang membuatmu menangis?”
Ia menjawab: “Aku menangis karena (hilangnya) Kitab Allah dan perjanjian-Nya, yang mana tidak akan baik urusan agama dan akhirat kami tanpa kitab tersebut.”
Malaikat berkata: “Apakah engkau ingin kitab itu dikembalikan kepadamu? Pulanglah, berpuasalah, bersucilah, dan bersihkan pakaianmu, lalu janjiku padamu adalah di tempat ini esok hari.”
Maka Uzair melakukannya. Lelaki (malaikat) itu datang membawa wadah berisi air, lalu memberinya minum. Seketika itu juga, Taurat terlukis (terpateri) di dalam dadanya.
Lalu ia kembali kepada Bani Israil dan mendiktekan isi Taurat kepada mereka, sehingga kitab itu kembali utuh seperti sedia kala.
Namun, Bani Israil kembali melakukan banyak bid’ah (perkara baru yang buruk) dan kemaksiatan; mereka mendustakan para nabi dan membunuhi mereka.
Dan yang terakhir diutus kepada mereka adalah Zakaria, Yahya, dan Isa. Mereka membunuh Zakaria dan Yahya, serta berniat membunuh Isa, namun Allah mengangkatnya (ke langit).
(Hasyiyah Ashowi , 4/27)
Sumber rujukan :
1. Hasyiyah Ashowi ‘Ala tafsir jalalain , 4 / 26-27(cetakan dar tahqiq al kitab)
Penulis : Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan