Nabi Musa adalah putra Imran yakni utusan Bani Israil, dari keturunan Lewi bin Yakub. Inilah pendapat yang benar yang telah disepakati oleh riwayat-riwayat yang sahih.
Tidaklah mencoreng kedudukan beliau (sebagai Nabi) fakta bahwa beliau belajar dari Khidir; karena sosok yang telah sempurna pun tetap bisa menerima kesempurnaan (tambahan ilmu), baik kita berpendapat bahwa Khidir adalah seorang nabi maupun seorang wali. Maka pengambilan ilmu (Nabi Musa) darinya tidaklah merendahkan martabat beliau bahwa beliau tetap lebih utama dari Nabi Khidir; karena hal itu adalah sebuah keistimewaan khusus (maziyyah), dan keistimewaan pada satu sisi tidaklah mengharuskan keutamaan secara mutlak (afdhaliah).
Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa Rasulullah ﷺ, meskipun beliau adalah manusia yang paling berilmu, Allah tetap memerintahkannya untuk meminta tambahan ilmu dengan firman-Nya:
QS. Thoha: Ayat 114
وَقُل رَبِّ زِدْنِي عِلما
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
Maka cerita belajar nya nabi Musa kepada nabi Khidir terabadikan di
QS. Al-Kahf: Ayat 60
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”
Dalam ayat ini, Allah menceritakan betapa gigihnya tekad Nabi Musa untuk sampai ke tempat bertemunya dua laut yaitu Laut Romawi (Laut Tengah) dan Laut Persia (Teluk Arab) dari arah Timur, yaitu tempat yang menghimpun keduanya
Berapa tahun dan sampai kapan pun perjalanan itu harus ditempuh, tidak menjadi soal baginya, asal tempat itu ditemukan dan yang dicari didapatkan.(Hasyiyah Ashowi , 4/163)
Apa penyebab Allah memerintahkan Nabi musa untuk mencari hamba nya di antara kedua laut tersebut?
Awal mula di perintahkannya Nabi Musa
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadis: Bahwa Nabi Musa berdiri menyampaikan khutbah di hadapan Bani Israil, lalu beliau ditanya: “Siapakah manusia yang paling berilmu?” Maka beliau menjawab: “Aku.”
Maka Allah menegurnya karena beliau tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba di pertemuan dua lautan yang ia lebih berilmu daripadamu.”
Nabi Musa bertanya: “Wahai Tuhanku, bagaimana cara aku menemuinya?” Allah berfirman: “Bawalah seekor ikan lalu letakkan di dalam wadah (miktal), maka di mana pun kamu kehilangan ikan itu, di sanalah ia (hamba-Ku) berada.”
Maka Nabi Musa mengambil seekor ikan dan menaruhnya di dalam wadah, kemudian beliau berangkat bersama pemudanya (pendampingnya), yaitu Yusya’ bin Nun. (Yusya’ bin Nun adalah putra Afrayim bin Yusuf): Allah mengutusnya sebagai Nabi setelah wafatnya Nabi Musa عليه السلام. Kisah beliau telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan surah Al-Ma’idah.
ketika keduanya sampai di sebuah صخرة (batu besar), mereka merebahkan kepala lalu tertidur. Tiba-tiba ikan itu meronta di dalam wadah lalu keluar dan jatuh ke dalam laut.
Maka ikan itu mengambil jalannya di laut dengan meluncur (saraban), dan Allah menahan aliran air bagi ikan tersebut sehingga (bekas jejaknya) tampak seperti terowongan/lubang (thaq).
Ketika Musa bangun, temannya (Yusya’) lupa untuk mengabarkan perihal ikan tersebut, maka keduanya pun terus melanjutkan perjalanan selama sisa hari dan malam itu.
Hingga ketika keesokan paginya, Musa berkata kepada pemudanya: “Bawalah kemari makanan siang kita…” (dan pemuda itu menceritakan) bahwa ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang menakjubkan (‘ajaban).(Hasyiyah Ashowi , 4/167-169)
Bertemu nya Nabi Musa dengan Nabi khidir
Dikatakan Nabi Musa dan Yusya’ memasuki celah (bekas lintasan) ikan tadi, lalu mendapati hamba tersebut (Khidir) sedang duduk di sebuah pulau di tengah lautan. Pendapat lain mengatakan: Mereka berdua mendapati hamba tersebut di samping batu besar dalam keadaan berselimut kain putih; ujung kainnya berada di bawah kepalanya dan ujung lainnya di bawah kedua kakinya.
Lalu Nabi Musa mengucapkan salam kepadanya. Hamba itu pun mengangkat kepalanya, duduk dengan tegak, dan menjawab: “Wa’alaikas salam, wahai Nabi Bani Israil.”
Nabi Musa bertanya kepadanya: “Siapakah yang memberitahumu bahwa aku adalah Nabi Bani Israil?” Ia menjawab: “Dzat yang telah memberitahumu tentang keberadaanku dan menunjukkanmu kepadaku (yakni Allah).”
Kemudian Nabi Khidir berkata: “Sungguh, engkau memiliki kesibukan yang banyak (tugas kenabian) di tengah Bani Israil mengapa engkau kemari?.” Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Tuhanku mengutusku kepadamu agar aku mengikutimu dan belajar darimu.”
Maka Nabi Musa berkata :
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا [الكهف: 66]
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk (bagi diriku)?”
DI jawab oleh Nabi khidir:
إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا [الكهف: 67]
“Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.”
Yakni karena apa yang akan engkau lihat nanti (dalam perjalanan ini) tampak menyelisihi syariatmu secara luar nya saja (dzohir).
Maka Nabi Musa menjawab
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا [الكهف: 69].
“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.”
Yakni aku tidak akan mendurhakai perintah apa pun yang engkau perintahkan kepadaku.
Nabi musa membatasi ucapannya dengan masyi’ah (Insya Allah), karena beliau tidak merasa percaya diri (secara mutlak) atas kemampuannya sendiri dalam menunaikan komitmen tersebut, dan beginilah kebiasaan para Nabi dan para Wali. Mereka tidak pernah bersandar pada diri mereka sendiri meskipun hanya sekejap mata.
(Hasyiyah Ashowi , 4/167-170)
Bersambung di artikel selanjutnya
Siapa itu Nabi Khidir? (tambahan)
Imam Ashowi menjelaskan tentang ayat QS. Al-Kahf: Ayat 65 (Juz 15)
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
Lalu, mereka berdua bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami anugerahi rahmat kepadanya dari sisi Kami. Kami telah mengajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.
seorang hamba dari hamba-hamba Ialah Nabi khidir (ini adalah julukannya) Nama aslinya adalah Balya (بَلْيا) yang dalam bahasa Arab berarti Ahmad bin Malkan, dan (panggilannya) adalah Abu Al-Abbas.
Beliau dijuluki Al-Khidir karena apabila ia duduk di atas tanah, maka tanah tersebut menjadi hijau (khadhira) di bawahnya. Ada pula yang berpendapat: karena jika ia shalat, segala yang di sekitarnya menjadi hijau. Beliau termasuk keturunan Nabi Nuh, dan ayahnya adalah seorang raja.
Kenabiannya dishahihkan oleh sekelompok ulama. Dan mayoritas (ulama sufi/ahli kasyaf) berpendapat bahwa beliau masih hidup hingga hari kiamat karena telah meminum “Air Kehidupan” (Ma’ul Hayat).
Beliau sering bertemu dengan para wali pilihan dan mereka mengambil ilmu darinya. Beliau juga telah bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan mengambil ilmu dari beliau, sehingga beliau tergolong sebagai Sahabat.
(Hasyiyah Ashowi , 4/168)
Penulis: Mujiburrohman
Sumber rujukan:
حاشية العلامة الصاوي على تفسير الجلالين
الشيخ أحمد بن محمد الصاوي الخلوتي (١١٧٥ ١٢٤١٠هـ)
(دار تحقيق الكتاب)
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan