“sebuah kajian yang bertujuan untuk memahami alasan di balik dominasi atau keberhasilan dialek Quraisy dalam masyarakat Arab“
Bahasa Arab, tidak asing dan sering di dengar, bahkan setiap hari kita bisa mendengarkan bahasa arab lewat adzan yang di kumandangkan setiap lima waktu, dan bagi kita seorang muslim, bahasa arab adalah bahasa yang sangat historis bahasa yang di tuturkan Nabi Muhammad SAW dengan mujizat terbesar nya yaitu Al Quran Al Karim dengan segala kemuliaannya dan tentu Al Quran juga menyimpan keindahan Bahasa Arab yang tiada bandingannya.
Dalam sejarahnya Suku Quraisy memliki peran penting dalam berkembangnya bahasa arab pada masa Jahiliyah sampai masa di utusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir, dari keturunan Bani Kinanah yang jika di rentetkan silsilah nya akan samapai kepada Ismail Bin Ibrahim A.S.
Dalam Kitab Tarikh Adab al-Lughah al-Arabiyyah di jelaskan bahwa sastra Jahiliy di bagi menjadi dua bagian yaitu yang pertama sebelum abad ke-5 M, dan yang kedua dari abad ke-5 M sampai dengan kedatangan Islam ( awal permulaan abad ke-7 M) bahasa yang tumbuh dari abad ke-5 M sampai pada puncaknya di masa kedatangan islam yaitu kemenangan dialek Quraisy (Dialek Hijaz) atas dialek Tamim (Dialek Najd) dengan kemenangan itu dialek Quraisy menjadi dialek yang di pakai di seluruh bidang pada masa itu seperti pidato, sastra dalam bentuk prosa maupun syairnya.
Dan berikut adalah berbagai faktor yang menunjang kemenangan dialek Quraisy pada masa kejayaannya:
- Faktor Agama
Suku Quraisy menjadi penguasa pemerintahan Makkah pada masanya, persaingan antara kabilah kabilah di Makkah yang ingin Menjadi pelayan kabah waktu itu, bahkan kontak fisik antar kabilah sudah biasa terjadi, keberadaan kabah yang sangat di hormati oleh kabilah kabilah di Makkah bersandingn dengan air zamzam yang tidak pernah kering, mejadikan tempat beristirahat bagi para kabilah dari arah yaman yang ingin berpergian ke daerah Syam
Qushai Ibn Kilab sang pemuka Quraisy yang mampu menempatkan sukunya pada kedudukan yang tinggi sebagai penyelenggara pemerintahan Makkah, mengembalikan reputasi suku Quraisy sebagai suku yang paling berkuasa.
Jalaluddin as-Suyuthi, dalam Kitab Ad-Durr al-Mansyur fi Tafsiri Bil Ma’sur salah satu dari 7 keutamaan Suku Quraisy yaitu : mereka menyembah Allah selama tujuh tahun – dalam redaksi lain selama sepuluh tahun – saat tidak ada kaum selain mereka yang menyembah-Nya. Dan dalam segala urusan Suku Quraisylah yang memegang kekuasaan agama diantara suku-suku yang lain.
- Faktor Ekonomi
Bermula dari rombongan orang orang Yaman yang datang ke Makkah setelah terjadinya penjajahan di sana yang dilakukan oleh orang-orang Habsyi dan Persia pada Kerajaan Saba dan Himyar,pengaruh orang-orang Yaman sangat besar bagi perekonomian Makkah pada masa itu karena mereka ahli dalam bidan perniagan, hari terus berlanjut sampai didirikan nya Kabah dengan pelayanan Suku Quraisy yang sangat bagus kepada jamaah haji dari berbagai penjuru menjadikannya sangat di dihormati di kalangan kabilah kabilah di Jazirah Arab.
Secara geografis Makkah terletak di antara utara dan selatan, padang tandus nan gersang menyebabkan banyak para penduduknya merantau untuk berniaga, salah satunya adalah Syam tempat tujuan mereka, berjalan membawa barang dagangan, dan belajar perniaggaan dari perjalanan mereka, sampai bani Quraisy di kenal di berbagai penjuru jazirah arab.
Satu satunya suku yang di abadikan di dalam Al Quran dan dijadikan nama surat yaitu Surat Al-Quraisy:
لِإِيلَٰفِ قُرَيۡشٍ (1) إِۦلَٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِ (2) فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ (3) ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ (4)
Artinya :
Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy (1) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (sehingga mendapatkan banyak keuntungan), (2) maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah) (3) yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut (4).
- Faktor Politik
Setelah wafatnya Rasulullah SAW ada perselisihan antara siapa yang akan memegang kekuasaan daulah islam sebagai khalifah, perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar yang berakhir dengan jawaban dari Abu Bakar As Shidiq R.A yang sangat menarik yaitu, orang Arab tidak akan beragama kecuali karena adanya pusat kegiatan politik di tangan Quraisy, sebab itu janganlah saingi saudara-saudaramu itu dengan kelebiha yang telah di berikan Allah kepadanya.
- Faktor Musyawarah
Musyawarah sudah di kenal semenjak zaman pra-kenabian (jahilyyah) yang lakukan oleh kabilah kabilah bangsa Arab dalam perkumpulan perkumpulan untuk memecahkan suatu masalah, dari bertukar pikiran sampai hanya sekedar mnceritakan kisah kisah sejarah bangsa mereka.
Bagi Suku Quraisy sendiri musyawarah di gunakan sebagai wahana pengambilan keputusan, seperti kisah Qushai Ibn Kilab yang mempersatukan Suku Quraisy sampai mengalahkan Suku Khuzaah, yang semakin memperkuat Suku Quraisy sebagai pemimpin keagaaman tertinggi dan kepala Kota Makkah.
Sampai pada era Nabi Muhammad SAW, pada kejadian Hajar Aswad terjadi perselisihan antar kabilah, Rasulullah datang dengan membawa solusi yang sangat brilian, sampai beliau di juluki sebagai Al Amin, bahkan musyawarah juga datang dari kalangan kafir Quraisy yang ingin menghalangi dakwah dakwah Nabi Muhammad setelah legitimasi kenabian sejak periode Makkah.
Perjanjian yang dilaksanakan Rasulullah dengan orang orang Yastrib (dari Kabilan Auz dan Khajraj) sebelum Rasulullah datang hijrah ke Madinah menjadi wasilah tersalurnya dialek Quraisy, dialek yang digunakan kabilah kabilah setelah wafatnya Rasulullah tdiak lain adalah Dialek Quraisy.
- Faktor Pasar
Selain digunakan sebagai tempat untuk berdagang pasar di jazirah arab digunakan sebagai tempat untuk bersaing, dari syair syair yang indah yang di ciptakan dari berbagai kabilah, maupun persolan, baik itu tentang kemulian kemuliaan nenek moyng mereka, tentang senandung cinta, menciptakan suasana yang sangat meriah dengan perlombaan perlombaan syair, prosa, ataupun pidato, diantara pasar pasar itu adalah Ukkaz, Zul Majas, dan Zul Majannah, sebagai tempai para syair syair terkemuka berkumpul di sana, dan sekali lagi dialek yang digunakan di pasar pasar itu menggunakan Dialek Quraisy yang mana membekas dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi Dialek Quraisy.
Penulis : Dovan Khusnul Marom
Klik untuk membaca artikel terkait
kategori
- BERITA (267)
- DIWAN AS-SYI'RI (5)
- FEATURE (20)
- HASIL MUSYAWAROH (2)
- HIKMAH (8)
- KTI (109)
- MUTARJIM (3)
- OPINI (49)
- POLITIK (37)
- PROFIL ULAMA (53)
- Sastra Pesantren (1)
- SEJARAH (11)
- Tafsir Al-Qur'an (40)










Tinggalkan Balasan