Biografi K. Sumaidi Bin Mahmud Bin Muhsin: Sosok Ulama yang Berperan dalam Pendidikan dan Dakwah
KH. Sumaidi Bin Mahmud Bin Muhsin yang lebih akrab dengan sapaan Mbah Medi lahir di Kecamatan Sampang, Cilacap, pada 19 Desember 1949. Masa kecilnya dihabiskan untuk mempelajari Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama dari ayahnya serta para kyai di desanya. Sejak usia dini, beliau telah menunjukkan ketekunan dalam belajar agama, yang kelak menjadi fondasi kokoh dalam perjalanan ilmiahnya.
Pada usia 18 tahun, tepatnya pada 1967, KH. Sumaidi memulai pengembaraannya untuk menuntut ilmu. Tujuan pertama beliau adalah Pondok Pesantren Miftahul ‘Ulum di Lirab, Petanahan, Kebumen, yang diasuh oleh KH. Darmuji Ibrohim. Pesantren ini terkenal pada masanya dengan pengajaran yang fokus pada ilmu Nahwu dan Shorof. KH. Sumaidi berhasil mengkhatamkan kitab-kitab seperti Al-Jurumiyah, Al-Imrithy, Al-Maqshud, hingga Al-Fiyyah Ibnu Malik beserta seluruh penjelasannya, bahkan menghafal seluruh matannya hanya dalam waktu tiga setengah tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Miftahul ‘Ulum, pada tahun 1970 beliau melanjutkan studinya di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy, Leler, Banyumas, yang diasuh oleh KH. Hisyam Zuhdi. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Banyumas. Di sini, KH. Sumaidi menghadapi tantangan besar dalam memahami kitab-kitab fiqih. Namun, berkat perhatian gurunya, KH. Hisyam Zuhdi, beliau mendapatkan bimbingan khusus melalui metode belajar sorogan. Selama tujuh bulan, beliau tekun mengikuti perintah gurunya untuk belajar langsung di bawah bimbingan beliau, hingga akhirnya KH. Hisyam memberikan pesan: “Lanjutkan sendiri ya Kang, nanti juga bisa sendiri.” Pesan tersebut dipegang erat oleh KH. Sumaidi, yang terus belajar dengan tekun selama tiga tahun di pesantren tersebut.
Setelah lima tahun menuntut ilmu di At-Taujieh, KH. Hisyam Zuhdi menikahkan KH. Sumaidi dengan Sumaryatun, putri Bapak Salimin. Dari pesantren ini, beliau menguasai berbagai disiplin ilmu agama seperti Balaghoh, Fiqih, dan Tasawuf. Sebelum meninggalkan Leler, KH. Hisyam berpesan bahwa tidak ada ulama di Rembang yang lebih alim daripada Kyai Manshur dan Kyai Hakim. Oleh karena itu, setelah menikah, KH. Sumaidi melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Pondok Pesantren Al-Islah, Lasem, Rembang, yang diasuh oleh KH. Hakim Masduqi.
Di Pesantren Al-Islah, beliau sempat belajar bersama putra gurunya di Leler, yaitu KH. ‘Athourrohman Hisyam, yang menjadi salah satu pengajar di sana. Ilmu-ilmu berat seperti Mantiq, Ushul Fiqh, dan Qawaidul Fiqh dipelajarinya dengan penuh semangat. Setelah lima tahun belajar di sana, tepatnya pada tahun 1980, beliau kembali ke kampung halamannya di Cilacap.
Peran KH. Sumaidi dalam Masyarakat
KH. Sumaidi memiliki peran penting dalam masyarakat, khususnya dalam bidang dakwah. Selama lebih dari 25 tahun, beliau secara konsisten mengajarkan kitab Tafsir Munir dari awal hingga akhir, serta kitab Tafsir Al-Jalalain setiap Ahad pagi. Selain itu, beliau juga membacakan kitab Sa’adah Al-Mubtadiin setiap malam Ahad dan kitab Fathul Mu’in setiap malam Jumat. Aktivitas ini merupakan wujud dedikasi beliau dalam menyebarkan ajaran Allah SWT dan mengikuti jejak Rasulullah SAW.
Di samping mengajar di masyarakat, KH. Sumaidi juga berperan sebagai pengajar di Madrasah Diniyyah Andalusia atas panggilan dari KH. Zuhrul Anam Hisyam (Abah Anam), putra gurunya. Bahkan, beliau juga mengajar di jenjang perguruan tinggi, yaitu di Dirosah Khossoh dan Ma’had Aly Andalusia. Disiplin ilmu yang diajarkannya, seperti Fathul Mu’in dan Alfiyyah Ibnu Malik, dikenal sebagai ilmu yang sulit, namun beliau mampu menyampaikannya dengan baik kepada para santri.
Selain itu, KH. Sumaidi juga menjadi salah satu ustadz di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Dengan ketekunan dan dedikasinya, beliau telah menjadi panutan dalam menyebarkan ilmu dan dakwah, serta menjadi sosok ulama yang berperan besar dalam membentuk generasi muslim yang berilmu dan berakhlak mulia.
Sumber : Wawancara ekslusif dengan KH. Sumaidi di Sampang, Cilacap.
Penulis : Ramah Tegar Pambudi/Rojih Hibatulloh










Tinggalkan Balasan