Apa perbedaan Astronomi dan Astrologi?
Astronomi adalah bidang ilmu yang mempelajari objek dan fenomena luar angkasa
Astrologi adalah praktik ramalan yang berdasarkan bahwa pergerakan benda langit dapat memengaruhi sifat manusia .Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam telah melarang memercayai astrologi , beliau berkata :
من ضدق كاهنا او عراف او منجما فقد كفر بما اانزل على محمد
“Barang siapa memercayai dukun atau peramal ataupun astrologi, maka sungguh ia telah kufur kepada apa yang telah di turun kepada Muhammad” HR. Ahmad
(Fawaidul makiyyah 57)
Adapun Astronomi bisa di ambil berikut:
Di setiap perawalan bulan ramadhan kita sering melihat ataupun mendengar tentang “sidang isbat” hasil dari melihat hilal bulan ramadhan untuk menetapkan besok puasa ataupun tidak.
Bagaimana bisa hanya melihat bulan para ulama menentukan awal bulan ramadhan? apakah disitu ada tanda tanda khusus? Ataupun apakah di bulan ada tulisan “udh masuk ramadhan bang” ?
Hal ini sudah sangat terang di jelaskan Al-Qur’an menyebutkan dalam QS. Al-Hijr: 16 (Juz 14):
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِيْنَۙ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang-orang yang memandang (langit itu).”
Istilah buruj (zodiak/gugusan bintang) digunakan untuk kumpulan bintang yang tidak beredar (planet), yang disebut sebagai bintang-bintang tetap (thawabit). Bintang-bintang tersebut berkumpul satu sama lain dalam jarak yang tidak berubah menurut penglihatan dari atmosfer.
Kelompok bintang tersebut membentuk pola berupa titik titik yang niscaya akan terbentuk rupa hewan,benda,ataupun mahluk. Oleh karena itu, manusia menamakan bintang-bintang tersebut sesuai dengan bentuk yang mereka lihat. Kelompok bintang ini terletak di garis lintasan Matahari.
(At-Tahrir wat-Tanwir, 6/200)
12 Gugusan Bintang menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi, kata buruj merujuk pada 12 gugusan bintang, yaitu:
1. Al-Hamal (Aries)
2. Ats-Tsaur (Taurus)
3. Al-Jauza’ (Gemini)
4. As-Sarthan (Cancer)
5. Al-Asad (Leo)
6. As-Sunbulah (Virgo)
7. Al-Mizan (Libra)
8. Al-‘Aqrab (Scorpio)
9. Al-Qaus (Sagitarius)
10. Al-Jadi (Capricorn)
11. Ad-Dalwu (Aquarius)
12. Al-Hut (Pisces)
Orbit Planet menurut Imam Jalaluddin Asy-Syuthi
Penjelasan tambahan dari mengenai “rumah-rumah” bagi tujuh planet yang beredar:
1. Mars (Al marikh) mempunyai Aries dan Scorpio
2. Venus (Az-zuhrah) mempunyai Taurus dan Libra
3. Merkurius (‘Utarid) mempunyai Gemini dan virgo
4. Bulan (Al-Qamar) mempunyai Cancer
5. Matahari (Asy-Syams) mempunyai Leo
6. Jupiter (Al-Musytari) mempunyai Sagitarius dan pisces
7. Saturnus (Zuhal) mempunyai Capricorn dan Aquarius
(Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, 2/243)
Perspektif Ahli Falak
Para ulama ahli penentuan waktu (ahli falak) terdahulu menamakannya dengan istilah yang sepadan dengan makna “rumah” atau “tempat”. Orang Arab menyebutnya buruj (benteng/gugusan) dan darat (lingkaran) sebagai bentuk metafora (isti’arah).
Mereka membayangkan bahwa itu adalah tempat-persinggahan bagi Matahari karena mereka menentukan waktu berdasarkan posisi Matahari di kubah langit pada siang hari. Hal ini didasarkan pada pengamatan bahwa Matahari tampak berjalan menyerupai busur lingkaran. Mereka membaginya menjadi dua belas tempat sesuai jumlah bulan dalam setahun Syamsiyah. Padahal, pada hakikatnya itu hanyalah arah bagi wilayah yang saling berhadapan antara Bumi dan sisi di balik Matahari dalam durasi tertentu.
Maka berdasarkan sistem yang ada pada (gugusan bintang) tersebut, dimungkinkanlah untuk menjadikannya sebagai tanda-tanda bagi waktu datangnya empat musim dan datangnya dua belas bulan. Maka mereka (para ahli terdahulu) menetapkan batasan-batasan imajiner bagi tanda-tanda tersebut; mereka menentukan posisinya di malam hari berdasarkan arah posisi Matahari di siang hari, dan mereka mengulang pengamatannya hari demi hari.
Setiap kali berlalu durasi satu bulan dalam setahun, mereka menetapkan tanda-tanda untuk bulan berikutnya pada arah yang berhadapan dengan posisi Matahari dalam durasi tersebut. Demikian seterusnya, hingga setelah dua belas bulan, mereka melihat bahwa mereka telah kembali berhadapan dengan arah yang mereka mulai darinya, maka mereka menjadikan hal itu sebagai satu tahun penuh (haul).
Dan jarak (lintasan) yang terbayang olehmu telah dilalui oleh matahari dalam kurun waktu satu tahun, mereka menamakannya Lingkaran Buruj (Ekliptika) atau Zona Buruj. Dan untuk membedakan antara kelompok-kelompok bintang tersebut, mereka memberinya nama-nama benda yang mereka serupakan dengannya, lalu mereka menyandarkan kata ‘Buruj’ (Gugusan) kepada nama-nama tersebut
Maka mereka menganggap zodiak Al-Hamal (Aries) sebagai bulan April, dan demikian seterusnya. Hal itu dikarenakan bertepatannya posisi Matahari pada waktu itu berada pada arah formasi bintang yang mereka serupakan dengan titik-titik garis gambar seekor domba jantan (Ram).
Dengan demikian, diyakini bahwa orang-orang terdahulu telah menetapkan tahun syamsiyah (matahari) dan membaginya ke dalam empat musim serta dua belas bulan sebelum mereka menetapkan urutan Buruj (zodiak) itu sendiri. Sesungguhnya mereka menetapkan Buruj hanyalah dengan maksud untuk menentukan waktu dimulainya musim-musim secara presisi, agar mereka mengetahui apa yang telah berlalu dari panjang nya musim dan apa yang telah terlewat
(At-Tahrir wat-Tanwir, 6/200)
Sejarah Penemuan
Adapun Bangsa yang pertama kali menggambar ilustrasi rasi bintang ini adalah bangsa Kaldania (Chaldean). Kemudian, ilmu mereka berpindah kepada bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa Arab yang kemudian mengenali, membukukan, dan menamakannya dengan bahasa mereka sendiri.
Oleh karena itu, Al-Qur’an menegakkan dalil melalui buruj atas keagungan kekuasaan dan keesaan Allah dalam penciptaan. Manusia telah mengetahui ketelitian sistemnya yang digunakan sebagai sarana penetapan waktu yang akurat bagi para pengamatnya.
(At-Tahrir wat-Tanwir, 6/201)
Penulis : Mujiburrohman
Sumber rujukan:
1. Hasyiyah ashowi Ala tafsir jalalain (Imam ashowi)
2. At tahrir wat tanwir (Imam Ibnu ‘asyur)
3. Fawaidul makkiyah (Sayyid ‘Alawi bin ahmad bin abdurrohman assegaf)
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan