Puasa Ramadan disyariatkan pada tahun ketiga Hijriah. Kata Ramadan berasal dari bahasa Arab رمض – يرمض yang berarti “membakar”. Dinamakan demikian karena pada bulan suci ini umat Islam membakar dosa-dosanya dengan ibadah puasa dan berbagai amal kebaikan. Dalam puasa Ramadan terdapat banyak keutamaan. Tidurnya orang yang berpuasa dihitung sebagai pahala, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada minyak misik, serta berbagai keutamaan lainnya.
Namun, kebanyakan orang hanya mengetahui sisi keutamaan bulan Ramadan, bukan rahasia yang terkandung di dalamnya. Padahal, terdapat banyak rahasia di bulan Ramadan yang hanya diketahui oleh Allah SWT, dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya secara pasti, bahkan Rasulullah SAW, seperti kepastian waktu datangnya Lailatul Qadar.
Selain itu, para ulama juga meneliti makna yang tersirat dalam lafaz “shaum”. Puasa dalam bahasa Arab disebut shaum, yang berarti menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan, dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dalam kitab Asrār al-Shiyām li al-Khawāsh wa al-‘Awām karya Sayyid Sholih bin Muhammad bin Sholih Al Ja’far, salah satu guru dari Syekh Fathi Al Hijazi. Dijelaskan makna filosofis huruf-huruf dalam lafaz shaum (صوم):
1.Huruf Shad (ص) menunjukkan makna shabr (sabar). Orang yang berpuasa dilatih untuk bersabar dalam menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa الصوم نصف الصبر “puasa adalah setengah dari kesabaran.”
2.Huruf Wawu (و) menunjukkan makna wara’ (kehati-hatian dalam beragama). Puasa melatih seseorang untuk berhati-hati dalam beribadah, bermuamalah dengan ikhlas, melakukan introspeksi diri, serta senantiasa mengingat Allah. Saat berpuasa, hati menjadi lebih lembut dan tumbuh rasa takut kepada Allah, sehingga mendorong seseorang untuk menjauhi perkara syubhat dan memperbanyak amal saleh.
3.Huruf Mim (م) menunjukkan makna muhsin, yaitu orang yang berbuat kebaikan. Berbuat baik mencakup seluruh aspek kebajikan: taat kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan perintah, menjauhi larangan, serta menghidupkan sunnah Rasul.
Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa para ulama tidak hanya membahas puasa dari segi hukum syariat dan keutamaannya saja, tetapi juga meninjau dari sisi filosofis dan makna yang tersirat dalam ibadah puasa tersebut.
Oleh : Rahman Agil Nur Zaman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan