“Carilah ilmu sampai ke negeri China” ungkapan penyemangat ini, mungkin sudah kita dengar semenjak kita duduk di bangku SD. Sebuah hadis singkat tetapi kaya akan makna dan tafsiran yang beragam, walaupun sanadnya bisa dikatakan lemah. Dengan salah satu maknanya yaitu himbauan betapa pentingnya berkelana demi mencari ilmu yang melimpah buana. Para ulama kita terdahulu juga sudah mengajarkan kita untuk keluar dari tanah kelahiran kita, berkelana menuju negeri orang demi menemukan pengetahuan.
Syaikh Mahmud Abdul Hamid Ali Yasin seorang guru tugas resmi dari universitas Al Azhar Cairo. Pada saat mengajarkan kitab Madarikul Marom tepatnya dalam pembahasan biografi Mualif beliau mengatakan.
السفر يعطي أكثر معرفة من السكون في بلده
“ Berkelana memberikan lebih banyak pengetahuan, di banding menetap di tanah kelahiran “.
Beliau melanjutkan dengan menceritakan bahwa tidak ada seorang ulama yang luas pengetahuannya kecuali dirinya pernah berkelana keluar dari tanah kelahirannya.
Sebut saja imam Al-Ghazali salah satu ulama besar bermazhab Syafi’i yang memiliki gelar Hujjatul Islam. Seorang ulama ahli fiqh, filsafat, dan tasawuf yang memiliki puluhan karangan terkemuka. Dirinya telah berkelana meninggalkan keluarga demi mencari ilmu sejak umur 15 tahun yaitu ke kota Jurjan. Dengan berguru kepada Syekh Abu Nasr al-Ismaili untuk mempelajari ilmu agama, bahasa Arab, dan bahasa Persia. Perjalanan keilmuan beliau tidak berhenti di situ saja, Melainkan terus mencari ilmu ke berbagai negeri.
Imam Syafii juga pernah berkata dalam bait syair
وسافِر فَفي الأَسفارِ خَمسُ فَوائِدِ تَغَرَّب عَنِ الأَوطانِ في طَلَبِ العُلا
Merantaulah dari kampung halaman demi meraih kemuliaan,
Sebab dalam perjalanan tersimpan lima keutamaan.
تَفَرُّجُ هَمٍّ وَاِكتِسابُ مَعيشَةٍ # وَعِلمٌ وَآدابٌ وَصُحبَةُ ماجِدِ
Lapangnya dada dari beban kesedihan,
Rezeki yang diraih, ilmu dan adab yang ditumbuhkan,
Serta persahabatan dengan jiwa-jiwa mulia nan terhormat.
Teruslah berkelana demi menimba ilmu, semoga kita dimudahkan dalam tholabul ‘ilmi wa khidmati ahlihi.
Tradisi merantau demi menuntut ilmu bukan sekadar kisah romantik para ulama terdahulu, melainkan warisan perjuangan yang relevan sepanjang zaman. Dari jejak Imam Al-Ghazali hingga bait-bait hikmah Imam Syafi’i, kita belajar bahwa keluasan ilmu tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keberanian melangkah keluar dari batas kebiasaan. Berkelana adalah proses pendewasaan jiwa, perluasan wawasan, dan penguatan adab. Semoga semangat thalabul ‘ilmi ini terus hidup dalam diri kita, sehingga setiap langkah yang ditempuh di jalan ilmu menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, sekaligus bekal untuk mengabdi kepada agama dan umat
Oleh : Achmad Labibul Afngal
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan