Ma’had Aly Andalusia — Kongres IV Dewan Eksekutif Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Andalusia resmi digelar pada Kamis, 21 Mei 2026 bertempat di Auditorium Aly Andalusia. Kegiatan tahunan tersebut mengusung tema “Merajut Integritas Bangsa: Peran Strategis Mahasantri sebagai Perekat Sosial dalam Keberagaman.” Kongres menjadi forum besar evaluasi organisasi sekaligus ruang penyusunan arah gerak kepemimpinan mahasantri ke depan.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Imdadurrohman yang berlangsung khidmat dan diikuti seluruh peserta kongres. Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan sambutan Mudir Ma’had Aly Andalusia, Ustadz Agus Hilmy Mubarok.
Dalam wejangan dan arahannya, beliau menekankan bahwa pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual, namun juga harus cermat, visioner, serta mampu membangun akses dan jejaring baik secara internal maupun eksternal.
“Banyak orang cerdas, tetapi tidak semuanya mampu mengorganisir asrama mahasantri,” ungkap beliau di hadapan peserta kongres.
Dalam penjelasannya, Ustadz Hilmy mengibaratkan organisasi seperti merek kendaraan Toyota yang mampu bertahan lintas zaman dan diterima berbagai kalangan masyarakat dari dahulu hingga sekarang. Menurut beliau, terdapat empat prinsip penting yang harus ditiru organisasi mahasiswa, yakni visi dan misi yang jelas, proses yang berkelanjutan, jejaring yang luas, serta perbaikan yang terus-menerus dilakukan.
Beliau juga menegaskan bahwa tantangan dan problematika merupakan bagian penting dalam proses pendewasaan seorang pemimpin. Menurutnya, semakin banyak masalah yang dihadapi, maka semakin dewasa pula pola berpikir seseorang dalam mengambil keputusan.
“Orang yang kuat bukanlah orang yang tidak memiliki tantangan, tetapi orang yang mampu menghadapi banyak tantangan dan mencari solusi,” tutur beliau.
Selain itu, beliau menjelaskan bahwa dasar sebuah organisasi harus memiliki tiga unsur utama, yakni program kerja yang jelas, evaluasi yang berjalan, serta sistem penilaian yang terukur. Tanpa ketiga hal tersebut, organisasi dinilai akan kehilangan arah dan perlahan mati.
Menutup sambutannya, Ustadz Hilmy menyampaikan bahwa perjalanan seorang pemimpin bukan tentang mencari kenyamanan, melainkan tentang kesiapan menghadapi persoalan dan menemukan solusi atas persoalan tersebut.
“Traveling seorang pemimpin bukan di zona nyaman, tetapi mencari masalah dan mencari solusi,” pungkasnya.
Usai sambutan, Kongres IV resmi dibuka dan dilanjutkan dengan rangkaian sidang pleno. Sidang Pleno I dipimpin oleh presidium sementara dengan agenda pembacaan tata tertib kongres serta pemilihan presidium tetap. Selanjutnya, Sidang Pleno II dipimpin presidium tetap dengan pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Dalam Sidang Pleno II tersebut, terdapat beberapa penambahan dan pembahasan baru pada AD/ART organisasi. Di antaranya terkait ketentuan KPU dan partai mahasantri, tata cara pengunduran diri dari kepengurusan DEMA, hingga penegasan bahwa Presiden Mahasantri tidak hanya bertanggung jawab terhadap kegiatan Ma’had Aly, tetapi juga memiliki tanggung jawab koordinatif terhadap dinamika pondok secara umum.
Sementara itu, Sidang Pleno III diisi dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Kabinet Al-Iqtishod di bawah kepemimpinan Presiden Ma’had Aly Andalusia, Khazmi Manatul Akhyar. Dalam sidang tersebut, berbagai kementerian menyampaikan capaian program kerja selama kurang lebih satu periode kepengurusan beserta evaluasi dan berbagai masukan dari peserta kongres untuk kepengurusan berikutnya.
Beberapa usulan peserta kongres yang muncul dalam sidang pleno di antaranya ditujukan kepada Kementerian Dalam Negeri terkait perlunya pengawasan pada kegiatan malam agar pelaksanaan kegiatan berjalan lebih tertib dan terkontrol.


Selain itu, terdapat pula usulan kepada Kementerian Sosial mengenai sistem penguncian ruang kelas, yakni ruang kelas dikunci setelah kegiatan perkuliahan selesai dan dibuka kembali ketika kegiatan malam akan dimulai guna menjaga fasilitas tetap aman dan tertata.
Peserta kongres juga memberikan masukan kepada bidang Akademik dan Kesejahteraan Mahasantri (Adkesma), di antaranya terkait pemasangan CCTV di ruang kuliah, khususnya area maktabah, untuk meningkatkan keamanan fasilitas dan pengawasan lingkungan belajar. Selain itu, peserta juga mengusulkan pengembangan aplikasi input data maktabah agar dapat diakses melalui perangkat Android sehingga lebih memudahkan proses administrasi dan pendataan.
Sementara itu, usulan kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyoroti perlunya sistem bare minimum atau standar dasar pembelajaran media dan teknis organisasi agar proses regenerasi anggota tidak selalu dimulai dari nol setiap pergantian kepengurusan.
Kongres IV Ma’had Aly Andalusia ini menjadi momentum penting dalam proses evaluasi dan regenerasi kepemimpinan mahasantri. Melalui forum tersebut, diharapkan lahir formulasi organisasi yang lebih matang, sistematis, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi fondasi utama Ma’had Aly Andalusia
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan