“Kisah Saman di Andalusia: Tradisi yang Menghubungkan Generasi“
Di tengah gemuruh tepukan tangan dan irama tari, Siti Afiah Hanan, seorang santri dari Depok, membawa semangat baru ke Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Dengan penuh antusiasme, ia tidak hanya belajar, tetapi juga memperkenalkan Tari Saman, sebuah warisan budaya yang akan menjadi bagian penting dalam sejarah pesantren ini. Aksinya menciptakan momen berharga yang menginspirasi banyak orang dan menghidupkan tradisi tari yang penuh makna
Cerita ini bermula pada suatu malam yang tenang, ketika Pondok Andalusia menyambut malam Pelantikan Bantara Pramuka. Setiap regu diwajibkan menampilkan pentas seni, dan di sinilah Afiah, yang kala itu masih duduk di kelas 10, mempersembahkan Tari Saman, tari tradisional asal Aceh yang sudah ia pelajari sejak di bangku SMP. Meski awalnya diragukan oleh sebagian teman-temannya, langkah kaki yang serentak dan ketukan tangan yang ritmis pada malam itu membuka lembaran baru di Andalusia.
Bukan tanpa tantangan. Di awal kemunculannya, banyak pro dan kontra. Sebagian teman-teman santri merasa Tari Saman tak selaras dengan lingkungan pondok pesantren, yang begitu kental dengan pendidikan agama. Namun, di tengah gelombang ketidaksetujuan itu, Afiah tak sendiri. Guru-guru SMP dan SMA mendukung penuh, menyadari bahwa Saman bukan sekadar tarian, tapi juga sebuah seni yang mengajarkan kekompakan, keselarasan, dan semangat kebersamaan.
Perjuangan Siti Afiah Hanan tak pernah mudah. Waktu latihan yang terbatas—sering kali di malam hari, saat sebagian santri sudah beristirahat—menjadi tantangan tersendiri. Dengan penuh kesabaran, ia merangkul rekan-rekannya untuk tetap berlatih meski lelah setelah seharian beraktivitas. Ketika semua orang tertidur, ia dan timnya masih terus berlatih dalam hening, menyempurnakan gerakan demi gerakan yang kini menjadi simbol kekompakan.
Tak hanya itu, gerakan Tari Saman yang terkesan sederhana ternyata penuh dengan teknik yang sulit. Salah satu tantangan terbesar adalah gerakan tanpa lagu, di mana para penari harus mampu merasakan ketukan tanpa alunan musik. “Tari Saman harus menyatu, bersama-sama,” katanya dalam sebuah wawancara. “Jika satu orang tidak fokus, seluruh tarian bisa kacau.” Inilah tantangan terbesar dalam Tari Saman: keselarasan gerak, rasa kebersamaan, dan kekompakan yang tak terputus.
Namun, waktu membuktikan segalanya. Tari Saman yang semula tampil sederhana dan hanya melibatkan beberapa orang, kini menjadi ikon Andalusia, memukau dalam setiap perhelatan besar. Dari haflah, malam ta’aruf, hingga penyambutan tamu penting, Tari Saman selalu menjadi bintang yang tak tergantikan. Setiap gerakan tangan yang berirama, setiap tepukan yang terjalin dalam harmoni, membuat siapa pun yang menyaksikannya terpesona.
Kebanggaan itu tak berhenti di sana. Setiap tahunnya, jumlah santriwati yang ingin ikut serta dalam Tari Saman semakin bertambah. Afiah menceritakan dengan bangga bahwa personelnya bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dari waktu ke waktu. “Dulu kami hanya beberapa orang, sekarang setiap event kami bisa tampil dengan formasi yang lebih besar,” katanya.
Perubahan besar lainnya datang dari gerakan yang lebih variatif. Terinspirasi dari pembukaan Sea Games 2019, gerakan-gerakan baru ditambahkan, menjadikan Tari Saman di Andalusia semakin megah. Perpaduan antara tradisi dan modernitas ini menjadikan setiap penampilan lebih hidup, lebih berwarna.
Pada akhirnya, perjuangan Afiah tak sia-sia. Ia merasa terharu melihat Tari Saman yang terus berkembang, meski ia telah menyelesaikan masa belajarnya di pondok. Ia mengenang masa-masa di mana ia harus menahan rasa ngantuk dan lelah demi mempertahankan semangat timnya. Kini, perjuangan itu berbuah manis. Tari Saman menjadi salah satu ciri khas Andalusia, sebuah warisan yang hidup dan terus berkembang di tangan generasi penerus.
Dengan bangga, ia menitipkan pesan kepada para adik-adiknya, “Cintailah Tari Saman, karena Tari Saman adalah bagian besar dari Andalusia. Kalian adalah penerusnya, jangan pernah puas dengan apa yang kalian capai sekarang. Terus kembangkan, karena banyak orang di luar sana melihat Andalusia melalui kesenian, dan salah satunya adalah Tari Saman.”
Siti Afiah Hanan telah menorehkan jejak yang tak akan terlupakan di Andalusia. Dari seorang santri dengan impian sederhana, hingga kini menjadi bagian dari sejarah pondok yang penuh makna. Dan hingga kini, di setiap tepukan tangan yang bergema di acara-acara besar, Tari Saman terus menjadi saksi atas semangat yang tak pernah padam, sebuah simbol kebersamaan yang tak pernah lekang oleh waktu.
Penulis : Ihsanul Kamal










Tinggalkan Balasan