Imam Ashowi menjawab: Bahwa sesungguhnya keimanan itu hanya akan menjadi sempurna dengan adanya Ar-Raja’ (pengharapan) dan Al-Khauf (rasa takut). Maka kalimat :
الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yaitu orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Merupakan jawaban untuk membangkitkan rasa harap yang sempurna ( يُوجِبُ الرَّجَاءَ الْكَامِلَ), dan kalimat setelahnya:
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
Bukan jalan mereka yang dimurkai
Merupakan jawaban untuk membangkitkan rasa takut yang sempurna (يُوجِبُ الْخَوْفَ الْكَامِلَ). Maka dengan demikian, keimanan pun menjadi kuat berkat adanya keseimbangan antara rasa harap dan rasa takut tersebut. (Hasyiyah Ashowi, 1/76).
Kedudukan bahasa
Kata غَيْرِ (Ghairi) dibaca majrur (kasrah) berdasarkan kesepakatan sepuluh imam Qira’ah. Ia berkedudukan sebagai Sifat bagi kata (Alladzina an’amta ‘alaihim/الَّذِينَ أنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) atau sebagai Badal (pengganti) darinya. Sesungguhnya Imam Az-Zamakhsyari dalam kitab Al-Kasysyaf lebih mendahului penjelasan sisi Badal karena pembahasannya lebih ringkas, agar ia bisa segera beralih menjelaskan sisi Sifat (yang lebih kompleks).
Hal ini karena ia ingin mengulas bagaimana sahnya sebuah kata Ma’rifah (tertentu) disifati oleh kata (Ghairi/غَيْرِ), padahal kata tersebut secara asal tidak bisa menjadi ma’rifah (meskipun bersambung dengan kata lain). Padahal sebenarnya, menjadikan kalimat (Ghairi al-maghdhub/غَيْرِ المَغْضُوبِ) sebagai Sifat bagi (Alladzina) adalah pendapat yang paling kuat (Al-Wajhu), dan begitulah Imam Sibawaih menginstruksikannya
Maka penyifatan (at-taushif) menggunakan kata Ghairi adalah dengan pertimbangan bahwa frasa “orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” tidaklah dimaksudkan untuk merujuk pada kelompok tertentu yang spesifik. Sehingga, status kema’rifatannya(kekhususan nya) melalui shilah (kalimat penghubung yaitu berupa الذي) tersebut kedudukannya sama dengan kata yang dimakrifatkan dengan Alif Lam Jinsiyyah ( Alif-Lam Ta’rif yang berfungsi menunjukkan jenis, hakikat, atau kategori suatu kata benda (isim) secara umum, bukan individu tertentu.) atau yang disebut oleh para pakar Ilmu Ma’ani sebagai Lam al-‘Ahd adz-Dhihni. (salah satu jenis dari Alif Lam Ta’rif (yang bersifat menunjukkan sesuatu yang telah diketahui/ Al-Ahdiyyah)
(Hasyiyah Ashowi, 1/192)
Penulis:Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan