Sudah tak asing lagi bagi santri-santri pondok pesantren, khususnya pesantren salafi, siapakah sosok abdi ndalem itu. Ya, abdi ndalem di pesantren adalah sosok santri yang mengabdikan dirinya dan mengikhlaskan semua jerih payahnya untuk sang guru, keluarga guru, dan untuk pondok. Lebih dari itu, santri abdi ndalem adalah figur keteladanan bagi para santri dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Istilah abdi ndalem berawal dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, yaitu istilah bagi orang-orang yang telah menjanjikan dirinya untuk mengabdikan diri kepada sang raja dan menjalankan semua perintah-perintahnya. Kemudian, karena adanya kesamaan peran maupun tugas, serta kebanyakan pondok pesantren salaf berdampingan dengan keraton yang ada di Pulau Jawa, istilah abdi ndalem ini digunakan sebagai julukan bagi santri yang berkhidmah kepada sang guru.
Julukan ini sudah sangat melekat di telinga para santri dan juga masyarakat. Kadang ada pula yang menyebutnya khodim, yang berasal dari bahasa Arab yang artinya “pembantu”. Ada juga yang menyebutnya kakang-kakang ndalem (kakak senior laki-laki) dan mbak-mbak ndalem (kakak senior perempuan).
Abdi ndalem ini biasanya tinggal di kompleks ndalem atau rumah sang guru, guna mempermudah sang guru memanggilnya jika membutuhkan bantuan dalam urusan-urusan ndalem. Seperti menyiapkan daharan (hidangan) untuk keluarga maupun untuk tamu yang hendak sowan, merawat ndalem, nderekaken (mengantarkan dan mengiringi perjalanan kiai) ke luar daerah dalam rangka berdakwah, menjaga koperasi, menghantarkan laundry, menjaga ternak, dan lain sebagainya.
Jika dilihat dengan sebelah mata, masyarakat awam cenderung melihatnya seperti perbudakan karena sangat mirip dengan fenomena tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya abdi ndalem adalah seorang yang mencari keberkahan ilmu lewat perantara sang guru. Hal ini merupakan sebuah keharusan bagi santri untuk memperoleh keberkahan serta rida dari seorang guru, seperti yang dikatakan oleh Muhammad bin Alawi al-Maliki sebagai berikut:
“ثَبَاتُ الْعِلْمِ بِالْمُذَاكَرَةِ، وَبَرَكَتُهُ بِالْخِدْمَةِ، وَنَفْعُهُ بِرِضَا الشَّيْخِ”
“Melekatnya ilmu itu dengan sering mengulang-ulang (mudzakarah), keberkahan ilmu dengan berkhidmah (mengabdi), dan manfaat ilmu dengan keridaan guru.”
Dikuatkan pula oleh perkataan seorang ulama:
“من خدم خدم”
“Barang siapa yang melayani (berkhidmah), maka dia akan dilayani.”
Kalimat ini bermakna bahwa siapa saja yang ikhlas berkhidmat, membantu, atau mengabdi kepada guru, ilmu, atau dakwah, kelak akan mendapatkan kemuliaan dan dilayani pula oleh orang lain atau oleh keadaan.
Hal ini juga dilakukan oleh sahabat Nabi, yaitu Anas bin Malik. Dialah orang yang mengabdikan hidupnya untuk melayani Muhammad selama sekitar sepuluh tahun. Berasal dari Bani An-Najjar, Anas bin Malik telah melayani kebutuhan Nabi Muhammad SAW sejak ia masih kecil, yakni berusia 10 tahun.
diriwayatkan oleh Imam at-Turmudzi (dalam Syamail Muhammadiyah) dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: “خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلَا لِمَا صَنَعْتُ: لِمَ صَنَعْتَهُ؟ وَلَا لِمَا لَمْ أَصْنَعْ: أَلَا صَنَعْتَهُ؟ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، وَلَا مَسَسْتُ خَزًّا قَطُّ وَلَا حَرِيرًا وَلَا شَيْئًا كَانَ أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا شَمَمْتُ مِسْكَةً قَطُّ وَلَا عِطْرًا كَانَ أَطْيَبَ مِنْ عَرَقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”
Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dengan sanadnya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Anas berkata, “Aku membantu Nabi SAW selama 10 tahun. Selama itu, beliau tidak pernah mengucapkan padaku “ah” sekalipun. Beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, ‘mengapa kau lakukan ini’. Dan sesuatu yang tak kulakukan, ‘mengapa kau tinggalkan ini’. Rasulullah SAW adalah orang yang terbaik akhlaknya. Aku tak pernah menyentuh sutra yang tebal maupun yang tipis, atau sesuatu yang lebih lembut dari tapak tangan Rasulullah SAW. Dan aku tak pernah mencium aroma parfum manapun yang lebih wangi dari keringat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kesimpulannya , dapat dipahami bahwa sosok abdi ndalem bukanlah sekadar pembantu atau pelayan dalam makna lahiriah semata. Ia adalah santri yang sedang menempuh jalan pengabdian sebagai wasilah untuk meraih keberkahan ilmu dan rida guru. Pengabdian yang dilakukan bukan karena paksaan, melainkan lahir dari kesadaran, kecintaan kepada ilmu, dan penghormatan kepada guru.
Oleh : Mahbub Atho’illah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan