Di zaman sekarang, orang-orang berlomba-lomba mencari penghasilan. Kerja keras dari pagi sampai malam. Tapi jarang yang benar-benar bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah sebagian dari rezeki ini kembali kepada orang lain?”. Hal ini berkaitan dengan ajaran Islam yang menanamkan nilai keseimbangan antara ibadah spiritual dan tanggung jawab sosial. Salah satu bentuk kepedulian sosial yang sangat ditekankan adalah infak di jalan Allah.
Berinfak merupakan amal yang sangat dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah SWT, seperti penjelasan pada kitab Mukhtashar Shahih Muslim karya Imam al-Mundziri dalam Bab Zakat (no. 529):
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ.
“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak (memberi rezeki) kepadamu.”
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berinfak, dan Allah akan mengganti dan melapangkan rezekinya. Perintah ini bukan sekadar ajakan sosial, melainkan janji langsung dari Allah bahwa setiap harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak akan sia-sia. Artinya, sumber rezeki tidak pernah menyusut, karena Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi.
Melalui hadis ini Rasulullah ﷺ ingin menanamkan keyakinan bahwa infak bukanlah sebab kemiskinan, tetapi justru pintu keberkahan. Rasa takut kekurangan sering kali membuat seseorang menahan hartanya, padahal sejatinya rezeki berada dalam genggaman Allah, bukan pada jumlah yang kita simpan.
Infak juga melatih hati agar tidak bergantung pada dunia. Dengan berbagi, seseorang belajar bahwa harta hanyalah titipan, dan sebagian di dalamnya terdapat hak orang lain. Semakin kuat keyakinan kepada janji Allah, semakin ringan pula tangan untuk memberi.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Imran bin Hushain, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Allah mencintai sifat dermawan dan membenci kekikiran. Hal ini menunjukkan bahwa kedermawanan bukan sekadar akhlak sosial, melainkan sikap hati yang mencerminkan keimanan dan kepercayaan penuh kepada Allah sebagai Pemberi rezeki.
Konteks ini juga berkaitan dengan firman Allah dalam (QS. Al Muzammil:20)
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah sebagai balasan yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.
Maka setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, sejatinya bukanlah untuk orang lain semata, melainkan kembali kepada diri kita sendiri. Apa yang kita keluarkan hari ini mungkin terlihat kecil di mata manusia, tetapi di sisi Allah nilainya bisa jauh lebih besar dan lebih kekal.
Karena itu, hendaknya kita tidak ragu untuk berbuat baik. Jangan menunda kebaikan hanya karena merasa sedikit, dan jangan takut memberi karena khawatir berkurang. Apa yang kita simpan bisa habis, tetapi apa yang kita infakkan akan tetap tersimpan di sisi Allah dengan pahala yang berlipat ganda.
Oleh : Regina Awalaelatul Khasanah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan