Di halaman pesantren, di antara debu langkah santri dan bunyi gesekan sandal, tumbuhlah putri malu. Kecil, sederhana, nyaris tak diperhatikan. Namun ia selalu ada, menyaksikan diam-diam perjalanan orang-orang yang belajar merendah demi meninggi. Di tempat yang riuh oleh suara hafalan dan diskusi kitab, ia tetap tenang dalam sunyinya. Putri malu itu seperti santri. Ketika disentuh pujian, ia menutup diri. Ketika dipandang berlebihan, ia menunduk. Bukan karena takut, melainkan karena malu yang terjaga. Ia tidak ingin daunnya terbuka untuk sekadar dikagumi, sebagaimana santri tidak ingin ilmunya menjadi alat untuk dipuji.
Di balik daunnya yang menutup karena sentuhan pujian, di situlah akar putri malu mencengkeram tanah dengan kuat. Begitu pula santri. Di luar tampak sederhana sarung lusuh, kitab usang, langkah pelan namun di dalam, ia menggenggam ilmu, sabar, dan niat yang panjang. Kekuatan sejati tidak selalu tampak di permukaan.
Santri diajari untuk tidak tergesa membuka diri.
Suatu ketika, halaman pesantren sepi. Angin sore berhembus pelan, dan putri malu kembali membuka daunnya, tenang dan utuh. Seperti santri yang kelak keluar dari pesantren tidak membawa kebanggaan kosong, tidak sibuk mengabarkan siapa dirinya. Ia melangkah dengan adab, sebab ia paham:
مَا نَفَعَ الْعِلْمُ إِلَّا بِالْعَمَلِ
Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan amal.
Ilmu bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk diamalkan. Setiap huruf yang ia pelajari bukan sekadar untuk dihafal, melainkan untuk membentuk akhlak. Seperti putri malu yang akarnya menghujam dalam tanah sebelum daunnya berani terbuka, begitupun santri menanam niatnya dalam-dalam sebelum melangkah ke dunia.
Pesantren mungkin tidak mengajarkan cara menjadi terkenal, tetapi ia mengajarkan cara menjadi bermanfaat. Dan kebermanfaatan itulah yang membuat langkah santri terasa ringan, meski jalannya panjang.Ia tahu, yang tumbuh pelan sering kali lebih kokoh. Yang belajar dalam diam sering kali lebih matang.
Dari putri malu, santri belajar satu hal bahwa menutup diri bukan tanda kalah, diam bukan berarti kosong, dan sederhana bukan berarti lemah. Santri bukan tentang terlihat hebat, tetapi tentang belajar rendah hati, menjaga adab, serta terus memperbaiki diri hingga ilmunya benar-benar berbuah dalam amal.
oleh : elok nailun
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan