Kajian kitab Mukhtashar Shahih Muslim menjadi salah satu materi penting yang sangat relevan bagi para santri. Kitab karya Imam al-Mundziri ini merangkum hadits-hadits sahih yang membahas berbagai aspek ajaran Islam, termasuk persoalan iman dan cabang-cabangnya. Dalam salah satu hadits yang dikaji dalam kitab ini , disebutkan :
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ -أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ- شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».
Artinya : Iman itu memiliki tujuh puluh lebih (atau enam puluh lebih) cabang. Yang paling utama adalah perkataan Laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim no. 35)
Pembahasan ini menjadi menarik ketika dikaitkan dengan realitas kehidupan santri di pesantren. Tidak sedikit santri yang memilih diam ketika tidak memahami pelajaran. Mereka enggan bertanya karena merasa malu takut dianggap kurang cerdas atau khawatir ditertawakan teman. Sikap ini sering dianggap sebagai bentuk implementasi hadits “malu sebagian dari iman.” Padahal, pemahaman tersebut perlu diluruskan.
Dalam riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, dari sahabat Imran bin Husain r.a., Rasulullah SAW bersabda :
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” Hadits ini menegaskan bahwa malu yang dimaksud adalah malu yang melahirkan kebaikan, bukan yang menghambat seseorang dari meraih ilmu atau melakukan hal yang benar.
Para ulama menjelaskan bahwa malu yang termasuk cabang iman adalah malu yang bersifat syar’i, malu karena kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi hamba-Nya. Malu jenis ini mendorong seseorang menjauhi maksiat dan memperbanyak kebaikan. Seorang santri yang malu berkata kotor, malu melanggar aturan pondok, atau malu berbuat curang adalah contoh nyata dari al-haya’ yang terpuji.
Sebaliknya, rasa takut berbicara, enggan bertanya, atau tidak berani menyampaikan pendapat karena minder bukanlah al-haya’, melainkan al-khajal (rasa rendah diri). Sikap ini justru dapat menghambat perkembangan ilmu dan kepercayaan diri santri. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama menegaskan bahwa tidak ada rasa malu dalam menuntut ilmu dan mencari kebenaran.
Melalui kajian Mukhtashar Shahih Muslim, para santri diajak memahami bahwa iman bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi memiliki banyak cabang yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Malu yang benar bukan alasan untuk pasif, melainkan kekuatan moral yang menjaga kehormatan diri sekaligus mendorong keberanian dalam kebaikan.
Dengan demikian, pesan “malu sebagian dari iman” hendaknya dipahami secara proporsional. Malu yang lahir dari iman akan menguatkan akhlak dan budi pekerti luhur, bukan melemahkan semangat belajar. Justru dengan pemahaman yang benar, santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang santun, percaya diri, dan berani menuntut ilmu demi kemaslahatan umat.
Oleh: Lu’lu’un Haniyah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan