Kita mengetahui dari cerita nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahwasanya bapak nya adalah penyembah berhala yang bernama “Azar” seperti yang di firman kan oleh allah subhanahu wa ta’ala :
QS. Al-An’am: Ayat 74 (Juz 7)
۞ وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةًۚ اِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, Apakah (pantas) engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Akan tetapi, bukan kah nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan nenek moyang nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasalam dengan nasab beliau sebagai berikut:
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib (Syaibah) bin Hasyim (Amr) bin Abdu Manaf (al-Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin an-Nadhr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim ‘alaihimaassalam.
Dari dua perkara di atas, terdapat pertanyaan: “Apakah benar ayah Nabi Ibrahim itu kafir?” Bukankah nenek moyang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada satu pun yang menyembah berhala? Hal ini merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
QS. Asy-Syu’ara’: 219
وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ
“Dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.”
Kata “fii” menurut perkataan mufasir bermakna “ma’a” (bersama). Ada pula yang berpendapat bahwa kata “fii” tetap pada makna aslinya, dan yang dimaksud dengan “orang-orang yang sujud” adalah orang-orang mukmin. Maknanya: Dia (Allah) melihatmu berpindah-pindah di dalam sulbi dan rahim orang-orang mukmin, mulai dari Adam hingga Abdullah, maka seluruh leluhur beliau adalah orang-orang mu’min.
(hasyiyah ashowi ‘alatafsir jalalain 4/246)
Bagaimana para mufasir menanggapi status bapak nabi ibrahim di QS. Al-An’am: Ayat 74 ?
Para ulama berbeda pendapat dengan hal tersebut
Pandangan Imam ashowi
Konsekuensi dari ayat ini dan ayat dalam surah Maryam menunjukkan bahwa Azar, ayah Ibrahim, adalah seorang kafir. Hal ini menimbulkan persoalan (iskyal) terhadap apa yang dinyatakan oleh para peneliti bahwa nasab Rasulullah ﷺ terjaga dari kesyirikan; tidak ada satu pun dari leluhurnya, mulai dari Abdullah hingga Adam, yang pernah bersujud kepada berhala. Hal itulah yang dikatakan mufasir mengenai firman Allah Ta’ala: Asy-Syu’ara’: Ayat 219 (Juz 19)
وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ
“Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di orang-orang yang sujud.”
Al-Bushiri juga berkata dalam Al-Hamziyyah:
وبدا للوجوه منك كريم # من کریم آباؤه کرماء
“Dan putih (bersinar) wajah-wajah karena dirimu, seorang yang mulia dari ayah yang mulia, yang leluhur-leluhur mereka pun orang-orang mulia.”
Dan hal itu dijawab bahwa mereka terjaga dari kesyirikan selama “Nur (cahaya) Muhammad” berada di tulang sulbi mereka; maka apabila nur tersebut telah berpindah, diperbolehkan (ada kemungkinan) bagi mereka untuk kafir setelah itu. Demikianlah yang dikatakan oleh para mufasir di sini.Hal ini berdasarkan pengakuan bahwa Azar adalah ayahnya.
Sebagian ulama juga menjawab dengan menolak bahwa Azar adalah ayahnya, melainkan ia adalah pamannya dan ia seorang yang kafir, sedangkan Tarikh adalah ayah kandungnya yang meninggal pada masa fatrah (masa kekosongan nabi) dan tidak terbukti pernah bersujud kepada berhala. Ia (Azar) disebut sebagai ayah hanyalah berdasarkan kebiasaan orang Arab yang menyebut paman dengan sebutan “أبو” ayah . Dan di dalam Taurat, nama ayah Ibrahim adalah Tarikh.
(Hasyiyah ashowi ‘ala tafsir jalalain 2/192)
Pandangan Imam abu hayyan
Secara lahiriah (Azar) adalah nama ayahnya; hal ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Al-Hasan, As-Suddi, Ibnu Ishaq, dan lainnya. Namun dalam kitab-kitab sejarah disebutkan bahwa namanya dalam bahasa Suryani adalah Tarikh. Yang lebih mendekati adalah bahwa timbangan dengan wazan فاعل. Berdasarkan hal ini, maka ia memiliki dua nama sebagaimana Yakub dan Israil. Dan kedudukan katanya adalah athaf bayan
(bahrul muhith 4/460)
Pandangan Imam Ibnu katsir
Telah sampai kepadaku
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ}
Bahwa itu adalah (kata) “A’waj” (bengkok/menyimpang) dan itu adalah kata paling keras yang diucapkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Kemudian Ibnu Jarir berkata: Dan yang benar bahwa nama ayahnya adalah Azar. Kemudian beliau mengajukan keberatan terhadap dirinya sendiri dengan pendapat para ahli nasab bahwa namanya adalah Tarikh, lalu beliau menjawab bahwa bisa jadi ia memiliki dua nama sebagaimana banyak orang, atau salah satunya adalah gelar. Dan apa yang beliau (Ibnu Jarir) katakan ini adalah baik lagi kuat, Wallahu A’lam.
(Tafsir Ibnu katsir 2/155)
Perdebatan ini merupakan bentuk ijtihad para ulama dalam memahami interaksi antara teks Al-Qur’an yang eksplisit dengan dalil-dalil lain mengenai kemuliaan nasab kenabian. Keduanya memiliki sandaran argumen masing-masing, baik dari sisi bahasa maupun riwayat.
Sumber rujukan:
1.Hasyiyah ashowi (Imam ashowi)
2.Bahrul muhith (Imam abu hayyan)
3.Tafsir Ibnu katsir (Imam ibnu katsir)
Penulis : Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan