Setiap daerah memiliki jejak sejarahnya sendiri. Yang mana terdapat perjuangan, keteladanan, dan pengorbanan orang-orang terdahulu yang perlahan membentuk wajah suatu tempat hingga dikenal banyak orang. Kisah-kisah tersebut tidak selalu tertulis dalam buku, tetapi hidup dalam ingatan masyarakat dan diwariskan secara turun menurun dari satu genarasi ke generasi berikutnya.
Secara sederhana, sejarah berarti cerita tentang masa lalu yang benar-benar terjadi. Dari sejarah kita dapat mengambil pelajaran, meneladani hal-hal baik, serta menghindar dari kesalahan yang pernah terjadi. Oleh karena itu, sejarah sering disebut sebagai guru kehidupan yang memberikan banyak hikmah bagi manusia.
Dalam Ramadan 1447 H ini, santri putri Pondok Pesantren At-Taujjieh Al-Islamy 2 Andalusia turut mengkaji kitab Tarojim karangan KH. Maimoen Zubair yang disampaikan langsung oleh Ibu Nyai Rodliyah Ghorro. Kitab tersebut membahas berbagai sejarah yang berkaitan dengan daerah Sarang. Dalam penjelasannya, beliau tidak hanya menerangkan isi kitab, tetapi juga kerap menyelipkan cerita tentang sejarah Sarang yang tidak tertulis di dalam kitab tersebut.
Kota Sarang, Rembang sudah sangat dikenal oleh masyarakat, khususnya di kalangan santri. Daerah ini terkenal sebagai salah satu pusat pendidikan pesantren besar di Indonesia. Karena banyaknya pesantren dan ulama yang lahir dari daerah tersebut, Sarang sering disebut sebagai “kota santri”.
Banyak ulama besar yang berasal dari Sarang. Keberadaan mereka tentu tidak terlepas dari perjuangan, doa, dan restu para orang tua, terutama seorang ibu. Di daerah ini juga terdapat sebuah makam yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Makam tersebut adalah makam Mbah Sari, yang merupakan nenek dari almaghfurllah Mbah Zubair Dahlan. Makam ini dikenal sebagai makam yang keramat dan memiliki kisah yang cukup menarik dalam sejarah Sarang.
Dahulu, Mbah Sari merupakan seorang santri yang mondok di pesantren. Namun, dalam perjalanan hidupnya beliau dijodohkan dengan seseorang dari kalangan orang biasa. Pada awalnya beliau sempat ingin menolak perjodohan tersebut, tetapi akhirnya beliau menerima dengan penuh keikhlasan.
Mbah Sari dikenal sebagai sosok yang sangat taat dan tekun dalam beribadah. Beliau sering melakukan tirakat dengan sungguh-sungguh. Tujuan dari tirakat tersebut adalah agar beliau dikaruniai keturunan yang alim dan berilmu.
Pada suatu hari, ketika Mbah Sari sedang sakit, beliau ditemani oleh Mbah Zubair. Saat itu Mbah Sari bertanya, “Ini hari apa?” Mbah Zubair yang mengetahui bahwa Mbah Sari tidak pernah meninggalkan puasa Senin–Kamis akhirnya menyebutkan hari yang berbeda, karena kekhawatirannya jika Mbah Sari tetap berpuasa dalam keadaan sakit, maka penyakitnya akan semakin parah.
Akhirnya, Mbah Sari mengetahui bahwa selama ini beliau telah dibohongi oleh cucunya. Beliau pun memarahi cucunya dan mengatakan bahwa cucunya tidak perlu lagi menemaninya. Mbah Sari justru menyuruhnya kembali ke pondok agar bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi orang alim.
Di sela-sela perkataannya, Mbah Sari juga mengucapkan hal yang sangat mengguncang. Beliau berkata bahwa jika suatu saat meninggal dunia, makamnya tidak perlu diberi patok atau tanda. Hal itu karena beliau tidak ingin dikenal oleh banyak orang. Beliau hanya ingin dikenang oleh anak dan cucunya saja.
Hingga saat ini makam Mbah Sari tidak diketahui secara pasti oleh banyak orang. Hal tersebut seakan menjadi bukti dari kerendahan hati dan keikhlasan beliau semasa hidupnya.
Oleh : LINI INAYATUL MUTMAINNAH
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan