Setelah penetapan resmi dari PPS Mahad Aly Andalusia pada Jumat, 16 Mei pukul 15.00 WIB, tensi politik Mahad Aly mencapai titik didih baru. Di tengah riuh dukungan massal dan deklarasi teatrikal dari kubu Eka dan Ihsan, satu kubu memilih diam, menunduk, dan bekerja: Koalisi Partai API.
Dan di balik diam itu, tersimpan bara panas yang kini kami buka dalam liputan eksklusif ini. Kami akhirnya mendapat akses ke balik tirai strategi Tim Pemenangan Khazmi, yang kini diperkuat oleh dua tokoh beratnya yaitu Khalim, mantan kader garis keras Imdad, yang namanya sempat disebut akan nyalon namun “tiba-tiba” lenyap dari radar. Kini, ia berpindah haluan dan menjabat sebagai Ketua Komunikasi dan Publikasi Tim Khazmi. Lalu ada Fazal Hijazi, Ketua Umum Partai API yang sekaligus menjadi Dewan Pakar Strategi Pemenangan Khazmi.

Wawancara kami berlangsung di basecamp “tersembunyi” Partai API, sebuah ruangan kecil di lantai 3 Gedung yang mereka sebut “Ruang Konsolidasi Keheningan”,tempat semua taktik politik diracik secara senyap.
WAWANCARA EKSKLUSIF: KHALIM & FAZAL—DI BALIK TAKTIK KOALISI SUNYI
Jurnalis:
“Mas Khalim, izinkan saya menyampaikan yang semua orang bisikkan tapi tak berani ucapkan. Anda adalah garis keras Imdad. Bahkan bisa dibilang jantungnya. Tapi kenapa bukan Anda yang maju? Dan mengapa Imdad kini seolah hilang dari daftar pertarungan resmi?”
Khalim (menyilangkan tangan, lirih tapi tajam):
“Saya bukan maju. Saya mendorong. Saya ini garis keras, bukan calon. Saya ini Imdad dalam nadi, bukan di baliho.
Yang saya dorong itu bukan saya. Tapi seseorang yang kami percayai waktu itu sebagai simbol perjuangan.
Tapi ya… kita ini bukan hidup dalam ruang kosong. Banyak tangan yang main di belakang layar, banyak tekanan yang tak tertulis, dan banyak permainan yang tak sempat didokumentasi.”
Jurnalis:
“Apakah Imdad benar-benar dikandaskan dari dalam sistem?”
Khalim (senyum sinis):
“Ada yang sibuk mengatur panggung, lalu panik saat aktor baru mulai menarik penonton. Maka skenario diubah. Jalur disempitkan.Dan ujung-ujungnya, mereka ingin kami ‘tidur’ demi memberi ruang bagi mereka yang lapar kuasa.
Tapi kami bukan tipe yang bisa diredam hanya dengan regulasi. Kami menepi bukan berarti menyerah, kami diam bukan berarti kalah.”
Jurnalis (menoleh ke Fazal):
“Mas Fazal, Anda memilih jalur berbeda. Tanpa koalisi, tanpa kompromi, Partai API meluncurkan nama Anda sendiri. Banyak yang menyebut ini nekat. Apa alasan di balik langkah ini?”
Fazal Hijazi (dingin, penuh kalkulasi):
“Saya tidak pernah percaya pada suara yang dibagi dengan musyawarah semu.
Demokrasi yang terlalu banyak peluk seringkali menyembunyikan pisau di balik jubah.
Maka kami tidak main koalisi. Kami main sikap.”
“Kenapa saya maju sendiri? Karena saya tidak lahir dari suara popularitas, saya lahir dari krisis. Dan mereka yang lahir dari krisis tak butuh keramaian untuk jadi kuat.”
Jurnalis:
“Bagaimana Anda melihat dua kandidat lain,Ihsan yang didukung dua kubu besar, dan Khazmi yang katanya didukung sisa-sisa Imdad?”
Fazal (sengaja menaikkan alis):
“Dua kubu yang kemarin saling bantai, sekarang duduk satu meja dukung satu nama.
Apakah itu rekonsiliasi? Atau hanya persekutuan darurat menghadapi sosok yang lebih tak terkontrol—yakni saya?”“Ihsan adalah produk kompromi. Dan kita tahu, kompromi yang terlalu cepat biasanya punya tenggat pendek.”
Khalim (menimpali pedas):
“Saya justru salut pada ‘koalisi mendadak’ itu. Dari yang katanya visinya berbeda, bahkan sempat saling jegal, bisa tiba-tiba bersatu dalam satu nama.
Pertanyaannya satu:
Siapa sebenarnya yang mereka hadapi sampai harus setega itu membuang prinsip untuk kursi?”
Jurnalis:
“Lalu bagaimana Anda melihat Khazmi?”
Fazal (sambil menyeruput air, lalu menjawab pendek):
“Dia sunyi. Tapi itu justru kekuatannya.
Di tengah panggung politik yang bising, kadang orang butuh suara yang tidak berisik—tapi punya isi.”
Khalim (tegas):
“Dia bukan pilihan populer. Tapi pilihan yang benar memang jarang diterima ramai-ramai.
Khazmi bukan ‘produk media’, bukan ‘pemain lama’. Tapi dia punya satu hal yang semua capres lain kehilangan: konsistensi.”
Jurnalis:
“Kalau boleh jujur, banyak yang bilang ini pertarungan tak seimbang. Dua koalisi raksasa lawan satu partai tunggal dan satu kubu sunyi. Apa komentar Anda?”
Fazal (tatapan tajam):
“Mereka besar karena terlihat.
Tapi kami kuat karena tidak diperhatikan.
Dan ketika badai datang, yang pertama tumbang adalah menara yang terlalu tinggi—bukan akar yang tak terlihat.”
Khalim (menatap lurus ke depan):
“Mereka sibuk main panggung.
Kami sibuk siapkan runtuhnya panggung.”
Wawancara ini bukan sesi klarifikasi. Ini pembukaan gendang perang. Dua tokoh yang selama ini dibayangi rumor, kini bicara terbuka—bukan untuk sekadar menjelaskan, tapi untuk memperingatkan.Imdad tak mati. Ia hanya ganti taktik. API tak tunduk. Ia justru sedang membakar pelan dari bawah. Dan Mahad Aly, siap atau tidak, sudah masuk medan politik paling keras dalam sejarahnya. Tunggu suara yang tidak disangka. Kadang, yang paling pelan… adalah ledakan yang tertunda.
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
follow Media Sosial
#SANTRILELERMENDUNIA










Tinggalkan Balasan