Mahad Aly Andalusia, 17 Mei 2025 – Saat PPS resmi menetapkan tiga nama calon presiden mahasantri, suhu politik seolah disulut obor. Tapi bukan obor biasa – ini api yang sudah lama merambat di bawah tanah. Dan di tengah percikan bara itu, satu nama tak bisa diabaikan: Ihsan Nur Sholih. Calon yang tidak hanya membawa dua partai besar, tapi juga membawa aroma revolusi dan pembaruan atau bagi lawannya: ketakutan akan kekacauan.
Konferensi pers digelar sederhana namun panas, bertempat di belakang Zawiyah , tempat yang disebut-sebut sebagai “markas bayangan” Partai Anomali. Prima datang mengenakan jaket partai FKM dengan topi hitam Anomali bertuliskan: “Jangan Percaya Apa yang Kau Dengar.” Di depannya, media. Di belakangnya, bayang-bayang rencana besar.

Wartawan:
Mas Prima, apa komentar pertama Anda setelah PPS resmi menetapkan Ihsan sebagai salah satu dari tiga calon presiden Mahad Aly?
Prima:
“Ini bukan sekadar penetapan. Ini validasi atas keresahan. Kami tak pernah mencalonkan Ihsan untuk ikut lomba. Kami mencalonkan Ihsan untuk menggoyang tatanan. Kalau kampus ini ingin perubahan, maka suara itu punya wajah ,dan wajah itu bernama Ihsan.”
Wartawan:
Tapi banyak yang bilang, Ihsan ini hasil kompromi politik. Diusung dua partai berbeda, FKM dan Anomali. Bukankah itu berbahaya?
Prima (tersenyum tipis):
“Berbahaya bagi siapa? Bagi mereka yang nyaman dalam sistem? Tentu. Tapi begini: ketika dua partai berbeda bisa duduk satu meja dan sepakat pada satu sosok, itu bukan kompromi. Itu konsensus revolusioner.”
“Mereka bilang kami oportunis. Tapi yang takut pada koalisi kami adalah mereka yang selama ini menikmati kursi tanpa kompetisi.”
Wartawan:
Ada tudingan dari kubu PSG bahwa Ihsan itu ‘komedian politik’, tidak serius. Tanggapan Anda?
Prima (menepuk meja):
“Kalau lawan kami menyebutnya komedian, maka saya ucapkan: selamat tertawa saat kami menyalip di tikungan. Ihsan memang slengekan. Tapi justru itu kekuatannya. Dia manusiawi. Bukan robot partai. Dia bicara dengan bahasa rakyat, bukan naskah.”
“Lawan kami main catur? Hebat. Tapi ingat, Ihsan main dam-daman. Dan satu langkahnya bisa loncat lima.”
Wartawan:
Anda menyebut ini sebagai gerakan. Tapi strategi nyatanya apa? Massa? Program? Drama?
Prima:
“Kami punya semuanya. Tapi lebih dari itu, kami punya sense. Ihsan tidak hanya berbicara program, dia berbicara tentang rasa. Tentang kelelahan santri yang tidak didengar, tentang aspirasi yang mentok di kotak saran.”
“Ihsan akan memimpin bukan dari mimbar, tapi dari depan kamar. Bukan dari kursi, tapi dari kasur dan keranda ide.”
Wartawan:
Beberapa pengamat bilang FKM itu partai tua yang suka kooptasi, sedangkan Anomali partai muda yang belum stabil. Apa tidak rawan pecah?
Prima:
“Justru karena kami berbeda, kami kuat. FKM punya akar, Anomali punya sayap. Kalau ada pihak yang gelisah, mungkin karena mereka sadar kami sedang membentuk pohon yang menaungi semua.”
“Yang mereka sebut tidak stabil, justru fleksibel. Dan yang mereka sebut terlalu tua, justru punya warisan.”
Wartawan:
Dalam dokumen PPS, Ihsan dikawal oleh ajudan dari dua partai. Apakah itu tidak membuat koordinasi retak?
Prima:
“Ihsan tidak butuh ajudan. Ajudan yang butuh Ihsan. Setiap orang di tim kami tahu, kalau hari ini mereka dikawal dua, besok akan dikawal semua. Karena ketika gagasan tumbuh, orang tidak bertanya siapa yang mendukung, tapi apa yang diperjuangkan.”
Wartawan:
Apa posisi Ihsan soal debat nanti?
Prima:
“Ihsan akan bicara seperlunya. Tapi percaya, satu kalimat dari Ihsan bisa mengubah satu Mahad Aly. Dia tidak tampil untuk menang debat. Dia tampil untuk membungkam dengan kenyataan.”
“Kata orang, Ihsan itu seperti badai. Tak terlihat sampai kau sudah tergulung.”
Wartawan:
Dan pesan Anda untuk kandidat lain?
Prima (bangkit, menatap kamera):
“Mainlah sesuai aturan, kalau memang kalian menulisnya. Tapi jangan lupa, aturan juga bisa direvisi,kalau cukup banyak yang muak.”
“Kami tidak benci kalian. Kami benci sistem yang membuat kalian tampak bisa menang tanpa berbuat. Ihsan bukan wajah perubahan. Ia adalah wajah dari santri yang menolak menjadi statistik. Dan kadang, dari riuh tak terduga, justru sistem kembali disusun.”
Prima melepas mic. Tapi bukan keheningan yang menyusul, melainkan rasa gentar. Bukan hanya karena ucapan itu menusuk. Tapi karena ia tahu: ada sesuatu yang sedang bergerak. Perlahan, tapi pasti. Dari Zawiyah. Dari belakang panggung. Dari obrolan warung ke kamar. Pertanyaannya bukan lagi: apakah Mahad Aly siap dengan keributan ini? Tapi: siapa sebenarnya yang selama ini menunggu keributan itu untuk alasan yang tak pernah diucapkan?
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
follow Media Sosial
#SANTRILELERMENDUNIA










Tinggalkan Balasan