Muhamad Zuhron Akyas, seorang pemuda asal Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, lahir pada 13 April 2005, memiliki perjalanan hidup yang penuh dedikasi dan semangat untuk menggapai ilmu. Sejak usia muda, Akyas telah mengukir langkahnya dalam dunia pesantren, menimba ilmu di Pondok Pesantren At-Taujieh Andalusia selama enam tahun. Sebelumnya, ia telah menuntut ilmu di SD Islam Plus Masyithoh Kroya, dengan pengetahuan agama yang diperkaya melalui TPQ dan latihan membaca kitab di rumah.
Namun, momen yang paling berkesan dalam perjalanan belajarnya adalah ketika para ulama dari Timur Tengah datang ke Pondok Andalusia setiap tahunnya. Keberadaan mereka memberikan nasihat dan hikmah yang mendalam, menjadikannya semakin teguh dalam mempelajari ilmu agama. Selain itu, Akyas selalu menantikan pengajian-pengajian di bulan suci Ramadan, yang menjadi momen spiritual yang tak terlupakan.


Selama di pesantren, Akyas memiliki ketertarikan mendalam pada bidang ilmu seperti Balaghah, Arudh, dan Nahwu Shorof. Baginya, ilmu bahasa adalah kunci dalam memahami Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik yang menjadi sumber utama kajian Islam. Tekadnya untuk memperdalam pengetahuan dalam bidang ini juga didorong oleh doa dan dukungan dari keluarga serta guru-gurunya, yang selalu memberikan motivasi untuk melanjutkan studi ke Al-Azhar, Mesir. Peran Pondok Andalusia yang membimbingnya dengan baik, serta hubungan yang erat dengan ulama Al-Azhar, memberikan keyakinan bahwa impian tersebut bisa terwujud.
- UKM Jurnalistik dan Literasi Andalusia Cetak Karya Kedua, Buku Tafsir 234 Halaman Resmi Terbit
- Pondok Bukan Tempat Pelarian atau Lembaga Rehabilitasi, Orang Tua Wajib Paham!
- Ikhtibar Semester Genap Ma’had Aly Andalusia Tahun Akademik 2025–2026 Resmi Berakhir
- Ponpes Andalusia Gelar Shalat Idul Adha dan Kelola 9 Ekor Hewan Kurban.
- Bedah Buku Pengetahoean tentang Karang-Mengarang dan Jurnalistik Karya KH. Zainuddin Fananie
Pada akhirnya, mimpi itu menjadi kenyataan. Akyas menginjakkan kaki di Mesir, tanah para awliya dan anbiya, dengan perasaan haru dan gembira. “Ada rasa terharu dan rasa gembira, karena yang saya impikan sejak lama akhirnya tercapai,” ujarnya. Di Al-Azhar, ia belajar dengan disiplin tinggi, mengasah kemampuan bahasa Arab dan ilmu agama, serta berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai penjuru dunia. Di tengah beragamnya budaya dan bahasa, Akyas belajar banyak hal, termasuk beradaptasi dengan dialek Ammiyah dan kuliner khas Mesir, seperti Ful dan Kushari.



Akyas tak hanya melihat Al-Azhar sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai wadah untuk menumbuhkan tekad dan niat yang kuat. Ia selalu mengingat nasihat yang diberikan oleh para gurunya di Andalusia, seperti KH. Zuhrul Anam Hisyam, yang menekankan pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu. “Santri itu kudu Priatin, jangan menyerah,” adalah pesan yang selalu terpatri dalam dirinya.
Bagi Akyas, perjalanan menuju Al-Azhar bukan sekadar tentang akademik, tetapi juga tentang komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia selalu mengingat pesan untuk tidak pernah lelah dalam mencari ilmu, karena “kenikmatan sesungguhnya ada pada lelah tersebut.” Setiap langkahnya adalah perjuangan untuk mewujudkan cita-cita yang lebih besar, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga, pesantren, dan umat.



Rencana masa depannya pun jelas: setelah menyelesaikan studi di Al-Azhar, Akyas bercita-cita melanjutkan pendidikan S2 di salah satu universitas ternama di Malaysia. Namun, jika Allah berkehendak lain, ia siap untuk tetap berkhidmat di Al-Azhar, melanjutkan perjalanan ilmiahnya di tanah yang telah memberinya banyak hikmah.
Bagi para santri Andalusia yang ingin mengikuti jejaknya, Akyas memberikan pesan penuh semangat: “Jangan pernah patah semangat, dan jangan pernah lelah dalam mencari ilmu. Tanamkan niat yang kuat, karena dengan niat yang tulus, kita akan menemukan kekuatan untuk menghadapinya.” Dengan tekad yang kuat, perjalanan menuntut ilmu akan menjadi kenikmatan yang tak ternilai.
oleh ; syibli nu’mani










Tinggalkan Balasan