sejumlah hadis yang diriwayatkan para sahabat menggambarkan kuatnya komitmen generasi awal Islam dalam berpegang teguh pada ajaran Rasulullah ﷺ, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, sesuai dengan kemampuan mereka.
Baiat yang mereka ucapkan bukan sekadar janji lisan, melainkan ikrar kesetiaan yang mencerminkan kesungguhan dalam menjaga prinsip, menegakkan nilai-nilai Islam, dan mempertahankan persatuan umat.
Dalam sebuah riwayat dari sahabat mulia Abdullah bin Umar, beliau menuturkan bahwa para sahabat membaiat Rasulullah ﷺ untuk senantiasa mendengar dan taat dalam segala keadaan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan:
كُنَّا نُبَايِعُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ.
mereka berjanji setia untuk patuh dalam keadaan susah maupun senang, saat bersemangat ataupun ketika terasa berat, bahkan ketika ada kepentingan yang tidak berpihak kepada mereka, dan tidak memberontak terhadap pemimpin selama tidak tampak kekufuran yang jelas dengan dalil yang pasti dari Allah.
Baiat ini menunjukkan kesungguhan para sahabat dalam menjadikan ketaatan sebagai prinsip hidup, bukan sekadar mengikuti keadaan atau perasaan. Namun hadis ini juga menegaskan bahwa ketaatan memiliki batas, yaitu tidak dalam perkara kekufuran yang nyata dan jelas dalilnya dari Allah.
Dengan demikian, baiat tersebut menjadi gambaran kokohnya komitmen generasi sahabat dalam menjaga agama, persatuan, dan ketundukan kepada ajaran Rasulullah ﷺ secara menyeluruh dan bertanggung jawab.
Riwayat lain dari Junadah bin Abi Umayyah menuturkan bahwa para sahabat berjanji untuk tetap taat, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam hal yang mereka sukai maupun tidak mereka sukai. Mereka juga berkomitmen untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpinnya, kecuali jika melihat kekufuran yang nyata dan memiliki bukti yang jelas dari Allah. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga persatuan dan stabilitas umat.
Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah dijelaskan bahwa para perempuan yang datang berhijrah terlebih dahulu diuji keimanan mereka sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 12. Ujian tersebut memuat syarat-syarat keimanan, seperti tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak mendurhakai Rasulullah ﷺ dalam perkara yang ma’ruf. Apabila mereka memenuhi ketentuan tersebut, maka Rasulullah ﷺ menerima baiat mereka sebagai tanda kesungguhan dalam memegang ajaran Islam.
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa baiat pada masa Nabi ﷺ bukan sekadar janji lisan, melainkan komitmen moral dan spiritual untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, menjaga persatuan, serta mempertahankan keimanan dalam berbagai situasi.
oleh: Ahmad ja’far shidiq
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan