Meneladani Kisah KH. Mahrus Aly Dan KH. Zuhrul Anam ketika nyantri
Di pesantren, peraturan bukanlah sekadar larangan dan kewajiban, melainkan pagar-pagar suci untuk menjaga benih ilmu dari gangguan syaithon dan angin dunia. Namun, seperti semua pagar, ia seringkali tampak membatasi bagi jiwa-jiwa yang ingin bebas sebelum waktunya.
Beberapa waktu lalu, terdengar kabar yang getir: seorang santri, tak terima ditegur oleh pengurus karena pelanggaran peraturan, melawan. Tidak hanya melawan dengan kata-kata, tapi juga membawa urusan itu keluar pagar pesantren-ke kantor polisi.
Orang tuanya, barangkali merasa sayang, atau justru merasa harga dirinya yang terganggu, turut menyalakan api itu. Maka terjadilah satu tragedi kecil di ruang yang seharusnya penuh rahmat. Tentu saja, kita tidak hendak menyalahkan satu pihak dan mengagungkan yang lain.
Namun kisah ini mengajak kita untuk merenung: bagaimana mungkin lembaga yang dibangun atas dasar adab, berubah menjadi ajang tuntutan legal formal? Di mana letak sabar, patuh, dan tirakat yang menjadi dasar kehidupan seorang penuntut ilmu?. Guru saya KH. Zuhrul Anam Hisyam ketika mengajar sering menuqil perkataan imam As-Syafi’i:
مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً # تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتـِهِ
“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan”
Dari kejadian ini, ingatan saya melayang pada sosok yang tubuhnya kurus, matanya cekung, tetapi wajahnya penuh cahaya: KH. Mahrus Aly.Saat masih nyantri, ia tidak hanya menaati peraturan, tapi menciptakan aturan sendiri untuk menundukkan hawa nafsunya. Ia merancang sebuah kamar yang sulit untuk keluar jika sudah masuk. Bukan karena dikunci orang lain, tapi karena ia sendiri yang ingin membatasi dirinya. Ruang itu menjadi tempat ia berperang melawan kemalasan, kebosanan, dan keinginan-keinginan remeh yang datang dari dalam.
Begitu pula kisah KH. Zuhrul Anam Hisyam saat nyantri di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang. Beliau bercerita bahwa selama mondok, hampir tidak pernah keluar dari kamar kecuali ada keperluan penting dan tidak tidur sampai jam 3 pagi untuk muthola’ah kitab. Bahkan ketika masa liburan tiba, beliau tidak pulang ke rumah. Waktu liburan itu justru dimanfaatkannya untuk menghafal kitab-kitab yang belum sempat dihafalkan saat kegiatan pondok sedang padat.
Betapa jomplangnya dua peristiwa ini. Satu santri menciptakan kamar agar tak bisa keluar. Satu santri lain, merasa haknya terganggu jika pintu dibatasi oleh peraturan yang berlaku. Bahkan selalu mencari pembelaan atas kelakuannya sendiri.
Di sinilah letak kerinduan saya yang dalam terhadap zaman ketika adab menjadi pintu pertama bagi ilmu untuk masuk. Pesantren adalah tempat menimba ilmu, bukan menuntut kenyamanan. Ia bukan hotel atau asrama modern yang dikelola atas dasar kepuasan pelanggan. Ia adalah tanah suci kecil tempat para jiwa ditempa, bukan dimanjakan.
Saya teringat dengan poster-poster yang tertempel di dinding pesantren yang berisi pesan-pesan KH. Zuhrul Anam Hisyam. Salah satunya adalah: santri harus mempunyai 3 hal , yakni iman, ilmu, dan akhlak.
Dalam dunia yang gaduh ini, peraturan sering dianggap penghalang. Tapi bagi mereka yang tahu, peraturan adalah tangga ke langit. Tangga itu mungkin curam, licin, bahkan menyakitkan. Tapi bukankah para ulama dahulu juga menaiki tangga yang sama-dengan tekun, tanpa gaduh?
Mungkin kita terlalu sibuk membela anak-anak kita dari rasa tidak nyaman, hingga lupa bahwa rasa tidak nyaman itulah yang dulu membesarkan kiai-kiai besar kita. Guru saya KH. Zuhrul Anam setelah jama’ah pernah berpesan kepada seluruh santri: “Tidak ada tokoh besar di dunia ini kecuali pernah menempa diri”. Bahkan Nabi Muhammad sebelum menerima risalah pada umur 41 tahun, beliau telah menempa dirinya dahulu dan mengalami cobaan yang berat.
Kita ingin anak kita bahagia, tapi tak memberi mereka kesempatan untuk ditempa. Saya tidak tahu apakah kamar Kiai Mahrus dan kyai Anam itu masih ada. Setahu saya kalo Kiai Zuhrul Anam itu berada di kamar Al- Firdaus (AF) ketika mondok di Al-Anwar Sarang.
Tapi saya yakin, kamar itu hidup dalam jiwa para santri yang masih mau bertahan dalam diam, dalam belajar, dalam sabar, dan dalam tunduk kepada peraturan yang sejatinya adalah cermin dari keikhlasan.
Oleh:
- Ali Adhim
- Rojih Hibatulloh










Tinggalkan Balasan