اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
Bertujuan untuk menunjukkan pengkhususan (takhshish) bagi Allah Ta’ala dalam hal ibadah maupun permohonan pertolongan, serta untuk merasakan kelezatan dalam bermunajat dan berkomunikasi langsung dengan-Nya.
Adapun idahulukannya penyebutan “Ibadah” sebelum “Isti’anah” (mohon pertolongan) adalah karena ibadah merupakan sarana (washilah) untuk meminta hajat. Maka, apabila seorang hamba telah mentauhidkan Tuhannya dalam ibadah, niscaya Allah akan menolongnya. (Hasyiyah Ashowi,
Menurut Imam Ibnu Katsir: Iyyaaka adalah objek (maf’ul bih) yang didahulukan penyebutannya dari pada kata kerja nya (Na’budu/نَعْبُدُ dan Nasta’in//نَسْتَعِينُ) dan diulang; tujuannya adalah untuk penekanan (ihtimam) dan pembatasan (hashr). Kalimat sebenarnya:
لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاكَ، وَلَا نَتَوَكَّلُ إِلَّا عَلَيْكَ
“Kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu.” Dan inilah kesempurnaan ketaatan.
Sesungguhnya didahulukannya kalimat (Iyyaaka na’budu/إِيَّاكَ نَعْبُدُ) atas (Iyyaaka nasta’iin/وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) adalah karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan utama (al-maqshudah), sedangkan memohon pertolongan (isti’anah) merupakan sarana (wasilah) untuk mencapainya ,dan bagian dari bentuk perhatian yang besar (al-ihtimam) serta keteguhan sikap (al-hazm) adalah dengan mendahului apa yang paling penting kemudian baru hal penting berikutnya. Wallahu A’lam. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/134-135)
Perbedaan cara baca para imam
Imam Qira’ah yang tujuh (As-Sab’ah) dan mayoritas ulama membaca dengan men-tasydid-kan huruf Ya’ pada kata (Iyyaaka/إِيَّاكَ).
Sedangkan ‘Amru bin Fayid membacanya dengan takhfif (tanpa tasydid pada Ya’) disertai kasrah pada Hamzah (Iyaaka/إِيَاك); ini adalah bacaan syadz (ganjil) yang ditolak, karena secara bahasa kata “Iyaa/إيا” (tanpa tasydid) berarti “Sinar/Cahaya Matahari”.
Sebagian yang lain membaca ” Ayyaaka/أَيَّاك” dengan men-fathah-kan huruf Hamzah dan tetap men-tasydid-kan huruf Ya’ ,dan sebagian lainnya membaca “Hayyaaka” dengan menggunakan huruf Ha’ sebagai pengganti Hamzah, sebagaimana perkataan penyair:
فَهَيَّاكَ وَالْأَمْرَ الَّذِي إِنْ تَرَاحَبَتْ … مَوَارِدُهُ ضَاقَتْ عَلَيْكَ مَصَادِرُهُ
“Maka berhati-hatilah kamu (Hayyaaka) terhadap suatu perkara yang jika pintu masuknya terasa luas… namun jalan keluarnya terasa sempit bagimu.”
Kata (Nasta’iin/نَسْتَعِينُ) dibaca dengan fathah pada huruf Nun di awal kata menurut qira’ah semua imam, kecuali Yahya bin Wats-tsab dan Al-A’masy; keduanya membacanya dengan kasrah (Nisti’iin/نستِعين) .dan itu merupakan dialek (lughah) dari Bani Asad, Rabi’ah, Bani Tamim, dan Qais. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/134)
Makna Ibadah pada “Na’budu/نعبد”
Ibadah secara etimologi (bahasa) bermakna kehinaan/ketundukan (adz-dzillah). Dikatakan: “Jalan yang mu’abbad” atau “Unta yang mu’abbad”, artinya: jalan yang telah diratakan (mudah dilalui) atau unta yang telah ditundukkan.
Sedangkan secara terminologi syariat: Ibadah adalah suatu ungkapan yang menghimpun kesempurnaan cinta, ketundukan, dan rasa takut kepada Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/134)
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan