Bismillahirrahmanirrahim, “Kenapa aku yang berusaha jujur justru disingkirkan?”,
Kenapa aku yang menutup aurat malah dicibir, sementara yang terang-terangan melanggar malah dipuji? “Kenapa aku yang menjaga akhlak justru dicap sok suci? Aku capek jadi baik sendirian…”
Ungkapan-ungkapan semacam ini barangkali pernah terlintas, atau bahkan bersarang lama di hati kita. Tak bisa dipungkiri, menjadi baik di zaman yang serba bebas ini terkadang terasa seperti berjalan melawan arus. Saat yang lain sibuk mencari validasi dunia, kita berusaha menjaga pandangan. Saat yang lain nyaman dalam kelalaian, kita memilih jalan sunyi: menahan, menjaga, dan terus memperbaiki.

Lalu, ketika rasa lelah itu datang, timbul satu pertanyaan:
Apakah semua ini sia-sia?
- Kebaikan Itu Mungkin Sepi, Tapi Tidak Pernah Sia-Sia
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Az-Zalzalah:
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Dalam pandangan manusia, mungkin kebaikan kita dianggap remeh. Tak ada tepuk tangan, tak ada pujian. Tapi di sisi Allah, sekecil apapun amal itu, semuanya dihitung. Bahkan diamnya lisan saat ingin membalas kejahatan, atau tertahannya mata dari pandangan haram—itu semua amal, yang tak akan luput dari catatan langit.
- Rasulullah ﷺ Pun Pernah Sendirian
Jika engkau merasa sendiri dalam perjuangan ini, ingatlah bahwa Nabi Muhammad ﷺ pun pernah lebih dahulu melaluinya. Beliau berdakwah sendirian di tengah masyarakat jahiliyah. Dituduh gila, dikucilkan, bahkan disakiti secara fisik dan batin. Namun beliau tidak mundur. Kenapa? Karena beliau yakin, kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikut, tapi dari keikhlasan dan pertolongan Allah.
Maka jika hari ini kamu merasa hanya kamu satu-satunya yang menjaga shalat lima waktu, hanya kamu yang menjaga pergaulan, atau hanya kamu yang tidak ikut tren “bebas-bebasan” teman-temanmu — ketahuilah, kamu sedang berada di jalan para nabi.
- Kebaikan Tidak Butuh Mayoritas — Tapi Butuh Keberanian
Kadang kita menunggu lingkungan membaik dulu, baru ikut berubah. Padahal, Islam mengajarkan:
“Ubah dirimu, maka kamu sedang mengubah dunia.”
Kebaikan itu seperti api unggun: dimulai dari satu percikan, lalu perlahan menjalar dan menghangatkan sekitarnya. Mungkin hari ini kamu terlihat sendiri. Tapi esok, bisa jadi istiqamahmu menjadi inspirasi bagi orang lain.
Ingatlah, kamu bukan hanya “baik sendirian”. Kamu adalah permulaan dari gelombang perubahan.
- Kalau Capek, Istirahatlah — Tapi Jangan Menyerah
Menjadi baik itu berat, karena surga bukan untuk yang malas.
Kadang kita jatuh. Kadang kita gagal. Kadang kita tergelincir dalam bisik-bisik hati dan pandangan manusia. Tapi kunci istiqamah bukan pada tidak pernah jatuh, melainkan mampu bangkit kembali.
“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Jadi, jika lelah, istirahatlah. Tapi jangan mundur. Ambil napas, perbaiki niat, dan lanjutkan langkahmu.
Penutup: Tetap Jadi Baik, Meski Sendirian
Waktu akan membuktikan bahwa mereka yang menjaga dirinya dalam sepi, akan bersinar saat yang lain tenggelam dalam gemerlap fana.
Setiap air mata dalam sujud, setiap luka dalam diam, setiap langkah menjauhi dosa — semua itu dilihat Allah, dan akan dibalas dengan sesuatu yang tak pernah terbayang.
Jangan takut menjadi berbeda, jika perbedaanmu adalah bentuk ketaatan.
Karena menjadi baik bukan untuk dipuji manusia, tapi untuk diridhai Allah.
“Beruntunglah orang-orang yang asing (ghuraba’)…”
(HR. Muslim)
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh : Bella Rahayuningtyas
Kabar Terkini dari Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan