Akhir Agustus 2025 ini menjadi saksi riuh jalanan Indonesia. Ribuan mahasiswa, pengemudi ojek online, dan buruh tumpah ke jalan. Mereka menuntut penghapusan tunjangan hunian Rp50 juta per bulan bagi anggota DPR—angka yang menusuk nalar di tengah krisis ekonomi dan naiknya biaya hidup rakyat kecil.
“Sebab utama kekacauan dalam sebuah negara adalah kezaliman penguasa, ketidakadilan hukum, dan lemahnya solidaritas sosial (‘ashabiyyah).”
– Ibn Khaldun, Muqaddimah
Amarah rakyat meledak setelah video tragis beredar: Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online, tewas tergilas kendaraan lapis baja polisi di depan kompleks DPR. Potongan video itu berputar di media sosial, menjelma bara kemarahan, simbol ketidakadilan, dan tanda bahwa negara kehilangan arah moral. Dari jalanan, lahir lambang perlawanan baru—bendera One Piece yang berkibar, metafora generasi muda yang berteriak bahwa negeri ini sedang sesat jalan.


Gelombang protes menjalar cepat. Di Pati, 10–13 Agustus 2025, puluhan ribu warga mengepung alun-alun menolak kenaikan PBB-P2 hingga 250% oleh Bupati Sudewo. Mereka menuntut pembatalan pajak, pencopotan bupati, serta penghentian proyek kontroversial seperti renovasi alun-alun dan pemasangan jumbotron. Aksi yang melibatkan 85.000–100.000 orang itu menjadi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Pati. Gas air mata dan water cannon menghujani massa, puluhan terluka, belasan ditahan. Namun suara rakyat berbuah: DPRD menggulirkan hak angket, pajak dibatalkan, penyelidikan bupati dimulai.
Amarah juga memuncak di Makassar, Jumat malam, 29 Agustus 2025. Ribuan massa menyerbu gedung DPRD saat sidang paripurna berlangsung. Pagar utama roboh, puluhan kendaraan terbakar, ledakan beruntun terdengar, bagian depan gedung DPRD hangus dilalap api. Wali Kota Munafri ‘Appi’ Arifuddin bersama pejabat lokal dievakuasi. Api perlawanan rakyat bukan lagi sekadar metafora—ia nyata, membakar simbol kekuasaan.
“Rusaknya pemimpin akan merusak rakyatnya.”
– Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din
Kekacauan lahir ketika amanah dikhianati, ketika nafsu menjadi ruh politik.Kini Indonesia berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, pidato demi pidato mengumandangkan mimpi “Indonesia Emas”. Namun di sisi lain, realita jalanan menampar: jeritan buruh, air mata mahasiswa, darah ojek online, dan api yang menjilat gedung rakyat.
Rakyat bersuara, jalanan bergemuruh. Dari Pati hingga Makassar, dari spanduk hingga bendera anime, tanda-tanda perlawanan bertebaran. Dan di tengah reruntuhan harapan, bara kecil masih menyala—keyakinan bahwa keadilan tak boleh padam.Namun jalan ke depan tetap kabur.Akankah negeri ini sungguh menjejak Indonesia Emas yang berseri?Ataukah justru terjerembab dalam Indonesia Ngeri yang membanjiri?
Oleh : Idris Ziee
Editor : hidayat Solih Masngud
kabar Terkini dari Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan