,

In’am Farhan Jauharudin: Jejak Perjuangan Santri Andalusia Menuju Al-Azhar Mesir

In’am Farhan Jauharudin: Jejak Perjuangan Santri Andalusia Menuju Al-Azhar Mesir


M. In’am Farhan Jauharudin, atau yang akrab disapa Jauhar, lahir di Banjarnegara pada 16 November 2006. Ia tumbuh dan besar di Pejawaran, Banjarnegara, di bawah asuhan orang tua yang selalu membimbingnya baik secara jasmani maupun rohani. Sebelum menimba ilmu di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Jauhar terlebih dahulu belajar di madrasah desanya.

Pendidikan di Andalusia menjadi langkah besar dalam perjalanan intelektualnya. Selama enam tahun, ia ditempa oleh para guru, termasuk K.H. Zuhrul Anam Hisyam, yang sangat menginspirasi dan memberikan pelajaran berharga di setiap langkah. Jauhar mengaku bahwa bimbingan guru-gurunya, terutama Abah K.H. Zuhrul Anam, telah membentuk karakternya.

Ilmu yang Diminati Di pesantren, Jauhar menemukan cinta pada ilmu, khususnya ilmu nahwu dan balaghah. Ia menjelaskan:

“Dengan nahwu kita bisa tahu mauqi’ i’rob, dan dengan balaghah kita bisa memahami keindahan Al-Qur’an serta perbedaan makna yang ditunjukkan oleh uslub-uslub bahasa Arab yang berbeda.”

Motivasi besarnya dalam mempelajari ilmu ini datang dari kutipan inspiratif yang diingatnya hingga kini:

“Jangan kau jadikan hafalanmu seperti khobarnya كان (hanya cerita masa lalu).”

Kutipan ini, yang disampaikan oleh Abah K.H. Zuhrul Anam, menjadi pengingat baginya untuk menjaga hafalan agar tetap segar dan bermakna.


Sejak kelas satu Aliyah, Jauhar telah memupuk keinginan untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Motivasi ini semakin kuat setelah melihat perjuangan dan pencapaian gurunya, K.H. Zuhrul Anam, yang juga alumnus Al-Azhar. Baginya, perjalanan ke Mesir adalah mimpi yang diwujudkan dengan doa, usaha, dan dukungan dari pesantren.Proses keberangkatan ke Mesir cukup menantang. Selain harus menghadapi pemberkasan yang rumit dan masa tunggu hingga setengah tahun, Jauhar juga mempersiapkan bekal seperti hafalan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Namun, semangat dan motivasi yang kuat membuatnya berhasil melalui semuanya.


Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Mesir, Jauhar merasa bahagia dan terharu. Ia terkesan dengan keramahan masyarakat Mesir dan atmosfer yang mendukung pembelajaran. Namun, ia juga menyadari tantangan besar, seperti perbedaan bahasa dan budaya.

“Di sini bahasa yang digunakan adalah ammyyah misriyah (bahasa Arab Mesir), yang hampir tidak menggunakan kaidah nahwu dan shorof.”

Ia menjelaskan bahwa adaptasi adalah kunci utama untuk bisa bertahan dan berhasil di lingkungan yang baru.
Menurut Jauhar, suasana belajar di Al-Azhar sangat berbeda dengan di pesantren. Di Al-Azhar, semua pembelajaran dilakukan dalam bahasa Arab secara penuh, dan mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri. Jika di pesantren kitab diterjemahkan ke bahasa Jawa, di Al-Azhar mahasiswa harus menyiapkan makna kitab sendiri sebelum mengaji bersama masyayikh. Lingkungan internasional di Al-Azhar, yang terdiri dari mahasiswa berbagai negara, juga memperluas wawasan Jauhar. Namun, ia menekankan bahwa belajar di Al-Azhar membutuhkan kesungguhan yang luar biasa:


Jauhar juga berbagi tips untuk santri yang bercita-cita melanjutkan studi ke Al-Azhar:

  1. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu di Andalusia, terutama dalam ilmu nahwu, shorof, dan aqidah.
  2. Manfaatkan waktu sebaik mungkin karena enam atau empat tahun di pesantren terasa sangat singkat.
  3. Miliki bekal bahasa Arab dan Inggris yang cukup karena keduanya sangat diperlukan, baik dalam pembelajaran maupun komunikasi sehari-hari.

Salah satu cerita inspiratif yang mendorong Jauhar untuk terus belajar adalah kisah Syaikh Sa’duddin Taftazani, seorang ulama besar yang dulunya mengalami kesulitan dalam memahami teks. Namun, dengan kesungguhan, ia menjadi ulama terkemuka yang disegani. Jauhar juga selalu mengingat hadits yang dikutip oleh Abah K.H. Zuhrul Anam:

    مَنِ ازدادَ عِلماً ولَم يَزدَدْ هُدىً ، لَم يَزدَدْ مِنَ اللَّهِ إلّا بُعداً”
    “Siapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayahnya dari Allah, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”


    Setelah menyelesaikan studinya di Al-Azhar, Jauhar berencana kembali mengabdi kepada pesantrennya dan gurunya, Abah K.H. Zuhrul Anam. Ia juga berharap dapat terus mendalami bidang bahasa Arab dan sastra Arab, sesuai dengan nasihat gurunya:

    اللغة توصلك إلى الشريعة”
    “Ilmu bahasa Arab yang baik akan mengantarkanmu untuk memahami syariat Islam.”

    Pesan Penutup
    Dalam pesan terakhirnya, Jauhar mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan adab:

    “Lisan adalah tempat keluarnya nadzom-nadzom yang kita hafalkan. Ketika dicampuri perkataan yang tidak baik, pasti akan memberi dampak negatif, sehingga hafalan menjadi lemah dan mudah lupa.”

    oleh : miftah athoillah

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    JURNALISTIK MA’HAD ALY ANDALUSIA

    Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia telah mempublish Website “Kompas walimah”

    Komunitas penerjemah, Syu’aro dan wadah literasi mahsantri

    merupakan placement bagi karya digital Mahasantri Ma’had Aly Andalusia

    dikelola Tim Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia

    MA’HAD ALY ANDALUSIA

    Lembaga pendidikan tinggi  pesantren yang terletak di Jln. Ditowongso, Dsn. Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 53172

    Didirikan Oleh Syaikuna KH. Zuhrul Anam Hisyam

    الأخبار اليومية