Ramadan merupakan bulan yang senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Kedatangannya bukan hanya menghadirkan kewajiban ibadah seperti puasa dan salat tarawih, tetapi juga melahirkan ragam tradisi khas yang mengakar dalam budaya masyarakat Muslim. Salah satu tradisi yang paling ikonik adalah lampu fanus dari negeri piramida, Mesir, yang menjadi simbol cahaya, kegembiraan, dan persatuan dalam menyambut bulan suci.
Muhammad In’am Farhan Jauharudin, alumni Pondok Pesantren At-Taujjieh Al-Islamy 2 Andalusia yang kini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Mesir, menjelaskan bahwa masyarakat Mesir setiap tahun menyambut Ramadan dengan memasang fanous dalam beragam bentuk dan warna. Tradisi ini, menurutnya, bukan sekadar hiasan musiman, tetapi telah menjadi identitas kultural yang melekat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Ia menuturkan bahwa akar sejarah fanus bermula pada era Dinasti Fatimiyah abad ke-10, ketika masyarakat Kairo menyalakan lentera untuk menyambut kedatangan Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah pada malam Ramadan. Sejak saat itu, fanus berkembang menjadi simbol perayaan dan penyambutan bulan suci. Awalnya terbuat dari seng dan besi sederhana, fanus kemudian bertransformasi menjadi karya seni dari tembaga dan kaca dengan ragam motif yang artistik.
Dalam perkembangannya, pemasangan fanus tidak lagi terbatas di rumah-rumah penduduk. Jalanan, pasar tradisional, hingga kafe-kafe klasik di Kairo turut dihiasi cahaya lentera Ramadan. Atmosfer ini menjadikan Ramadan di Mesir terasa hidup, penuh warna, dan sarat nuansa kebersamaan. Bagi Jauhar, fanus memiliki makna lebih dalam daripada sekadar ornamen dekoratif. Ia memandang fanus sebagai simbol keberanian cahaya dalam menembus gelap, sebuah perlambang akan harapan, persatuan, serta semangat spiritual yang menyala di tengah masyarakat.
Semangat itulah yang kemudian dihadirkan di Pondok Pesantren At-Taujjieh Al-Islamy 2 Andalusia pada Ramadan 1447 H. Kilau fanus kini menghiasi lingkungan pondok, menghadirkan nuansa Ramadan ala Mesir di tanah Banyumas. Muhammad Ngasikur Rokhman, santri Andalusia sekaligus inisiator pemasangan lampu-lampu tersebut, menyampaikan bahwa gagasan ini merupakan dawuh langsung dari K.H. Zuhrul Anam Hisyam sekitar dua tahun lalu. Menurut Rokhman, pemasangan fanus ini tidak hanya dimaksudkan sebagai dekorasi, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan kelanjutan spirit perjuangan Syaikh Toha Abdul Wahab Ar-Rasyikh, utusan resmi Universitas Al-Azhar yang memiliki jejak sejarah dalam perkembangan Andalusia. Tradisi ini menjadi jembatan simbolik antara Andalusia dan Al-Azhar, antara lokalitas pesantren dan khazanah peradaban Islam global.
Meski desain fanus di Andalusia tidak identik dengan yang ada di Mesir, adaptasi tersebut justru menjadi bentuk kearifan lokal tanpa menghilangkan esensi nilai yang dibawa. Cahaya fanus tetap merepresentasikan kegembiraan, persatuan, dan kesiapan spiritual dalam menyambut Ramadan. Dalam proses realisasinya, Rokhman menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan waktu di tengah padatnya aktivitas santri, hingga minimnya persiapan teknis. Namun, semangat kebersamaan menjadi kunci. Bersama Hasni, Ruri, Ryan, dan Yazid, ia berupaya merealisasikan dawuh sang guru dengan penuh tanggung jawab.
Ia meyakini bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menunda kebaikan. Justru dalam keterbatasan itulah nilai pengabdian dan loyalitas terhadap amanah diuji. Hadirnya cahaya fanus di Andalusia bukan hanya membangkitkan antusiasme para santri, tetapi juga menghadirkan kehangatan bagi masyarakat sekitar pondok. Kilau lampu-lampu tersebut menjadi simbol bahwa pesantren tidak terpisah dari denyut budaya Islam dunia, melainkan menjadi bagian dari mata rantai peradaban yang terus hidup.
Pada akhirnya, fanus mengajarkan satu pelajaran sederhana namun mendalam: cahaya tidak harus besar untuk memberi arti. Ia cukup hadir dengan ketulusan, membawa pesan, dan menyadari amanahnya untuk menerangi sekitar. Dalam gemerlapnya yang sederhana, fanus menjadi metafora tentang bagaimana nilai dan tradisi dapat melampaui batas geografis, lalu menemukan rumah barunya di Andalusia. Dan di sanalah cahaya itu terus hidup, tak riuh gemanya, namun teguh pijarnya.
Oleh : Rafif Erol Zain
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan