Di antara gemuruh zaman yang kian cepat berubah, ada sekelompok manusia yang memilih tetap berdiri di tepian, tidak menolak arus, tapi juga tidak larut dalam derasnya. Mereka disebut santri. Santri bukan sekadar identitas religius, ia adalah kesadaran. Kesadaran bahwa nilai bukan sesuatu yang bisa dijual kepada algoritma. Bahwa hidup bukan sekadar efisiensi, namun juga kesinambungan. Mereka belajar dari kitab kuning, tapi tak berarti tuli terhadap perbincangan digital. Mereka khatam Taqrib dan Jurumiyah, tapi tetap kritis melihat nasib bangsa yang kerap kehilangan arah.

Modernisasi memang membawa banyak hal, kemudahan, kecepatan, keterbukaan. Tapi juga kehilangan: akarnya, nadinya, bahkan kadang jiwanya. Di sinilah santri berdiri. Bukan untuk menolak modernitas, tapi untuk memastikan bahwa yang ditinggalkan bukan harga diri, bukan tradisi, dan bukan makna. Kita hidup di masa ketika segala sesuatu dikejar untuk lebih cepat, lebih ringan, lebih murah. Tapi santri tahu: ilmu tak bisa dipercepat. Adab tak bisa diunduh. Dan hikmah tak akan hadir dari sekadar scroll tanpa tadabbur.
Maka jika hari ini santri masih sabar mengaji, masih tekun memaknai, masih diam di surau sementara dunia berpesta di media, itu bukan karena mereka ketinggalan zaman. Tapi karena mereka sedang menjaga nyala yang nyaris padam. Nyala yang bernama: warisan, keseimbangan, dan peradaban.
Editor : Hilmi Nur Afif
Kabar Terkini dari Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan