Malam Nisfu Sya‘ban merupakan salah satu momentum penting dalam kalender spiritual umat Islam. Para ulama sejak generasi awal telah memberikan perhatian khusus terhadap malam pertengahan bulan Sya‘ban, bukan semata karena keutamaannya, tetapi juga karena pesan reflektif yang dikandung di dalamnya. Malam ini menjadi ruang bagi seorang hamba untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas, menata kembali niat, serta menimbang keadaan dirinya di hadapan Allah SWT.
Seperti yang di kutip dari kitab كنز النجاح والسرور فى الأدعية المأثورة
قال في ( تحفة الإخوان ) : ( روي عن عطاء بن يسار
رضي الله تعالى عنه قال : إذا كان ليلة النصف من شعبان . . نسخ ملك الموت عليه الصلاة والسلام كلَّ مَنْ يموت من شعبان إلى شعبان ، وإن الرجل ليظلم ويفجر ، وينكح النسوان ويغرس الأشجار وقد نسخ اسمه من الأحياء إلى الأموات ، وما من ليلة بعد ليلة القدر أفضل من ليلة النصف من شعبان ) اهـ (
Disebutkan dalam Tuhfah al-Ikhwān:
diriwayatkan dari ‘Atho bin Yasaar رضي الله تعالى عنه, ia berkata:
“Apabila datang malam pertengahan bulan Sya‘ban, Malaikat Maut ‘alaihis salām mencatat setiap orang yang akan meninggal dari bulan Sya‘ban sampai Sya‘ban berikutnya. Sungguh seseorang masih berbuat zalim dan berbuat dosa, menikahi para perempuan dan menanam pepohonan, padahal namanya telah dicatat dari golongan orang-orang hidup ke golongan orang-orang mati.
Dan tidak ada satu malam pun setelah Lailatul Qadar yang lebih utama daripada malam pertengahan bulan Sya‘ban.”
وحكمة تخصيص هذه الليلة بذلك النسخ : هو الترغيب والترهيب ، فيرغب المكلف قبل مجيتها في الخير ، ويرهب من الشر ، ويجتهد فيها بالطاعة عسى الله تعالى أن يكتب في تلك الليلة سعادته .
وكذلك يكون حاله بعد مرورها ؛ خشية أن يكون كتب فيها من أموات تلك السنة فيستعد للقاء الله تعالى ؛ هذا شأن أولي التوفيق
Dan hikmah dikhususkannya malam ini dengan adanya pencatatan tersebut adalah untuk memberi dorongan dan peringatan. Maka orang yang dibebani kewajiban terdorong sebelum datangnya malam itu untuk berbuat kebaikan, dan merasa takut dari perbuatan buruk, serta bersungguh-sungguh di dalamnya dengan ketaatan; semoga Allah Ta‘ala menuliskan kebahagiaannya pada malam tersebut.
Demikian pula keadaannya setelah malam itu berlalu, karena khawatir ia termasuk orang-orang yang dituliskan sebagai orang mati pada tahun tersebut, sehingga ia bersiap-siap untuk bertemu Allah Ta‘ala. Inilah keadaan orang-orang yang mendapatkan taufik.
Dan disebutkan dalam Tuhfah al-Ikhwān: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh kaum muslimin pada malam tersebut, kecuali dukun atau penyihir, atau orang yang bermusuhan, atau pecandu khamr, atau orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
(ويسن إحياء هذه الليلة ؛ روى الأصفهاني في الترغيب ) عن معاذ بن جبل قال : رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم : « من أحيا الليالي الخمس .. وجبت له الجنة : ليلة التروية ، وليلة عرفة ، وليلة النحر ، وليلة الفطر ، وليلة النصف من شعبان
قال بعضهم : ( فضل رجب في العشر الأول ؛ لأجل فضل أول ليلة منه ، وفضل شعبان في العشر الأوسط ؛ لأجل ليلة النصف منه ، وفضل رمضان في العشر الأخيرة منه ؛ لأجل ليلة القدر
Disunnahkan menghidupkan malam ini. Al-Ashfahani meriwayatkan dalam at-Targhib dari Mu‘adz bin Jabal, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menghidupkan lima malam, maka wajib baginya surga: malam Tarwiyah, malam ‘Arafah, malam Nahr, malam Idul Fitri, dan malam pertengahan bulan Sya‘ban.”
Sebagian ulama berkata:
“Keutamaan bulan Rajab terletak pada sepuluh hari pertamanya, karena keutamaan malam pertamanya; keutamaan bulan Sya‘ban terletak pada sepuluh hari pertengahannya, karena malam pertengahannya; dan keutamaan bulan Ramadhan terletak pada sepuluh hari terakhirnya, karena Lailatul Qadar.”
Dari berbagai penjelasan tersebut, Nisfu Sya‘ban tidak dimaknai sekadar sebagai malam penuh ritual, melainkan sebagai malam kesadaran. Ia menghadirkan harapan melalui terbukanya pintu ampunan Allah, sekaligus peringatan tentang dekatnya ajal dan keterbatasan hidup manusia. Oleh karena itu, sikap yang tepat dalam menyambut Nisfu Sya‘ban adalah membersihkan hati dari permusuhan, menjauhi dosa-dosa yang menghalangi rahmat Allah, serta menghidupkan malamnya dengan ketaatan sesuai kemampuan, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mencari hal-hal yang tidak berdasar. Dengan demikian, Nisfu Sya‘ban menjadi momentum untuk menata ulang diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, dan melangkah ke hari-hari berikutnya dengan hati yang lebih bersih dan arah hidup yang lebih lurus.
Sumber Rujukan:
- Kanz an-Najāḥ wa as-Surūr fī al-Ad‘iyah al-Ma’tsūrah
- Tuḥfah al-Ikhwān
Oleh : Mujibburohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan