Haul Masyayikh & Nuzulul Qur’an di Andalusia: Menghidupkan Warisan Ulama

Haul Masyayikh & Nuzulul Qur’an di Andalusia: Menghidupkan Warisan Ulama

Banyumas, (20 Maret 2025 / 21 Ramadhan 1446 H) – Aula Pusat Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia dipenuhi suasana khidmat dalam acara Peringatan Nuzulul Qur’an dan Haul Nyai Hafshoh Hisyam, Syaikh Muhammad Al-Maliki, Syaikh Zubair Dahlan, dan Kiai Idris Bin Umar. Acara ini dihadiri oleh KH. Zuhrul Anam Hisyam, Ibu Nyai Rodhiyah Ghorro Maemun Zubair, keluarga ndalem, para asatidz, peserta Thoriqoh Naqsyabandiyah, serta seluruh santri putra-putri Andalusia. Dalam sambutannya, KH. Zuhrul Anam Hisyam mengenang keempat tokoh tersebut , mengisahkan perjuangan dan keberkahan yang mereka tinggalkan.

Nyai Hafshoh Hisyam: Waliyah yang Menopang Keilmuan

Gus Anam mengenang ibundanya, Nyai Hafshoh Hisyam, sebagai sosok yang bukan hanya mendidik sepuluh anak yang banyak menjadi tokoh, tetapi juga pendiri pondok pertama di Tanah Leler.

“Beliau sosok orang yang kaya di zamannya, punya sawah ±60 hektar, tapi hidupnya penuh ibadah. Suka qiyamul lail, puasa, dan shalat Nisfu Sya’ban 100 rakaat,” tutur Gus Anam.

Mbah Hisyam Zuhdi, suaminya, pernah menyebut Nyai Hafshoh sebagai wali wadon karena keteguhan dan kezuhudannya. Bahkan, ketika usia tua tak lagi mampu berpuasa, beliau menggantinya dengan Manaqiban Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Dengan nada sendu, Gus Anam mengenang bagaimana Mbah Hisyam sering kekurangan uang, hingga pernah membeli Paramex dengan utang kepada santrinya.

Syaikh Zubair Dahlan: Kezuhudan yang Tak Pudar

Gus Anam melanjutkan kisah Mbah Zubair Dahlan, ayah KH. Maimoen Zubair. “Sebenarnya, Mbah Hisyam ingin mondok ke beliau, tapi tidak kesampaian. Akhirnya saya yang mondok ke putranya, Mbah Moen,” ujarnya sambil tersenyum.

Dengan canda, beliau menambahkan, “Saya hanya empat tahun di Sarang, tapi alhamdulillah pulangnya bawa putri Mbah Moen, Bu Nyai Rodhiyah,” yang disambut tawa hadirin.

Mbah Moen pernah berpesan agar Tanah Leler tetap dihidupkan. “Kalau sudah mati, menghidupkannya kembali sulit,” kata beliau, seraya memberi wirid khusus dan pesan agar setiap jumlah santri mencapai 100, 300, dan 1000, dilakukan ziarah ke Sunan Gunung Jati dengan puasa mutih dan patigeni.

Mbah Zubair dikenal sangat zuhud. “Pecinya lusuh, dan kalau tahlilan, berkatnya dibawa sendiri, tidak mau diantarkan santri,” tutur Gus Anam.

Kiai Idris Bin Umar dan Sayyid Muhammad Al-Maliki

Haul juga memperingati Kiai Idris Bin Umar, kakek dari Bu Nyai Mastiah, istri Mbah Moen, yang mendirikan pondok putri pertama di Sarang.

Sementara Sayyid Muhammad Al-Maliki, ulama besar Mekah, dikenal karena keluasan ilmunya, nasabnya yang mulia, serta kedermawanannya. “Saat Ramadan, beliau membagikan 500 riyal kepada setiap santri—kalau dikonversi, sekitar Rp2 juta per orang,” kata Gus Anam.

Beliau juga dikenal sebagai ulama Ahlussunnah yang berani menentang paham yang berbeda dengan kerajaan Saudi. “Pernah dipanggil Raja Fahd, beliau datang membawa mori kafan, siap jika dihukum mati. Tapi justru, Raja Fahd yang memberikan penghormatan,” jelasnya.

Pesan Gus Anam: Menjaga Nama Baik Pondok dengan Akhlak Mulia

Di penghujung acara, Gus Anam menyampaikan pesan penting kepada para santri yang akan pulang untuk liburan Ramadan. Dengan penuh ketegasan, beliau mengingatkan bahwa setiap santri membawa nama baik pondok dalam setiap langkahnya.

“Ingat, kalian adalah representasi atau cerminan dari Andalusia. Berbuat baiklah kepada orang tua, teman, dan saudara. Kampanyekan nama pondok dengan menunjukkan akhlak yang mulia,” pesannya.

Acara pun ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bahwa keberkahan para ulama harus senantiasa dijaga dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

#balaghramadhan #ngajipasaran #santrilelermendunia #bankindonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JURNALISTIK MA’HAD ALY ANDALUSIA

Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia telah mempublish Website “Kompas walimah”

Komunitas penerjemah, Syu’aro dan wadah literasi mahsantri

merupakan placement bagi karya digital Mahasantri Ma’had Aly Andalusia

dikelola Tim Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia

MA’HAD ALY ANDALUSIA

Lembaga pendidikan tinggi  pesantren yang terletak di Jln. Ditowongso, Dsn. Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 53172

Didirikan Oleh Syaikuna KH. Zuhrul Anam Hisyam

الأخبار اليومية