Lantai tiga gedung tahfidz itu adalah wilayah tak bertuan yang kami sebut “loteng”. Di sanalah, di antara jemuran yang melambai dan sudut-sudut beton yang dingin, para penghafal Al-Qur’an biasanya mencari “pewe” (posisi paling enak) untuk menyepi. Malam itu, aroma teh hangat menguar, berusaha mengusir jenuh yang seringkali datang tanpa diundang saat baris-baris ayat sedang diikat dalam ingatan.
Sabtu malam, udara merayap masuk dengan ujung-ujung yang dingin. Aku duduk menyandar, menyeruput teh dan mengunyah camilan ringan, untuk merayakan waktu luang saat ini karena esok hari libur. Di atas sana, lautan bintang berpendar, seolah-olah langit sedang menumpahkan sekotak berlian di atas hamparan beludru hitam.
Namun, kedamaian itu terusik. Di balik sekat tembok kecil yang berbatasan langsung dengan kekosongan, aku melihat sebuah siluet. Ia diam, mematung, merenung di titik yang sangat berbahaya. Satu gerakan ceroboh, satu lamunan yang terlalu dalam, maka kaki itu akan kehilangan tumpuan dan ia akan terjun bebas menuju kegelapan.
Itu Sofyan, adik kelasku.
Aku mendekat dengan langkah seringan kapas. Aku tak ingin mengejutkannya, sebab kejutan saat ini dan di tempat ini bisa berarti petaka.
“Mau teh hangat?” bisikku lirih.
Ia tak bergeming. Dunianya seolah terkunci di balik tembok itu.
“Atau sedikit cemilan pedas asin, mungkin?” tanyaku lagi, mencoba memancingnya kembali ke realita.
“Enggak, makasih,” jawabnya singkat. Suaranya datar, tanpa emosi.
Aku tidak menyerah. Aku duduk di sampingnya, dengan hati-hati menyesuaikan diri di tempat yang sempit itu. “Sof,” ujarku untuk memulai bercerita, suaraku mengalir tenang mengikuti angin malam. “Dulu, sebelum kamu tahu tempat ini, akulah orang pertama yang menduduki beton ini.”
Ia masih diam, tapi aku tahu dia mendengarkan.
“Orang-orang menganggapku aneh. Ada yang bilang aku bakal disenggol setan kalau duduk sendirian di sini. Tapi aku tidak peduli. Terkadang, kita butuh ruang di mana ocehan manusia tidak bisa menjangkau kita. Tapi aku tahu, Sof… yang paling berisik sebenarnya bukan suara orang lain. Yang paling melelahkan adalah saat isi kepala kita sendiri saling bertarung, liar, dan tak terkendali.”
Aku menatap hamparan lampu kota di kejauhan. “Masalah kita mungkin berbeda. Aku tidak bisa menjanjikan solusi instan. Tapi esok kita masih punya harapan untuk sehat, untuk lari pagi di hari libur, atau sekadar main futsal dengan yang lain. Kita harus tetap berada di tempat yang aman, Sof. Jangan biarkan kelalaian atau egoisme membuat kita celaka dan merepotkan banyak orang.”
Sofyan menoleh. Sorot matanya yang kosong perlahan mulai terisi kembali. Lamunannya buyar.
“Dulu, seseorang pernah membawaku ke tempat tinggi,” kataku dengan nada penuh antusias yang tiba-tiba. “Dia menyuruhku bicara. Aku bingung, padahal aku lagi ingin diam. Lalu dia mencontohkannya.”
Aku mengambil napas dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan udara malam yang tajam, lalu…
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”
Aku berteriak sekeras mungkin ke arah langit. Sofyan tersentak, lalu sedetik kemudian, ia mulai tertawa.
“Ayo, tunggu apa lagi? Ikuti aku!” ajakku.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”
Ia berteriak. Suaranya pecah, mengeluarkan segala rahasia dan sesak yang selama ini ia kunci rapat di dalam dada. Kami berteriak bergantian hingga tenggorokan kami terasa panas, hingga gema teriakan itu memantul di dinding-dinding gedung. Kami tertawa puas, menertawakan kekonyolan kami sendiri di bawah saksi bintang-bintang.
Namun, tawa itu mendadak beku.
Thok… thok… thok!
Suara kentongan warga bersahutan dari arah bawah. Suasana tenang malam itu berubah menjadi hiruk-pikuk. Kerumunan orang mulai terlihat berkumpul. Sontak, aku dan Sofyan tersadar dari euforia. Kami langsung melompat masuk ke balik tembok, bersembunyi di kegelapan loteng.
Dari celah tempat kami mengintip, aku melihat Pak Nas dan Pak RT berjalan tergesa-gesa menuju sumber suara. Ternyata, teriakan “katarsis” kami dianggap sebagai sinyal bahaya oleh warga. Tanpa banyak bicara, kami segera turun, menyelinap menuju kamar dalam kegelapan.
Pukul 00.00 dini hari. Kamar terasa sunyi. Kami berpura-pura tidur dengan jantung yang masih berdegup kencang. Tak lama kemudian, sebuah ketukan keras menghantam pintu.
Aku bangkit dan membukanya. Sosok Pak Nas berdiri di sana dengan wajah serius.
“Siapa tadi yang teriak-teriak malam-malam?” tanyanya tegas.
Aku tak ingin berbohong. Aku bangkit sepenuhnya dari tempat tidur dan mengaku. Pak Nas kemudian memberi nasihat panjang lebar tentang bagaimana teriakan iseng kami telah membuat warga siaga satu karena mengira ada maling.
“Kenapa kamu teriak-teriak tadi?” tanya Pak Nas lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lunak namun menuntut penjelasan.
Aku tersenyum tipis, masih merasa sedikit geli sekaligus lega melihat Sofyan yang kini tampak lebih “hidup” di tempat tidurnya.
“Maaf, Pak. Teriakanku memang membuat kegaduhan, dan saya sungguh tidak bermaksud begitu,” jawabku tenang. “Saya hanya sedang mencoba menenangkan seorang teman yang sedang melewati masa sulit. Saya hanya ingin menghiburnya, dengan cara yang sedikit… berbeda.”
Seni Memeluk Tanpa Menyentuh
Ada saat-saat di mana kata tanya adalah sembilu yang paling tajam. Ketika seseorang sedang terjebak dalam labirin pikirannya sendiri, dihujani beruntun pertanyaan “Kamu kenapa?”, “Ada masalah apa?”, “Cerita lah padaku” hanya akan menjadi beban baru yang menuntut energi untuk menjawab, sementara untuk bernapas saja ia sudah merasa payah. Ia tidak sedang butuh diinterogasi, ia hanya sedang kehilangan arah.
Dalam keheningan yang menyesakkan itu, pertolongan sejati sering kali datang tanpa tanda tanya. Ia datang dalam bentuk kehadiran yang sederhana dengan sebuah tawaran teh hangat yang diletakkan tanpa suara, atau sebuah ajakan melakukan kekonyolan kecil yang meruntuhkan tembok keseriusan dunia.
Terkadang, cara terbaik untuk menarik seseorang keluar dari lubang gelapnya bukanlah dengan menyulut lampu senter tepat ke matanya, melainkan dengan duduk di sampingnya dalam gelap, lalu mulai berkisah tentang luka-luka kita sendiri.
Kita bercerita bukan untuk pamer duka, melainkan untuk membisikkan sebuah pesan tanpa kata:
“Lihatlah, aku pun pernah hancur di titik ini, dan kamu tidak sedang tersesat sendirian.”
Sebab pada akhirnya, kepedulian bukan tentang seberapa banyak kita tahu rahasianya, tapi tentang seberapa nyaman kita menemaninya tetap dalam diam, hingga ia cukup kuat untuk kembali bersuara.
Oleh: Fauzan Alfatih
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan