Mahad Aly Andalusia – Berbicara mengenai karomah atau keramat maka pasti akan menyebut-nyebutn juga tentang kharisma. Keduanya saling berkelindan. Kharisma (karisma) dalam KBBI didefinisikan dengan keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya. Sedangkan karomah (keramat) diartikan sebagai suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (Terkait orang saleh atau orang yang bertakwa). Suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (Terkait barang atau tempat suci).
Baik karomah maupun kharisma sama-sama merupakan kemampuan luar basa yang muncul dari sosok yang dijadikan pedoman dan panutan. Kharisma lebih ke arah kepribadian, sedang karomah lebih ke arah kemampuan yang dipunyai sosok tersebut. Maka ketika kedua kata ini disematkan pada sosok ulama rasanya menjadi tidak mengada-ada.
Abah Hisyam Zuhdie, sebagai seorang pengasuh tunggal Pondok Leler di masanya, maka kharisma Abah Hisyam terpancar secara emosional dan mengikat erat pada jiwa setiap santri yang diasuhnya. Menurut pengakuan para alumni, mereka sangat takut dan segan apabila harus berpapasan dengan Abah. Jangankan untuk berpapasan,untuk melihat wajah Abah Hisyam saja mayoritas santri seperti tidak mempunyai daya.
Sudah menjadi rutinitas Abah setiap ada waktu luang dan kebetulan tidak ada tamu yang sowan ke kediamannya, maka Abah selalu ke kebun yang tidak seberapa jauh dari lokasi pondok. Dengan di temani satu atau dua orang santri maka Abah bertandang ke kebun. Dan sudah tidak mengherankan, apabila Abah kebetulan lewat samping asrama menuju ke ladang maka semua santri menepi menghindar agar tidak terlihat atau berpapasan. Namun, dari celah tembok asrama itulah para santri baru berani mengintip sepuas-puasnya, memandang wajah beliau yang berwibawa dan menentramkan hati.
Dalam berbusana, Abah Hisyam tidaklah bermewah-mewah. Bahkan hanya mengenakan kaos oblong putih dengan sehelai kain sarung lusuh dan agak nyincing setengah betis. Bila jalan-jalan di luar, beliau sering tanpa alas kaki, namun kopiah putihnya tidak pernah lepas, meski ketika beliau berkebun. Sosoknya tak ubahnya figur kiai kuno yang kharismatik dan mahir dalam berbagai disiplin ilmu agama meski dalam penampilannya sarat dengan kesederhanaan dan kebersahajaan.
Akibat kuatnya karisma Abah Hisyam, kerap terjadi, ketika datang seorang santri dengan suatu keperluan lalu sowan ke dalem Abah Hisyam, namun setelah dipersilakan masuk dan duduk di hadapan beliau, sang santri jadi tak mampu berkata apa-apa. Hanya duduk terdiam karena sangat segannya. Sehingga Abah yang akhirnya memulai percakapan. Malah sering kali tujuan santri yang sowan itu lebih dulu disinggung oleh Abah. Meski begitu, Abah tetap berbasa-basi dalam tutur kata dan bersikap hati-hati. Meski pada aslinya beliau sudah mengerti hajat dari santri itu, namun beliau tidak langsung menebaknya.
Kecintaan santri Abah Hisyam terhadap kiainya memang banyaklah cara yang dilakukan agar rasa cinta itu terobati. Dari penuturan berbagai alumni di masa Abah, hal yang banyak dilakukan yaitu dengan cara mencuri pandang ke wajah Abah Hisyam ketika mengajar. Sebab setiap kali beliau mengajar sudah bisa dipastikan sikap beliau khusyuk dan pandangannya selalu ke arah baris-baris korasan kitab yang dibaca. Pada saat itulah para santri kerap memandang wajah Abah sepuas-puasnya, meski kadang diselingi rasa takut kalau-kalau pada saat yang sama Abah mengangkat muka untuk menerangkan dan bertemu pandang dengan mereka. Berikut beberapa cerita karomah beliau yang dikutip dari buku biografi mbah hisyam zuhdie.
Dul Aziz
Dul Aziz itu rajanya jin di sekitar Pondok Leler. la Muslim. Kalau ada santri kerasukan Dul Aziz, hampir bisa dipastikan tidak bisa sembuh terkecuali oleh mbah Hisyam sendiri. Bagaimana tidak, ia hapal semua rapalan-rapalan doa pengusir jin. Ini cukup membuat repot.
Suatu ketika, Dul Aziz merasuki Mbah Hasyim (adik Mbah Hisyam) semasa beliau kecil.
“Kurang ingat betul tempatnya, kalau tidak salah ingat di Powastren (mushola Timur Pondok Leler),” ujar H. Mukhtar, sesepuh desa Randegan sekarang.
Hasyim kecil memang usil. “la kadang suka berjalan tanpa celana.” Ujar H. Mukhtar terkekeh.
Entah awalnya membuat huru hara apa, tiba tiba mbah Hasyim teriak sendiri. Kadang tertawa.
“Hahahaha,” terdengar keras suara Hasyim tertawa.
Orang orang heran. Tak tahu apa penyebab pastinya Belakangan mereka tahu mbah Hasyim kesurupan Dul Aziz Dalam sekejap Mbah Hasyim sudah dikerumuni banyak orang. Dibacakan Fatehah, ikut menirukan Fatehah. Dibaca ayat kursi, ikut membaca ayat kursi. Masyarakat duduk lesu tak menemukan solusi.
Akhirnya mbah Hisyam dipanggil. Beliau datang sambil memandang tajam ke adiknya, Hasyim.
“Sopo koe?,” tegas Mbah Hisyam.
“Dul Aziz.” Jawabnya sambil menunduk.
“Metuu!!” Bentak Mbah Hisyam lagi
“Nggih.”
Lessss. Mbah Hasyim lantas tak sadarkan diri. Dul Aziz sudah keluar.
Yang repot itu kalau Dul Aziz merasuki santri santri. Mau panggil Mbah Hisyam tidak berani, mau diobati, Dul Aziz memang bukan level santri.
Pernah ada santri putri tiga hari jadi obyek keisengan Dul Aziz. “Sudah tak karuan kondisinya. Dul Aziz betul betul tak mau keluar.” terang H. Mukhtar.
“Ya itu, mau matur ke Mbah Hisyam tak ada yang berani Akhirnya diikat pakai tali karena terus meronta.”
Suatu sore santri itu mengamuk hebat. Puluhan santri kewalahan. Meronta tak karuan, barang di sekitarnya jadi obyek tendangan dan pukulan.
Mungkin tak tahan, salah seorang santri senior membisiki sesuatu ke telinga santri yang kesurupan. Entah bicara apa, tiba tiba
“Brruukk,” santri yang kesurupan lemas tak sadarkan diri.
Akhirnya Dul Aziz mau keluar. Sementara kesadarannya berangsur pulih, perlahan ia mulai bisa mengenali teman temannya. Ia juga sudah mau makan dan minum seperti biasa.
Para santri saling memandang. Kenapa bisa segampang itu?
“Apa yang kau bisikkan ke telinganya?,” salah seorang tak tahan ingin tahu.
“Aku bohong. Aku bilang Mbah Hisyam datang,” terangnya sambil meringis.
Malaikat Shalat
Mbah Hisyam itu kalau shalat selalu akhir waktunya. “Mepet mepet waktu setelahnya,” menurut Kyai Syaibani. Shalat subuh sudah mau masuk isyråq, shalat maghrib mepet Isya, Ashar mau masuk waktu maghrib. Isya biasanya bahkan jam setengah 10 malam.
“Barangkali yang dikejar itu masuk waktu mustajabnya doa.” Husnudzan beliau. Mayoritas santri juga husnuzan dengan kebiasaan Abah yang satu ini.
Ada seorang santri menaruh syak terhadap kebiasaan Abah Hisyam tersebut
“Masak Kyai kok shalatnya selalu molor,” batinnya
Kitab yang ia pelajari nyatanya memang mengatakan waktu fadilah adalah awal waktu. Mbah Hisyam tentulah tahu hal ini. Mengapa ia tak menyegerakan shalat bahkan malah mengakhirkan waktunya? Pertanyaan ini terus bergemuruh di dada santri tersebut.
Suatu sore, menjelang Mbah Hisyam berangkat Jama’ah Ashar, ia berniat untuk bertanya perihal pertanyaan pertanyaan yang ia simpan sejak lama. Ia menyengaja menunggu di depan ndalem, seperti santri yang akan sowan seperti biasa.
Mbah Hisyam keluar langsung menggandeng tangan si santri. Jari telunjuk Mbah Hisyam diarahkan ke langit.
“Aku ndeleng ewonan wong pada shalat nang langit. Kaya malaikat, rupane putih putih (aku lihat ribuan orang sedang shalat di langit, mungkin saja malaikat, berwarna putih putih).”
Tak berkata apa apa, Mbah Hisyam lalu berjalan ke arah masjid untuk shalat Ashar bersama santri
“Menawa Mbah Hisyam shalat ngepasi sing nang langit kae pada shalat (Mungkin saja Mbah Hisyam shalat mencocokkan waktu dengan orang putih putih yang shalat di langit itu).”
nyatanya hanya beliau saja yang tahu rahasia tersebut . dan barangkali alasan itulah yang membuat pondok pondok di leler agak akhir waktu sholatnya.
Bertanya ke Imam Ghazali
Dahulu Mbah Hisyam mempunyai pengajian rutin Ihya’ Viêm al-Din anggitan Imam Ghazali. Kitab wajib yang dibaca di pesantren pesantren besar untuk level santri senior atau masyarakat lanjut usia. Pengajian diikuti oleh ratusan santri dan masyarakat sekitar. Mbah Hisyam sendiri dalam laku keseharian kelihatan sangat mengamalkan kitab Ihya’, jadi tidak cuma dikaji.
Saat mengaji Ihya, Mbah Hisyam mendapati satu redaksi kalimat yang musykil. Beliau diam lama. Dan berkali kali juga geleng geleng kepala.
“Sek aku tak takon, tiru Nasrullah yang ikut mengaji
Santri yang ikut mengaji menunggu lama
Mbah Hisyam masuk aula pengajian kembali dengan tersenyum. Tampaknya makna redaksi yang susah tersebut sudah diketahui. Mbah Hisyam lantas mengatakan,
“Imam Ghazali ngendiko maknane koyo ngene (Imam Ghazali mengatakan, maknanya seperti ini).”
“Berarti beliau masuk ke kamar sedang dialog dengan muallif kitab,” yakin Nasrullah
Dikutip dari Buku Biografi Mbah Hisyam Zuhdie
- UKM Jurnalistik dan Literasi Andalusia Cetak Karya Kedua, Buku Tafsir 234 Halaman Resmi Terbit
Post Views: 81 Banyumas, 4 Juni 2026 — UKM Jurnalistik dan Literasi Ma’had Aly Andalusia kembali menorehkan prestasi di bidang literasi dengan menerbitkan buku ber-ISBN kedua berjudul Meniti Jembatan Tafsir: Antologi Artikel Tafsir Lewat Jalur… - Pondok Bukan Tempat Pelarian atau Lembaga Rehabilitasi, Orang Tua Wajib Paham!
Post Views: 126 Pondok pesantren merupakan tempat yang sangat mulia. Di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan yang sangat penting. Lebih dari itu, pondok pesantren tidak hanya menjadi sarana untuk belajar agama, tetapi juga menjadi tempat pembentukan… - Ikhtibar Semester Genap Ma’had Aly Andalusia Tahun Akademik 2025–2026 Resmi Berakhir
Post Views: 184 Banyumas — Ma’had Aly Andalusia resmi menyelesaikan rangkaian Ikhtibar Semester Genap Tahun Akademik 2025–2026 pada Kamis, 11 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak 1 Juni 2026 tersebut diikuti oleh seluruh mahasantri sebagai… - Ponpes Andalusia Gelar Shalat Idul Adha dan Kelola 9 Ekor Hewan Kurban.
Post Views: 342 Banyumas, 27 Mei 2026—Suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan begitu terasa di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Leler. Pada perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 H, tepat pada Rabu pagi, halaman SMP… - Bedah Buku Pengetahoean tentang Karang-Mengarang dan Jurnalistik Karya KH. Zainuddin Fananie
Post Views: 302 Sembilan puluh dua tahun yang lalu, tepatnya pada 1 Januari 1934 di Padang, sebuah manuskrip penting lahir dari buah pikiran seorang intelektual muda muslim yang kelak dikenal sebagai salah satu dari Trimurti…
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id.
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
#santrilelermendunia #ponpesattaujieh2











Tinggalkan Balasan